Jumat, Juni 20, 2008

When i'm bored

Guest where i'm at? Yup. Gw lagi di rumah, ngisi blog dari hape sambil dengerin Indonesian Idol. Apa yang membuat gw segitu kurang kerjaannya? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena gw B.O.S.A.N. Yap. Gw bosen. What to do.. What to do..

10 Things to do when i'm bored :
1. Hunting komik dan dibaca seharian. Entah itu minjem dirental komik, numpang baca di tempat rental komik seharian, beli komik di indomaret terdekat (amat sangat jarang dan biasanya cuma pas gw lagi banyak duit), baca komik onlen.
2. Dengerin musik. Bisa sambil baca, sambil tidur2an ato sambil kerja ato ngapain kek pas bosen ya dah pasti langsung stel musik yang asik dan upbeat. I luv Tompi dan akustikan kek Depapepe ato ben2 indo yg musiknya cocok di kuping gw. Fyi, gw GA suka dengerin lagu Jepang, Korea ato Mandarin karna ga ngerti. :|
3. Onlen. Entah itu gw kelayapan ke IndoHogwarts buat main RPG (bosen ga bosen tujuan gw onlen biasanya cuma buat ngerep di IH :| ) ato browsing2 ga jelas baca2 berita ato info2 yang macem2 di Blog2 ato forum2 kek lautanindonesia.com ato kaskus.com (yang kedua itu gara2 diracunin Haruhi wkwk), baca komik onlen, dengerin radio onlen, nuntun youtube, hunting foto buat bikin siggy di IH, dst. (DOH! Gw bener2 mesti ganti paket spidi dari time based ke personal 1 Gb. ~.~)
4. Nuntun tipi. I luv nuntun tipi. Bisa nuntun Oprah, gosip (Insert! Awawww), vklip di antv, ben2 yg ada pas live show, program2 ochannel, metrotv, jaktv (kadang2), transtv ama tv7 (film2nya bgs2 bo! Smallville! >_<)
5. Tidur. Udah mentok ga bisa ngapa2in ato ga mood ngapa2in ya tidur lah. Ngapain lagi?
6. Shopping. Ada duit gw blanja abis2an, ga ada duit gw blanja cemilan di warung sebelah rumah. (yang penting belanja!)
7. Sms-an ato langsung aja skalian ngumpul ama temen2ku dari 3 kelompok temen. Dari DD, IH dan myfren (Ti, Uchan, Meechan, Jun, my sist).
8. Ngobrol ma my sist gimanapun caranya (nelp, dtg k kostannya, YM-an, sms-an >> c'mon jaman kapan neh?).
9. Makan. Ngemil is a must. Terutama sambil baca. Baca komik, novel, mpe majalah n koran rasanya ga afdol klo ga sambil ngemil. Nuntun, dgr musik, jalan2 harus sambil ngemil dunks hoho..XD
10. Nglamun. Gw tukang ngayal tingkat atas. I know, i know. It's a bad habit. Tapi gimana ya? Dah kbiasaan :-"

Well, that's me. What about you?

Kamis, Juni 19, 2008

My Best Post -Fahrenheit Badfelt-

Suara derap langkah yang sangat familiar membuat Farren bergidik. Datang lagi. Orang itu datang lagi. Matanya menatap nanar pintu kayu bobrok yang setiap saat akan terbuka. Di sekitarnya anak-anak yang lain juga melakukan hal yang sama, menatap pintu kayu tua reot itu dengan pandangan seakan-akan pintu itu akan berubah menjadi monster dan memakan mereka hidup-hidup. Dari sepuluh anak yang duduk gemetaran di tempat tidur yang berderet di gudang pabrik sepatu yang kumuh itu hanya satu anak yang dilirik oleh Farren. Alan. Anak berkulit hitam dan bertubuh paling kecil dari seluruh anak yang bekerja di toko sepatu itu. Hanya anak itu lah yang dipedulikan oleh Farren karena hanya dialah yang cukup peduli untuk menghibur dirinya disaat dia sedang menangis ketakutan di sudut pabrik. Selama Farren bekerja di pabrik itu mereka berdua telah menjadi begitu dekat sampai-sampai dia menganggap Alan seperti adiknya sendiri.

[b]BLAAKK!![/b]

Pintu reot itu menjeblak terbuka. Membuat engsel berkarat yang menyangga pintu itu berkeriat keras. Mata semua anak-anak di dalam ruangan itu membulat ketakutan. Orang itu datang lagi. Tidak ada yang tahu namanya. Seseorang memanggilnya Giant karena ukuran badannya yang besar seperti raksasa. Pria besar menakutkan itu mempunyai kelainan yang aneh. Dia akan mendekati salah satu dari anak-anak yang bekerja di pabrik lalu membawa mereka dengan paksa. Setiap anak yang dibawa oleh pria besar itu tidak ada yang sama lagi. Mereka semua berwajah pucat dan menggigil ketakutan. Tidak ada yang bicara apa persisnya yang dilakukan Giant pada mereka. Semua tahu dan semua bungkam. Ada hal-hal yang terlalu mengerikan untuk dibicarakan.

Farren belum pernah dibawa oleh si raksasa karena dia baru beberapa minggu bekerja di pabrik itu. Begitu juga dengan Alan. Sebagian besar anak-anak yang didalam ruangan gudang yang dipakai mereka untuk tidur itu sudah diajak oleh Giant pergi meski sebagian ada pula yang belum. Pada malam hari sebelum tidur, kelelahan setelah bekerja dengan tangan-tangan mungil mereka, ketakutan selalu merebak diantara mereka apakah Giant akan datang ke gudang untuk mengambil salah satu dari mereka. Malam ini Giant datang. Pria besar menjijikkan itu mengamati satu persatu anak-anak yang sedang duduk di tempat tidur masing-masing dengan wajah pucat. Matanya berhenti di salah satu tempat tidur. Wajah Farren memucat. Tangan si raksasa mencengkeram tangan mungil mangsanya.

”Tidak... Jangan... ALAN!”

Farren terbangun dari pingsannya dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya. Pakaian butut yang dipakainya menempel di setiap lekuk tubuh kurusnya. Matanya berputar liar melihat orang-orang yang ada di sekitarnya. Siapa mereka? Tidak satupun dari orang-orang itu yang dikenalnya walaupun mereka semua jelas seumuran. Dengan bibir kering terkelupas dan tenggorokan kering, Farren berusaha berbicara. ”In..ini.. dimana?”

[quote]"Terlalu mahal, Tuan? Bagaimana dengan ini?" Destiny menyodorkan sebuah tongkat sihir. "Kayu Ivy dengan sulur Jerat Setan? Panjangnya 25,4 cm dan harganya hanya 7 galleon 5 sickle. Yah, walaupun sedikit bengkok. Anda mau?”[/quote]

Farren mengambil tongkat sihir yang diberikan oleh gadis penjaga toko itu. Tongkat sihir itu jauh lebih murah. Hanya 7 Galleon 5 Sickles tapi dia bisa melihat goresan di kayunya yang tidak sempurna dan bentuknya yang agak bengkok. Seperti segala sesuatu dalam hidupnya, bahkan tongkat sihirnya pun murah dan tidak bermutu. Apakah harga dirinya juga murah? Farren belum memutuskan hal itu. Hanya bayangan-bayangan masa lalunya yang terus terbayang di matanya yang redup.

Tongkat sihir itu terasa seperti mobil-mobilan kayu yang dulu pernah dibuatnya berdua dengan Alan. Murah tapi terasa begitu penting. Kayu yang digunakan Alan dan Farren saat itu adalah sisa-sisa kayu pallet yang digunakan untuk mengemas sepatu yang siap dikirimkan. Farren dapat melihat senyuman diwajah tirus Alan dan merasakan dirinya membuat gerakan aneh di bibirnya. Yeah, dulu.. entah kapan.. Farren pernah tersenyum. Hanya Alan yang bisa membuatnya melakukan hal yang paling sederhana dan manusiawi itu. Tersenyum.

Barang butut dan bekas bukanlah hal yang baru dalam hidup Farren. Sepertinya seumur hidupnya hanya ditakdirkan mempunyai barang-barang yang hina dan paling tidak diinginkan oleh orang. Barang sisa yang tidak diinginkan semua orang. Persis seperti dirinya. Anak hina yang tidak diinginkan siapapun. Kata-kata yang selalu diucapkan para orang dewasa padanya hampir setiap hari. Anak hina tidak berguna. Yang hanya pantas tidur di atas kardus bekas dan minum dari air sisa minum anjing. Seekor anjing pun masih lebih patut untuk disayangi dan diperhatikan daripada dirinya. Paling tidak Farren belajar satu hal. Dia juga tidak menginginkan siapapun. Anak laki-laki bertubuh kurus itu meraih kantung uangnya dan mengeluarkan sejumlah uang seharga tongkat sihirnya. Diserahkannya koin emas dan perunggu itu pada gadis penjaga toko tanpa ekspresi dan berjalan keluar dari toko tanpa menghiraukan siapapun.

Farren berjalan sendirian menyusuri jalanan lebar Diagon Alley. Jalanan itu penuh dengan orang-orang yang berbelanja. Kebanyakan adalah anak-anak yang berbelanja keperluan sekolah mereka di sekolah yang baru. Hogwarts. Sama seperti dirinya. Tapi sangat berbeda dengan dirinya. Mata coklat gelapnya menatap kosong pada anak-anak yang berjalan riang didampingi orangtua mereka masing-masing. Tertawa bahagia sambil menenteng barang belanjaan mereka. Wajah-wajah cerah secerah langit musim panas. Memuakkan.

Farren mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menemukan pasangan muda yang sedang menggendong bayi mungil mereka. Tersenyum bahagia dan penuh kasih sayang, baik pada pasangannya maupun pada bayi mereka. Hari yang penuh dengan kebahagiaan, eh? Dimana pun dia menengok hanya orang-orang yang tertawa bahagia dengan pancaran kebahagiaan di mata mereka. Saling bercakap-cakap dan bercanda tawa. Farren menatap kebahagiaan mereka semua dengan matanya yang kosong dan tanpa gairah hidup. Tertawa. Kapan terakhir kali Farren pernah tertawa? Rasanya seakan sejak dilahirkan, Farren belum pernah merasakan apa itu ‘tawa’, apa itu ‘kebahagiaan’.

Saat ini memang sedang musim panas tapi kehangatan yang dirasakan bocah lelaki itu di kulitnya tidak akan pernah sampai ke hatinya. Tangannya menarik kaus ketat yang menutupi hampir seluruh badan kurusnya. Kontras dengan orang-orang lain di sekitarnya yang mengenakan pakaian musim panas yang menunjukkan sebagian besar kulit mereka, Farren melakukan hal yang sebaliknya. Tidak boleh ada seorang pun yang dapat melihat kulitnya yang penuh dengan bekas luka cambukan dan sundutan rokok di sekujur lengan, dada dan punggungnya. Hal itulah yang selalu ditekankan oleh Helga, ibu tirinya yang membuat bekas-bekas luka itu di kulitnya. Saat orang lain mengenakan pakaian berbahan ringan yang menunjukkan kulit, hanya Farren yang harus berpanas-panas berpakaian tebal dan menutupi setiap jengkal kulitnya.

Langkahnya dipercepat ketika—lagi-lagi—dia melihat sekelompok anak laki-laki yang asik memilih mainan di toko lolucon. Mereka sibuk bercanda dan mengobrol dengan teman-temannya. Rasa perih menyelinap di lubuk terdalam hatinya teringat pada Alan, satu-satunya ‘teman’ yang pernah dimilikinya. Tidak ada lagi dan tidak akan pernah ada lagi. Farren berhenti di depan kaca etalase yang menampilkan penampilannya yang lusuh dan tidak terurus. Hina dan tidak diinginkan. Anak haram yang tidak layak menginjak bumi yang sama dengan orang-orang lain di dunia ini. Apakah dunia ini memang segelap itu? Paling tidak itulah yang dirasakan Farren. Seorang bocah berumur 11 tahun yang sudah merasakan penderitaan yang lebih berat dari orang-orang yang berseliweran di sekitarnya seumur hidup mereka. Sepasang bola mata yang sedang menatap bayangannya sendiri di kaca etalase toko itu sekosong hatinya.

Setetes air jatuh di pipinya. Mengalir di pipinya yang tirus dan langsung menetes di tanah berdebu Diagon Alley. Setetes demi setetes air berjatuhan. Membasahi kepalanya yang terasa panas dan bajunya yang basah oleh keringat. Hujan. Awalnya hanya tetesan rintik-rintik kecil hujan yang semakin lama semakin banyak. Hujan semakin deras membasahi tanah berbatu Diagon Alley. Orang-orang di sekitarnya berlarian mencari tempat berteduh. Hanya Farren yang tetap berdiri di tempatnya. Hujan bukanlah apa-apa. Masih jelas diingatannya saat dia dipaksa memangkas rumput pekarangan rumahnya di saat hujan badai hanya karena Helga, ibu tirinya, tidak mau berada satu atap dengan dirinya di tengah hujan badai. Hujan tidaklah sebegitu menakutkan. Tidak menyakitkan. Tidak mematikan. Hanya air yang jatuh dari langit. Itulah yang diulang-ulangi Farren di dalam kepalanya secara berulang-ulang saat dia harus berteduh di sisi atap yang pendek di dekat gudang rumahnya di tengah hujan badai.

Berdiri di sana. Diam tak bergerak. Menatap sepasang mata yang kosong dan hampa. Matanya sendiri.

Langkah kakinya yang gontai kembali menuntunnya ke tempat perbatasan antara dunia sihir dan non sihir. Leaky Cauldron. Hiruk pikuk yang memenuhi pub kumuh itu saat pertama Farren menginjakkan kakinya di tempat itu kini sudah jauh berkurang. Suasana sudah kembali tenang dan sepi. Hanya beberapa orang terlihat sedang menyesap minuman mereka masing-masing. Meja-meja pub itu terlihat cukup penuh dengan anak-anak sekitar umurnya yang duduk sendirian ataupun beramai-ramai. Farren berjalan melewati meja-meja itu tanpa melirik orang-orang yang duduk di situ sedikitpun. Perutnya yang datar sudah bergemuruh dengan rasa lapar yang tidak tertahankan. Sejak kemarin sore, dia hanya makan sekerat roti hasil pemberian majikannya di pelabuhan. Farren nyaris tidak pernah menggunakan uang hasil pekerjaannya pada hal-hal yang menurutnya tidak penting seperti baju dan makanan.

Hasil kerja kerasnya cukup terbayar saat dia menerima surat dari Hogwarts bahwa Farren diterima di sekolah itu dan harus membeli perlengkapan sekolahnya. Tabungan yang dikumpulkannya selama beberapa tahun itu seakan tidak ada apa-apanya saat dia melihat daftar harga barang di toko-toko sihir itu. Alhasil, satu-satunya barang baru yang dimilkinya saat ini hanyalah tongkat sihir. Sisa peralatan sekolahnya yang lain adalah barang bekas yang dibelinya di sebuah toko kumuh di ujung jalan Diagon Alley. Bahkan tongkat sihirnya pun merupakan tongkat sihir termurah yang dimiliki Toko Tongkat Ollivander. Tidak masalah baginya. Farren sudah terbiasa untuk tidak memiliki barang baru. Sepertinya bagi Helga, ibu tirinya, Farren tidak pantas untuk memiliki barang baru seperti apapun. Farren bahkan tidak pantas untuk memiliki barang bekas atau pun rusak. Farren tidak pantas untuk memiliki barang apapun seumur hidupnya. Dirinya bagaikan orang terkutuk yang terlalu hina bahkan untuk menyentuh seorang manusia. Masih teringat jelas di matanya betapa murkanya Helga saat dia tidak sengaja menyentuh kulit wajahnya yang penuh kerutan. Siksaan yang diterimanya jauh lebih berat daripada siksaan manapun yang pernah diterimanya. Sejak saat itu Farren tidak mau menyentuh kulit seorang manusia pun. Manusia terkutuk yang tidak pantas menyentuh kulit seorang manusia pun. Itulah Farren.

Langkahnya terhenti di depan konter pub. Seorang pegawai toko yang wajahnya sekitar umur Farren menyapanya ramah dan menanyakan pesanannya. Anak laki-laki itu menatap nanar daftar menu dan harganya. Uangnya sudah nyaris habis dibelikan barang-barang perlengkapan sekolahnya. Tinggal beberapa koin perunggu yang tersisa di kantung celananya yang butut. Dengan sangat terpaksa, Farren memesan sebuah minuman yang belum pernah didengarnya sama sekali tapi harganya paling murah disamping air mineral. Butterbeer. Perutnya yang sudah kosong selama 22 jam itu terpaksa harus diganjal dengan segelas butterbeer. Dengan tidak sabar, Farren menghirup sedikit minuman itu. Rasanya tidak buruk. Masih lebih baik daripada air putih. Bukannya dia tidak terbiasa dengan hal itu. Ingatannya masih mengingat jelas saat dia dikuncikan oleh Helga di dalam rumah yang tidak mempunyai makanan apapun selama 3 hari. Farren harus bertahan hidup dengan air keran yang mengalir dan sepotong keju yang ditemukannya di lemari makanan.

Tangan kurusnya menggenggam gelas butterbeer besar itu dengan erat saat ia mencari-cari sebuah kursi kosong sebagai tempat duduknya sementara tangannya yang lain menenteng kuali penyok berisikan barang-barang perlengkapan sekolahnya. Kebanyakan meja sudah terisi tapi Farren menemukan sebuah meja di sudut yang jauh dari keramaian. Kakinya berusaha menopang berat tubuh dan kuali berisi perlengkapan sekolahnya tanpa tenaga sama sekali. Kepalanya yang pening akibat kehujanan di jalanan Diagon Alley dan perut kosong membuat matanya berkunang-kunang. Langkahnya terhuyung sedikit, membuat kuali penyoknya menabrak salah satu kaki kursi dan gelas butterbeer yang dipegangnya langsung terlepas. Cairan butterbeer itu tumpah diatas buku yang sedang ditulis oleh seorang anak perempuan yang sedang duduk bersama seorang anak laki-laki yang juga memegang sebuah buku. Tidak ada sepotong kata pun yang keluar dari mulut Farren. Dia hanya menatap nanar pada butterbeer yang tumpah itu. Satu-satunya minuman yang masuk mulutnya selama 22 jam ini selain air putih. Pengganti makanannya karena dia bahkan tidak sanggup membeli sekerat roti. Mungkin Helga memang benar. Farren memang anak sial.

((OOC : dimeja BonClay dan Conran.))