Rabu, Oktober 29, 2008

Net?

In respons to a dorama that I've watched recently : Densha Otoko, let me just say a few things that been bugging me for this past couple of days since I watch this dorama. Pertama gw mau komen itu para otaku di Jepang itu entah harus dikasihani, diketawain ato dijauhi. I mean, ya ampun, dari apa yang gw tonton di Densha Otoko gw tuh agak-agak gimanaaa gitu liat penampilan mereka yang kek anak umur 5 tahun berangkat ke TK dianterin nyokapnya tanpa sadar klo umur mereka sebenernya udah 25 tahun. Belum lagi obsesi ga sehat mereka ama anime dan rasa percaya diri mereka yang rendah. Dijauhi masyarakat karena dianggap super aneh dan geek tak tertolong. OMG, how extreme is that?! Bahkan mungkin beberapa ga pernah keluar rumah seumur-umur dan ga pernah kesentuh sinar matahari sedikitpun karena cari duit pun bisa dilakukan di rumah via internet. Rata-rata para otaku itu gadget freak dan saling berkomunikasi lewat internet--yang membuat kepikiran pada satu hal ini :

Internet... is it for 'freaks', 'geeks' and 'otaku mania'?

Untuk beberapa orang yang tahu betapa bencinya gw dengan 'label', ini lebih pada pembahasan pada 'label' yang beredar di masyarakat terutama masyarakat modern saat ini. Semakin modern, orang-orang itu semakin aneh, cara-cara baru untuk berkomunikasi lewat internet memudahkan orang untuk mencari teman, kekasih, komunitas yang sesuai hobi kita dan informasi yang sangat mudah untuk diraih. No more 108, it's all google or Yahoo! now. Ckckck. Bayangan gw tentang tahun 2000-an itu yang jelas jauh dari ini semua tapi inilah kenyataannya. Internet berkembang cepat di kota-kota besar di Indonesia sampai merupakan kebutuhan wajib di rumah-rumah. Udah mulai menyaingi hape dan bahkan hape pun berubah fungsi ga cuma sebagai alat untuk sms dan telp serta main game tapi juga untuk modem! (gw salah satu pengguna hape modem). 3G menginvasi pedesaan, spidi berusaha mati-matian membuat masyarakat melek internet, belum lagi kemudahan akses internet di daerah yang 'memaksa' orang untuk mencoba internet paling tidak sekali atau akan dibilang ketinggalan jaman tingkat parah.

"Belum kenal internet? Lo hidup di jaman batu ya? It's 21st century, man!"

Tapi... tentu saja semua ada dampaknya. Ada dampak positif dan dampak negatif dari semua hal yang terjadi di dunia ini. Sama seperti yang gw tonton di acara 20/20. Di acara itu ditampilkan dampak-dampak penggunaan internet di US. Ga se-ekstreme di Jepang yang sampai segitu freaknya ampe ga pernah ninggalin rumah karena semua bisa diakses via inet, cari duit, mesen makanan, mesen baju, cari informasi, bergaul (tapi gw yakin di US juga pasti ada tipe kek gini). Ada sebuah informasi yang gw baca di milis yang gw ikutin : sebenernya jangan mengartikan otaku itu cuma sebagai tipe orang yang tergila-gila atau terobsesi dengan anime atau manga karena basicly semua orang di Jepang juga suka nonton anime dan baca manga. It's just that 'freak' and 'antisocialism' yang membuat mereka dicap sebagai 'otaku'.

Pertanyaan gw : apakah mereka kek gitu karena mereka mendem di rumah main internet all day, searching tentang anime dan nonton streaming, baca manga online, ngobrol dengan teman sehati yang mungkin cuma bisa terbuka di forum-forum tertutup dunia maya? Entah kenapa gw ngerasa masalahnya lebih dalem daripada itu.

Orang-orang yang gw kenal sangat eksis di dunia maya rata-rata terjun bebas di dunia ini sebagai pelarian dari dunia real mereka yang membosankan atau justru menyakitkan. Gw awalnya cuma sebagai pengisi waktu luang karena gw punya banyak waktu luang sementara temen pun ga ada di sekitar sini (maklum bukan anak gaul) jadi gw cari kegiatan di dunia maya. Setelah dapet gw malah terkesan agak terobsesi sampe nyari segala cara supaya bisa online setiap saat dan akhirnya prioritas gw pun berantakan dan gw ga bisa ngatur dunia gw secara seimbang (silahkan baca post saya yang sebelumnya).

Para inet mania itu sebenernya dianggap freak oleh orang-orang disekitarnya bukan karena dia menggemari main inet sampai lupa waktu dan ga pernah liat matahari tapi lebih ke mereka ngerasa you're not paying attention to them. Gimana caranya orang lain mau interaksi dengan lo sementara lo sendiri terlalu sibuk interaksi sama orang lain di dunia maya. Tentu saja temen lo yang sedang berusaha mengajak lo untuk interaksi secara live in person alias face to face jadi terganggu dan kesel karena usahanya itu sia-sia. Belum lagi tiap diajak kemana-mana ga pernah mau karena lebih seneng jalan-jalan via inet alias surfing. I'm not saying it's a bad thing, tapi orang-orang itu... orang-orang yang berusaha mendekati lo secara in person itu.. they're not going to wait forever for you. You have to reach for them too.

Gw ngeliatin hidup seorang densha otoko versi dorama dan gw ngerasa kasihan ama dia. Cuma gara-gara hobinya (memang sih agak lebai) pada anime dan kepercayaan dirinya yang rendah, semua orang ga pernah ada yang nganggep dia ada. Dia kek daun kering yang jatuh dari pohon yang mati. Diacuhkan dan disapu untuk disingkirkan. Sedih. T___T

No one deserves to be treated like that. Even an otaku.

Am I a 'freak', 'geek', 'otaku'?

Please do label me. *sinis*

Senin, Oktober 27, 2008

Prioritas..

Prioritas. Akhir-akhir ini gw dan beberapa orang disekitar gw agak bermasalah dengan yang namanya prioritas. Gw dulu bisa dengan gampangnya nasehatin Septi yang bermasalah dengan prioritasnya dia yang berantakan karena waktu itu prioritas gw cuma satu : making money. Setelah gw kenal dengan yang namanya Net World, prioritas gw hancur berantakan dan itu pun berimbas ke banyak hal, seperti :

- Adek gw yang misuh-misuh ngerasa dicuekin klo lagi ketemuan ma gw (yang frekuensi ketemuannya lumayan jarang), gw malah langsung buka laptop dan (whatelse?) ngenet.
- Nyokap gw yang ngomel-ngomel dan parno ndiri karena tiap gw lagi ada dirumah kerjaan gw antara hape dan laptop yang intinya cuma 1 : ngenet.
- Bos gw perlahan mulai mengurangi kerjaan gw yang berarti dia mulai ilang kepercayaannya dikit ke gw karena gw sering menghabiskan waktu gw--yang sebenernya bisa abis buat kerja--untuk ngenet.
- Badan gw sama sekali ga keurus karena gw lebih mentingin ngenet.
- I lost contact with real people because I can't make time for them. I'm to busy--whatelse?--ngenet.

Sebenernya gw itu klo ngenet itu ngapain sih? Terus terang aja ya sodara-sodara. Klo ditanyain kek gitu justru gw bingung ndiri karena gw ga ngerasa apa yang gw kerjain di net itu penting. Kerjaan gw pas ngenet itu sebenernya cuma nyalain YM, ngeplurk, cek blog orang, ngeblog ndiri kadang-kadang, klo nemu lagu bagus gw donlot, klo lagi pengen gw bikin siggy, dan klo dah diteriakin baru deh gw ngerep. Jadi? How busy am I di dunia maya ini sampai ga bisa membuat prioritas antara dunia real dengan dunia maya?

Sejujurnya : gw ga ngapa-ngapain di dunia maya. Ck. Bizi pun sebenernya bukan bizi yang ga bisa ditunda. Ini cuma pelarian gw doank soalnya gw bosen di RW tapi keterusan. :|

Have I told you that when I start to like something, I wouldn't stop untill I crash and burn? Well, it's something kinda like that. Gw belom muak belom berenti. Udah muak pun klo gw belom ketabrak truk mungkin gw masih belom berenti. Akses inet yang sangat gampang jadi cobaan hidup gw yang terbaru. Paling latest *ciee* and I can't stop T___T

I can't?

or I won't?

It's a matter of will power. Gw bukan tipe orang yang klo udah niat akan menjalankan niat gw itu dengan sepenuh hati. Gw orang yang gampang bimbang, plinplan, cepet pengen tapi ga terlalu pengen, gw bukan tipe orang yang memegang 'hak milik' gw dengan erat like most people I know. Intinya : I can't think for my own sake. Oh, and I have a weak will power T__T

When will I become an adult? I have to think for my own sake coz no one else will think about it for me. Gw harus bisa menjaga prioritas gw terutama membalance kedua dunia gw supaya pada akhirnya gw bisa berdiri dengan tegak and say : I have a good time in both my worlds. (jangan komen grammar gw yang ancur nian)

There's rules in this world.

And no.. they aren't made to be broken.

Minggu, Oktober 26, 2008

what is it from a guy?

Gw dah beberapa kali dideketin cowo dan gw juga udah beberapa kali ngedeketin cowo. Ada beberapa hal yang selalu ganggu otak gw setiap kali gw dalam proses pedekate alias proses penyeleksian antara cowo yang 'bermutu' dan cowo numpang lewat doank.

Seperti misalnya :

- What is it from a guy who always ask wether I ate or not but never ask what is my favorite food and why?
- What is it from a guy who always ask where I am but never really care who it is I'm hanging with?
- What is it from a guy who always ask what I'm doing but never ask what my hobbies are and why?
- What is it from a guy who always does what HE thinks is romantic but never really realise that it means nothing to me?
- What is it from a guy who always ask wether I did my praying ritual or not but never really discussed about that important issue and learn something from it?
- What is it from a guy who always talks about what he thinks and doesn't care what I think about things in life?
- What is it from a guy who always feel to be intimidated when a girl start to talk and debate about stuffs?

Oh, please.

Let's talk about the real stuff. Gw mau kenal sama elo. Gw mau lo kenal sama gw. Gw ga akan pernah nanya apa kegiatan rutin lo sehari-hari karena lo dah punya nyokap yang bakalan ngingetin semua hal-hal itu setiap hari (and besides, how old are you?). Pacaran adalah saat kita saling kenal dan menyeleksi apakah kita cukup mau bertoleransi terhadap sifat masing-masing untuk mengikat tali pernikahan dan hidup bersama for the rest of our life's. Pacaran bukan untuk mengumbar kasih sayang dan 'hak milik' dengan cara saling menyentuh, mencium, meraba, dsb. We could do that when we decided to tie the knot. Pacaran seharusnya bukan ajang untuk menanyakan rutinitas kita sehari-hari dan mengecek seakan-akan kita adalah 'hak milik' dari pasangan kita. Pacaran seharusnya menjadi ajang untuk saling mengenal untuk nantinya menjadi 'hak milik' dalam ikatan pernikahan.

Some people just don't think. They just follow the current flow. I'm not saying it's a bad thing. But please people, use your brain once in a while. Why do God create this beautifull and amazing brains if we don't use them?

Sabtu, Oktober 25, 2008

My Friends.. the weirdest people of my life.. *love u guys* XDD

OK. Akhirnya gw bikin blog tentang mereka. Terus terang selama ini gw belom pernah kepikiran nulis tentang mereka dalam blog gw. Kenapa? Karena dalam blog ini, it's all about ME!! ME, ME, ME, my selfish me. Yup. Gw adalah orang yang sangat selfcentered. Sangat egois dan berpikir bahwa dunia ini berputar disekeliling gw dan orang-orang lain cuma numpang dalam dunia gw yang kecil dan picik ini. But then again, gw adalah makhluk sosial yang ga bisa hidup sendiri. I need people in my life. I need my family. I need my friends (I really don't care wether I met you from RW or NW). A lot.

Ok. So. I have a few friends. I met them before i have another life in the networld. Awalnya mereka adalah teman-teman adek gw. Maklum, gw adalah orang yang sangat kuper, ga gaul, susah ngomong dan lebih suka berkutat di dunia gw sendiri (sampe sekarang ga berubah). Jadi biasanya temen-temen gw adalah temen-temen adek gw (adek gw itu sangat gaul sekali orangnya) karena kita berdua punya selera yang sama jadi nyambung. That's why temen-temen gw itu biasanya lebih muda umurnya daripada gw wkwkwk..XD Tapi mereka yang gw kenal sekarang umurnya ga beda jauh dari gw, biarpun sebenernya awalnya mereka adalah temen-temennya adek gw tapi adek gw itu justru umurnya yang termuda dan paling childish dari kita semua HAHAHA!

We are all total of 6 and we all have the same hobby : watching movies!

Oh, and we have the same head. But don't let me fool you. We are very different people.

Let me introduce you to them from my point of view.

Ayu

Ayu adalah orang yang ceria, pemalas, simpel dan gaul. Otaknya itu cerdas, pikirannya simpel, tipe yang ga mau susah (like the rest of us, HAHAHA! Kumpulan orang pemalas) dan orang yang selalu dicari setiap kita (gw sih sering banget) butuh curhat, support, dukungan moral atau perlu diceriakan lagi karena sifat-sifat kita (kecuali Jun dan Tasha) yang sangat moody dan temperamental. Sifat ceria itu menular sodara-sodara hahaha..XD Dia itu (katanya) sanguinis phlegmatis. (don't ask me, gw ga ngerti penggolongan sifat kek gitu karena sama sekali ga berminat) Kita sering banget ngegunain rumahnya Ayu sebagai basecamp karena rumahnya itu adalah gudang buku (don't we all just love to read?) baik komik maupun novel (terbaru!) dan banyak banget film-film seri Jepang (dorama) yang dia koleksi dan akhirnya kita jadi nonton bareng di rumah Ayu. Awalnya gw bingung juga, gimana caranya nyampe ke rumah dia (ampe sekarang juga masih) karena letak rumahnya yang membingungkan, tapi pada akhirnya acara ngumpul untuk nonbar dan curhat-curhat di rumah Ayu ini jadi acara rutin kita. Awalnya sebenernya di rumah Septi (I'll tell you about her later) tapi lama-lama jadi pindah ke rumah Ayu (we have no problem at all HAHAHA!). Acara rutin yang pasti diadakan perbulan (or not every month, it depends) ini lumayan menyejukkan gw yang rumahnya paling jauh diantara kita semua dan kebetulan jumlah temen gw juga ga banyak. Ya cuma mereka ini hehehe..XD

Terus terang gw paling lama ngerasa nyambung itu sama anak ini. Kenapa? Karena kita ga punya kesamaan sama sekali hehehe..XD Gw juga jarang punya kesempatan buat ngobrol sama Ayu. Tapi sejak gw waktu itu nginep di rumah Ayu dan seperti biasa, nginep = curhat2an ampe pagi, gw jadi kenal ama dia. Sebenernya gw ngerasa deket sama Ayu sejak gw ngerasa ngeh klo tiap gw butuh pencerahan (dalam bentuk apapun) gw tinggal im atau sms dia aja. I feel ease when i'm around her. It's like a give, perhaps. Yeah, kita sangat nyambung klo ngobrol tentang apa aja dan dia lebih bijak daripada gw dalam beberapa hal meskipun kita semua masih perlu instropeksi diri dalam SEMUA hal. Maklum, masih muda HAHAHA..XD

Mida

Awalnya gw ga nyangka bakalan bisa sedeket sekarang ama seorang Mida. Awal gw ketemu ama dia, gw nyerocos dengan sok taunya tentang penjurusan dia dan klo gw inget-inget lagi sekarang, gw bisa tau klo sebenernya itu anak pasti diem-diem ngetawain gw pas gw lagi nyerocos dengan sangat sok taunya. Huh! Awalnya ketemu Mida, i know nothing about her. Mida dan Ayu adalah temen-temennya Septi. Gw awalnya ketemu Tasha dulu (ya iyalah, dia adek gw gitu) baru ketemu Jun dan Septi yang temen kuliahnya baru ketemu ama Mida dan Ayu. Malah gw ketemu duluan ama Mida baru Ayu. Mida itu awal ketemu ama dia, cuma diem aja. Duduk manis di samping dan menonton kita semua ngobrol. Cuma jawab klo ditanya dan karena gw ga kenal jadi gw ga nanya apa-apa. Seiring semakin sering kita ketemu, kita jadi semakin kenal satu sama lain dan bisa nerima sifat satu sama lain. Klo kita ga kumpul lengkap, kita suka ngomongin salah satu yang ga dateng dan itu termasuk Mida, yang membuat gw jadi semakin kenal sama ini anak. Dia yang pertama ngenalin gw IH dan akhirnya gw terjun bebas ke dunia yang buat gw ngerasa jengkel, seneng, ketemu temen baru, kenal teman lama. Maksud dari kenal teman lama adalah : IH lah yang membuat gw semakin kenal dengan Mida dan Ayu. Kita berdua jadi stap di forum itu dan itulah yang membuat gw semakin intens kenal dengan seorang Mida. Siapakah Mida? Mida yang sekarang beda dengan Mida yang dulu gw kenal. Gw ngomong kok sama anaknya. Mida yang sekarang adalah orang yang lebih menikmati hidup. Mida yang sekarang tidak menunggu perhatian orang untuk 'mampir' ke dirinya tapi 'menuntut' perhatian dari orang agar melihat ke dirinya. Keren!

People change. And she's changing. Gw menonton dari samping melihat perkembangan seorang Mida. Dari yang awalnya I know nothing about her and now I can see the inside of her. So this is what it feels like to be a friend? Gw menganggap dia agak annoying sometimes and i know (oh yes, I do know) that she feels the same way too about me HAHAHA! Septi said in her blog that Mida that she knew only have 3 expressions for the most but now... I think she have a lot of expressions. Not only on her writings but also in her face. I think she's beautifull when she shows all that expressions. :)

Jun

Oh, what can i tell you about her? Tentang cewe sinis ini? HAHAHA! Dia adalah sosok percontohan bagaikan karakter komik Jepang yang lompat keluar dari buku. I mean, sifatnya itu lho. Bahkan ampe mukanya. She's definitely like one of those uniqe character that mostly is the partner of the happy-happy heroine. (you could say that the hap-happy heroine si Tasha) Gini lho, dalam komik-komik cewe, biasanya pemeran utama cewenya selalu cewe-cewe yang ceria dan penyayang dan temannya itu adalah sosok sinis berambut hitam panjang yang sangat sayang dengan sang heroine. Nah, itulah Jun. I'm not calling her, pemeran pembantu or something like that. Dia itu adalah pemeran utama dalam dunianya sendiri. Coz just like me, she's a person that have a world that only filled her, her, and only her. Unlike me, she doesn't need any kind of approval from other people, she's happy with her self waaaayyy before i could do it for my self. She's whole with no hole in her life. (if you get my point) Dia ga selalu tahu apa yang dia inginkan dan ga selalu tahu cara mendapatkan apa yang dia inginkan tapi tipe seperti Jun yang sinis dan outspoken ini adalah tipe yang sangat menyenangkan bagi gw. I like her. A lot. Pemalas, sinis, penyayang, penyendiri. Tipe yang penuh ironi tapi justru menyenangkan untuk melihat dia berkembang. We all grow up in front of each other. It's nice.

Septi

Septi. Hmm. Pindang dibelah dua dengan gw ini (yup, betul. Pindang) sifatnya kurang lebih sama dengan gw. Bahkan masa lalu kita berdua pun sama. Maaf, sifat itu maksudnya tolong jangan diharafiahkan karena gw ga seceria Septi dan tidak berminat untuk memperlihatkan keceriaan model dia kemana-mana HAHAHA! Gw sama dia itu sangat mirip dalemnya tapi semakin kesini kita berdua mulai kelihatan bedanya. Keknya sih karena dia udah mulai kerja dan gw dah mulai nyaman dengan kerjaan gw. Septi adalah orang yang kurang lebih sama kek gw : boros, plin plan, gampang excited, mudah suka ma cowo dan gampang melupakan, dsb. Masih banyak lagi sebenernya tapi kita sekarang dah banyak bedanya daripada samanya haghaghag..XD

Septi adalah orang yang ceria, open dan rajin. Bedalah dikit sama kita-kita yang semuanya pemalas ini. Makanya dia gampang dimintain tolong (alias disuruh-suruh) tapi orangnya juga gampang nendangin kita-kita yang pemalas ini kok HAHAHA! Gw seneng banget dengerin dia ngomong ga tau kenapa. Seneng aja gitu dengerin cerita hidup dia yang keknya warna warni biarpun kadang gw suka kesel juga klo pengen cerita tapi ga nemu celahnya hehehe..XD Isi cerita kita biasanya beda tapi sekarang makin beda karna gw seringnya cerita-cerita tentang IH ama Mida dan Ayu. Septi, Jun dan Tasha jarang ngerasa ikut terlibat dengan isi pembicaraan kita. Gw sering ngerasa feeling guilty karna hal itu. Sorry guys. Sektoral memang harus dibicarakan di tempat lain hehehe..XD

Tasha

She's my sister. That ultimately spoiled, easy to laugh and very dedicated worker is my sister. Dia itu sangat-sangat-sangat jauh beda dari gw. Kita adalah adik kakak yang sangat jauh beda karakter biarpun wajah kita agak lumayan sering dibilang mirip ato kek kembar HAHAHA! Jauuhhh..XD Gw kenal sama seluruh geng ga jelas ini dari dia. Gw awalnya sebel banget kenapa adek gw ini sering banget ganggu privasi gw. Kenapa sih ga bisa membiarkan gw menyendiri dengan dunia gw? Kenapa ga mau meninggalkan gw mengautis sendirian dan merana sendirian? Kenapa selalu membuat gw ngerasa ada tempat yang bisa digantungkan? Kenapa selalu mencoba untuk membuat gw merasa ga sendirian di dunia kecil gw yang sangat sempit dan picik ini? Oh, how much I feel lucky to have a sister like her. Kita berdua hubungan saudaranya sangat kuat dan kita berdua lebih kek temen daripada sekedar hubungan kakak adek yang seringnya kaku dan ga ada feelnya. Entah ya. Klo gw ngeliat sodara-sodara gw yang lain, hubungan kakak adik mereka malah merenggang seiring dengan semakin berumurnya mereka. Bahkan temen-temen gw ini pun hubungan antar saudara masing-masing juga ga sedeket gw dan Tasha.

If anyone know me more even than myself. It's her. She's a part of me that will never go away. And i'm gratefull for that.

Terakhir dalam rombongan : gw

Siapakah seorang ReRe? Neechan? Reni? It's not me to judge. It's who you see in your eyes. It's who you think in your tiny little brain *sinis*

If I die...

If I die, would anyone remember my name?
If I die, would anyone cried?
If I die, Would anyone pray for me?
If I die, would you feel sorry for me?

If I die, I would know people who really cared and who is just cared because they need me.
If I die, I would see the truth behind all those lies.
If I die, I would see how much they love me all this time without me realising.
If I die, I would see all my sins in front of my eyes.

If I die, I would leave behind all those people that loved me.
If I die, I would leave behind all those people that hated me.
If I die, I would leave behind all those people that i love.
If I die, I would leave behind all those people that i hate.

But I don't want to die.
I want to live and see for my self all those people that love me.
I want to live and shared my love to those people who loves me.
I want to live and forgive.
I want to live and love.
I want to live and feel alive.

I will die someday.
I will leave all those people someday.
But I want to leave with ease.
Because I know, all those people...
may not be the entire world..
maybe only a few...
they will cry and feel sad..
because i was there...in their life,
even just for a minute.

Senin, Oktober 20, 2008

In the end... [My very first FF]

“Selamat malam, K. Sampai jumpa nanti di kantor ya?” Aku mengembangkan senyum lebar ke teman masa sekolahku yang selalu tampak ceria itu. Keisha Kadence Kaiya, nama lengkap wanita itu, langsung memelukku dengan hangat. Kebiasaan sahabatku yang selalu memeluk teman-temannya dan menyebarkan kehangatan di dalam suasana penuh kegelapan dimana orang-orang penuh kecurigaan terhadap satu sama lain, kesedihan dan kematian merajalela, kehangatan yang diberikan sahabatku itu selalu terasa berharga.

Mataku terpejam saat menikmati kehangatan yang disalurkan sahabat masa kecilku itu dari pelukannya. Rasa sedih menjalar dihatiku karena harus berpisah dari teman-teman sekolahku dulu. Reuni kecil-kecilan ini tidak cukup untuk memuaskan rasa rinduku. Lagipula walaupun kami cukup bersenang-senang di Leaky Cauldron yang sengaja dibooking untuk acara reuni angkatan 1972-1973 Sekolah Sihir Hogwarts, perasaan sedih dan kemuraman tetap terasa pekat di udara. Jumlah angkatan kami berkurang drastis sampai nyaris setengahnya. Beberapa meninggal, beberapa menghilang, sisanya telah memilih jalan kegelapan.

“Baiklah. Kamu akan pulang sekarang? Lihat, suamimu sudah menjemput,” Aku tetap tersenyum meskipun K telah melepaskan pelukanku dan menghambur ke pelukan suaminya. Ah, mereka berdua selalu tampak mesra. Pasangan lucu yang sangat bertolak belakang sifatnya itu saling mencintai satu sama lain. Terlihat sangat jelas. Aku melambaikan tanganku kepada mereka berdua sampai suara POP pelan menandakan bahwa mereka telah berdisApparate. Aku mengayun-ayun tas tanganku yang berukuran besar tanpa tujuan apapun. Rasa iri yang menyelinap membuatku tersenyum miris meskipun aku langsung menggelengkan kepala dan berdoa dalam hati agar mereka berdua tetap selamat sampai masa-masa kegelapan ini berakhir, meskipun aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir. ‘Tuhan, lindungilah teman-temanku.’

Berdiri di depan pintu keluar Leaky Cauldron yang butut, aku mendongak menatap langit gelap tak berawan tapi juga tak berbintang. Hanya ada satu bulan purnama penuh yang menerangi jalanan selain lampu-lampu buatan para muggle itu. Tidak ada orang lain yang lalu lalang seperti biasanya di jalanan sibuk dunia muggle ini. Wajar. Sekarang sudah tengah malam. Pesta yang berlarut-larut seakan-akan orang-orang itu ingin melupakan kemuraman dan kesedihan mereka dengan tidak mengakhiri pesta cepat-cepat walaupun pada akhirnya mereka toh harus segera pulang karena keluarga mereka menunggu di rumah.

Aku merapatkan mantel panjangku yang berwarna coklat muda. Tidak seperti teman-temanku yang lain, aku tidak suka mengenakan jubah penyihir. Angin malam berhembus pelan menyapu rambut panjangku yang ikal dan berwarna merah. Ada sedikit kebanggaan yang terbersit setelah melewati reuni barusan, diantara yang lain mungkin hanya aku sendiri yang tidak tampak seperti 10 tahun lebih tua. Mungkin karena aku belum pernah mengalami kehilangan yang berarti. Hidupku berjalan sebagaimana mestinya meskipun dalam masa-masa kegelapan seperti ini.

Dengan tas tangan mungil yang tersampir di pundak dan kedua tangan yang terbenam didalam saku mantel, aku berjalan menembus udara malam. Aku memang butuh udara segar setelah minum mead sebanyak itu, lagipula buru-buru pulang pun tidak ada gunanya. Siapa yang akan menungguku di rumah? Tidak ada, sayangnya. Aku memang tahu dan sadar tentang himbauan jam malam yang diberlakukan secara ketat tetapi hanya untuk malam ini, entah kenapa aku ingin sekali berjalan menyusuri jalanan London-nya muggle. Suara sol sepatuku menggema diantara tembok-tembok rumah para muggle diantara lolongan anjing liar yang berada entah dimana.

Gelap, sendirian dan hanya ditemani sinar rembulan membuatku memikirkan tentang reuni yang baru saja berakhir barusan. Sosok yang paling kutunggu di reuni itu memang datang tapi… Kane Dietriech tampak muram sendirian di sudut ruangan. Pria itu hanya diam memandangi mead panasnya tanpa menyapa orang lain di sekitarnya. Semua orang hanya memandanginya sekilas lalu memalingkan muka. Maklum karena dia baru saja kehilangan. Orang yang paling berharga. Siapa yang tidak tahu? Kisah tentang Kane Dietriech dan Shaula Khan cukup diketahui oleh teman-teman satu angkatan. Sayangnya perjalanan cerita mereka tidak berjalan mulus setelah lulus sekolah. Khan menghilang dan terakhir kali aku mendengar tentang gadis India yang dalam ingatanku selalu tampak cerdas dan tersenyum ceria itu, dia sudah meninggal dunia dalam salah satu penyerangan Pelahap Maut.

Tap.. Tap.. Tap..

Ada orang yang sedang berjalan di depan. Otomatis aku meraih tongkat sihirku. Gawat. Ada Pelahap Maut-kah? Am I going to die this time? No, wait. Sosok itu tampak familiar bagiku. Meskipun hanya tampak belakang tapi kau pasti akan mengenali punggung orang yang telah kau perhatikan selama bertahun-tahun lamanya. Aku memang mengenali punggung itu karena nasib telah membuatku hanya sanggup menatap punggungnya saja, tidak berani menatap langsung di wajahnya dan mengatakan padanya bagaimana perasaanku selama ini. Bahwa aku menyukainya. Bahwa selama ini rasa cintaku padanya tidak kalah dengan Khan. Bahwa selama ini aku hanya sanggup memperhatikan punggungnya yang tegap tanpa mampu mengatakan apapun tentang perasaanku dan hanya bisa mengais-ngais perhatiannya sedikit dengan cara bertengkar. Pertengkaran yang manis. Aku mengulum senyum lalu mempercepat langkahku.

“Kane Dietrich… ah, Sweetie,” sapaku dengan keramahan yang berlebihan sambil menepuk pundaknya yang tegap dengan kekuatan berlebih. Kane Dietrich mengernyit saat melihatku sambil mengelus pundaknya yang pasti sakit. Hahaha. Aku tertawa kecil sambil mengamati perubahan air muka Kane Dietriech dari jengkel sampai akhirnya hanya merengut lalu terus melanjutkan perjalanannya. Meskipun kesannya cuek, aku tahu dia mendengarkan. Tipikal dirinya. Meskipun sudah bertahun-tahun ada saja yang tidak berubah.

“--sweetie, humm? Mau sampai kapan kau memanggilku dengan sebutan itu? Aren’t we too old for this?” ucapnya tanpa menoleh ke arahku. Entah itu hanya perasaanku saja atau memang matanya seakan mencari-cari sesuatu diantara kegelapan di jalanan depan mereka.

“Kamu sendiri? Kalau begitu kau mengakui kalau kau memang sudah tua kan? Aku tidak pernah merasa tua, tuh,” aku kembali tertawa kecil. Kane Dietrich tidak menanggapi. Sepertinya dia terlalu sibuk mengamati jalanan kecil di depan kami tanpa alasan yang kumengerti walaupun dia tetap memasang senyum masam di wajahnya karena komentarku itu.

“Err.. I’m sorry for Khan. Aku sudah mendengar tentang dia,” ucapku dengan suara pelan. Akhirnya Kane Dietrich memusatkan perhatiannya kepadaku. Dia mendadak berhenti di tengah jalan, memandang lurus ke depan dengan pandangan kosong, menghela nafas berat lalu menoleh ke arahku sambil (mencoba) tersenyum tulus. Aku nyaris balik tersenyum melihat ekspresi mukanya yang sangat langka itu tetapi pandanganku tetap polos dan prihatin sambil mengusap lengannya yang kekar dan sangat dicurigai penuh dengan bekas luka. Pekerjaan sebagai Auror itu sangat berbahaya dan penuh resiko. Kane Dietrich memang sangat mencintai tantangan dan balik menatap maut dengan pandangan menantang. Itulah Kane Dietrich yang kukenal dan kucintai.

Tiba-tiba….

POP

POP

POP

Tiga orang muncul entah darimana di depan mereka. Pelahap Maut! Topeng-topeng mereka terpasang untuk menyembunyikan identitas asli mereka sekaligus menonjolkan identitas mereka yang lain sebagai Pelahap Maut. Mau tidak mau, aku merasa gentar. Secara otomatis posisiku langsung berada di belakang Kane Dietrich. Orang-orang itu menunjuk ke arahku meskipun pandangan mereka terarah ke Kane Dietrich. “Dia?! Apa-apan ini?!” ucap salah seorang dari mereka. Aku mengkerut ketakutan meskipun pandanganku menantang ke arah tiga orang Pelahap Maut itu. Ini memang salahku karena melanggar jam malam tapi semua akan jadi baik-baik saja. Ada Kane Dietrich. I hope.

“Pengganggu harus disingkirkan. Kau tahu hal ini kan?” Kini orang kedua berbicara. Ketiga orang itu menatap lurus pada Kane Dietrich. Aku menatap Kane Dietrich bingung. Wajah pria itu pucat pasi. Apa ini maksudnya? Mereka akan membunuh Kane Dietrich? Tentu saja. Dia Auror dan siapapun tahu, tiga lawan dua tak bisa dikatakan duel yang seimbang. Kami berdua harus lari! Tanganku mencengkeram erat lengan jubah Kane Dietriech.

“Kita harus lari Dietrich,” bisikku tegang. Entah kenapa Kane Dietrich hanya diam membisu. “Ayo kita lari,” bisikku lagi, kini lebih mendesak. Tanganku mulai menarik-narik lengan jubah Kane Dietrich sementara tanganku yang lain sudah menggenggam erat tongkat sihirku yang terpercaya. Apakah benang hidup kami berdua akan berakhir disini? Saat ini? Tapi…

“Minggir!” Bentak salah satu dari mereka. Aku tersentak kaget. Siapa maksud mereka?

Kane Dietrich tetap diam tak bergerak. Mulutnya bergerak sedikit seperti bersiap untuk bernegosiasi dengan mereka tetapi sebelum dia sempat mengatakan apapun tiga buah kilatan cahaya berterbangan dari ketiga tongkat sihir para Pelahap Maut itu.

“Depulso!”

“Crucio!”

“Crucio!”

Tiga mantra berbahaya dan semuanya bertujuan satu hal. Membunuhku dan Kane Dietrich. Seluruh hidupku seakan melintas di depan mataku seperti roll film yang diputar di bioskop. Masa-masa sekolahku yang sangat menyenangkan, teman-temanku yang tersayang, Kane Dietrich… Tidak!

“Kane Dietrich! AWAS!!”

Sambaran kilat mantra yang berbahaya menyambar tubuhku secara bersamaan. Kane Dietrich tampak terpana dibelakangku. Dalam sepersekian detik waktu yang menentukan, aku menarik lengan jubah orang yang kucintai itu dan menerima semua mantra dengan tubuhku. Keinginan untuk melindungi orang yang kucintai ternyata lebih besar daripada naluri untuk menyelamatkan diri sendiri.

“Evens--” Aku terkapar di tanah beraspal. Darah mengalir dari sela-sela bibirku sementara tubuhku berusaha bertahan sebisanya dari serangan mantra-mantra itu. Suatu keajaiban aku masih hidup biarpun nafasku tersenggal-senggal tak berdaya. Aku berusaha mencari-cari udara untuk memenuhi paru-paruku tapi percuma.. paru-paruku tidak lagi menerima udara yang susah payah kuhirup. Tiba-tiba saja tubuhku yang tertelungkup di tanah beraspal itu sudah menghadap ke wajah orang itu. Kane Dietrich. Sayup-sayup aku dapat mendengar suara salah satu Pelahap Maut itu,

“Kita selesaikan urusan kita nanti, Pavarell,” lalu bunyi POP pelan tiga kali berturut-turut. Kane Dietrich hanya menatap wajahku tanpa mempedulikan ketiga orang itu.

“Kenapa—“ Pria itu menghapus darah yang mengalir dari sisi bibirku perlahan.

“Ah, Sweetie..” Aku berusaha tertawa diantara nafasku yang tinggal sesekali saja. Darah kembali keluar dari sela bibirku diiringi batuk keras beberapa kali. Usahaku untuk tertawa rupanya membuatku semakin sulit untuk bernafas.

Aku merasakan lengannya yang kekar melingkari bahuku, menyanggaku. Ah, ternyata dia khawatir padaku. Ternyata disaat terakhir hidupku, aku akhirnya mendapatkan perhatian dari orang yang paling kuharapkan. Seharusnya... aku bahagia, bukan? Tapi kenapa ar mata ini mengalir di wajahku? Kane Dietrich menghapus air mata itu dengan kelembutan yang sama walaupun wajahnya semakin pucat pasi. Dengan kekuatanku yang tersisa aku meraih jubah pria itu dan mencengkeramnya lemah.

“Aku… aku tidak mau mati…” isakku lirih. Nafasku semakin tersenggal-senggal disela tangisku.

“…aku mau bersamamu…” suaraku memelan.

“…aku mencintaimu, Kane Dietrich…” Wajah Kane Dietrich semakin meredup sampai akhirnya hilang sama sekali. Badanku mendadak menjadi ringan dan aku tidak lagi mengalami kesulitan bernafas. Aku melihat ke tanganku dan aku bisa melihat tembus. Pandanganku beralih ke tubuhku yang masih dipeluk oleh Kane Dietrich. Pria itu… dia memelukku. Aku masih bisa mendengar suaranya yang berbisik pelan.. “Arzu…” sebelum semua pemandangan itu menghilang dan digantikan oleh suasana putih bersih. Sosok Mrs. Dufflick bersama dua orang laki-laki dan perempuan yang tidak kukenal. Aku tersenyum pada wanita gempal yang menjadi ibu kepala panti asuhan yang sangat kusayangi itu. Mrs. Dufflick memelukku erat dan akupun balas memeluk wanita itu. Hangat. Mrs. Dufflick tersenyum lalu menunjuk kearah dua orang pasangan muda itu. Sebuah kesadaran menyentakku. Mereka… orang tuaku? Aku tersenyum lebar sambil berlari memeluk pasangan itu. Mereka memelukku balik. Air mata mengalir lagi di pipiku tapi kali ini air mata kebahagiaan.

“Welcome home, Arzu…”


Disclaimer : semua chara yang saya pake di sini ga ada yang punya saya, semuanya punya PMnya masing-masing..XDD Rating : T. Ga ada yang bermasalah di sini hohoho..XD

Thank you kepada semua PM yang sudah meminjamkan charanya untuk gw utak atik, buat Pavarell dan Arzu yang menyempatkan untuk mengedit tulisan gw yang typo nama si Kane Dietrich wkwkkw..XD

Need comment!! Urgent!! XDD

My Rome...

Wow. Suatu penemuan yang mengejutkan sodara-sodara! Penulis baru saja menemukan bahwa ternyata yang membaca blog ini lumayan banyak... *niru gaya tulis Mida* Dari hasil chattingan salah satu member dari chara bernama Miss Berry (dalam rangka pemesanan siggy, biasa), dia ternyata membaca blog aye. Wew! Keren! Haghaghag..XD Ok, enough with the narsicm. Dari kemaren mau ngeblog gagal mulu ye, jadi sekarang gw mau nulis hohoho~~

Jadi dari suatu percakapan via YM dengan Fuma (itu dah jadi kegiatan rutin gw tiap malem akhir-akhir ini) dan kita biasa ngomongin A larinya ke Z. Dari yang awalnya kita ngomongin koneksi inetnya dia yang cuma dari hape doank ke Roma. Roma, sodara-sodara! Dalam quote : 'Banyak jalan menuju Roma' itu lhow heheh..XDD

Jadi, dia nanya ke gw :

Fuma : Jadi apa Roma lo, Re?
Gw : ga ada deh perasaan...
Fuma : masa ga ada? *or sort of... dia keknya ga ngomong gini deh.. tapi gw dah lupa fufu*
Gw : ga ada, beneran.. EH.. ada... gw mau menikah.
Fuma : menikah? Emangnya temen aja ga cukup?
Gw : ya ga cukup lah. Kita itu bukan bagian dari hidup teman kita itu.
Fuma : Kenapa?
Gw : Karena gw ga mau sendirian.

Let me get this clear karena gw rasa kalimat itu rada geje ya. Rasanya waktu itu gw nulisnya lumayan jelas tapi YM gw lagi eror jadi ga bisa ngeliat archievenya. Maksud dari kalimat gw : kita itu bukan bagian dari hidup teman kita itu. Biar bagaimanapun juga, our friend is not our family. We are not stuck with that person for the rest of our life. Dan toh 'teman' kita itu punya keluarga sendiri, punya kehidupannya sendiri yang tidak termasuk kita. Coba klo dipikir-pikir ya? Entah orang tua gw duluan ato gw duluan yang bakalan menghadap Illahi. Lalu klo itu udah terjadi, gw mau kemana lagi? Sodara-sodara gw pasti bakalan menikah juga dan memilih jalannya masing-masing. Biarpun ada beberapa temen gw yang dengan sombongnya ngomong : gw ga butuh cowok cuma supaya ga ngerasa sendirian. Toh, gw punya temen, masih ada sodara di saat gw butuh.

I have no comments on that tapi coba aja liat seiring waktu. Ketika semua sodara dan teman kita berkembang tanpa kita ikut berkembang. Ketika teman dan sodara kita semuanya rata-rata merayakan persatuan pernikahan atau kelahiran anak pertama, kedua, ketiga atau perayaan ulang tahun pernikahan yang kelima, kesepuluh, perak, emas, platinum. Kita hanya akan berada di sisi. Berusaha mengerti akan kebahagiaan mereka biarpun kita sejujurnya sama sekali tidak mengerti. Rasa sepi itu pasti ada dan let's face it : biarpun kita sudah dikelilingi teman dan sodara yang mencintai kita pun pasti rasa sepi itu ada. Bukan berarti kita langsung cari cowok kalo lagi kesepian. Bukan. Allah toh sudah memberikan alternatif dan jalan keluar yang terbaik untuk para muslimin dan muslimat yang beriman. Yaitu dengan cara menikah. Menghindari dosa zina, meneruskan keturunan dan masih banyak manfaat lainnya. Kebetulan yang terlintas di otak gw pada saat gw chat dengan Fuma itu adalah : supaya gw nanti ga kesepian. Ada orang untuk berbagi cerita, berbagi duka dan suka. For 24/7! Bayangin ajah wakakak...XDD

TAPI... masih ada kelanjutan chat itu beberapa hari selanjutnya.

Fuma : Eh, Re. Terusan yang kemaren itu. Katanya lo mau nikah kan?
Gw : Iya.
Fuma : terus lo dah ada calonnya?
Gw : belom.
Fuma : Lah? Terus? Katanya mau nikah tapi ga ada calonnya? Dari kantor gitu?
Gw : Ya gimana cara klo misalnya hidup gw berkutat cuma dari kantor ke rumah dan weekend pun gw cuma bergaul ama temen-temen gw ndiri nonton DVD ato cerita-cerita dan waktu gw kebanyakan abis sambil ngenet. Orang kantor? Gw anti ama PNS.
Fuma : terus? Pasangannya dari mana? Yang dari Plurk itu?
Gw : ya ga tau wakakak..XD
Oh, gw emang ga ngarepin apa-apa ama dia. Gimana nanti ajalah. Banyak jalan menuju Roma haghaghag..XD
Fuma : Kasian banget. *daftarin mum ke biro jodoh*
Gw : *jitak Fuma*

NAH! Itu dia. Dari mana gw dapet pasangan hidup yang mau ama gw yang jelas-jelas ga mau kalah, sangat stubborn dan nantangin klo ditegor. Suami mana yang mau ama istri [s]ga[/s] solehah kek gw? Tapi itulah yang buat semua cowo rata-rata mundur hahaha... *ketawa hampa* Kebetulan gw pernah curhat ama Ayu soal ini di YM juga. Gw ngomong ama dia : keknya orang sering salah paham ama gw. Mereka ga kenal ama sifat gw yang sepertinya emang keras diluar tapi sebenernya gw juga orangnya tau diri. Klo gw dah tau salah ya pasti bakalan nurut. Dan toh biarpun kesannya gw suka ngatur tapi sebenernya gw ga mau jadi ibu-ibu bawel yang ngatur-ngatur suami kek sitkom 'suami-suami takut istri' itu. Gw malah cenderung merendahkan tipe-tipe suami yang kok mau-maunya diatur-atur istri. So? Tak kenal maka tak sayang kan? Tapi gw mau kenal dari mana ya? *garuk-garuk dagu sambil mikir*

Rabu, Oktober 15, 2008

sepi

Hari ini, tepatnya, malam ini.. gw ngerasa sepi. Sepi banget ya rasanya. Padahal list YM rame tapi ga ada satu pun yang gw berminat untuk im ngobrol geje. Toh gw juga jarang kok ngobrol geje sama anak-anak yang ada di list YM. Paling cuma segelintir dan semuanya udah op. FYI, tadi gw abis nangis. Nangis geje. Kenapa gw nangis geje? GA TAU! Sumpah gw ga tau kenapa perasaan gw rasanya amburadul kek gini. Tapi yang paling dominan dari semua perasaan gw adalah perasaan "sepi".

Iya, sepi.

Sepi? Kok bisa sepi sih? Bukannya list YM lagi rame? Tapi dari sekian banyak list YM itu berapa banyak yang biasanya gw ajak ngobrol? Cuma segelintir doank. Bukannya tadi abis curhat-curhatan ama Ayu? Iya dan gw merasa kek habis dikupas habis sampai ga bersisa. Segitu jujurnya gw ampe gw bahkan ga sadar bahwa rasa sepi itu justru mulainya dari situ. Gw ada conf, 2 buah. Rapat stap IH. Mereka conf secara bersamaan dan gw mencoba bersikap profesional dengan ga ngomong aneh-aneh dan tetep fokus tapi rasa sepi itu kembali melanda. Sepi karena tiba-tiba gw tersadar... sudah berapa kali kah gw ngerep di IH untuk minggu ini? Bulan ini? Kenapa gw segitunya ingin menghindari IH? Kenapa gw sama sekali ga ngerasa kangen untuk ngerep di IH? Sampe-sampe setiap ada conf geje anak IH yang biasa diadain paling ga sekali seminggu, gw cuma bisa diem karena gw ga ngerti bahan pembicaraan mereka. Padahal gw ol nyaris 24 jam dan window IH kebuka lebar di salah satu tab Mozilla. Don't ask why.. because i don't know.

Plurk adalah tempat pelarian gw saat ini dari dunia nyata. Toh, gw bisa dapet penghiburan dari kebosanan yang melanda dengan membaca komen-komen dan ngobrol ama anak-anak di plurk. Juga bisa ngikutin kegiatan dia di plurk yang rajin diupdate. Tapi tadi plurk sepi mampus. Sepiiiiii.... dan hati gw pun seakan membuncah dengan perasaan sepi yang ga bisa ditahan lagi. Gw perhatiin semua list YM gw dan tiba-tiba tersadar klo gw ga mau ngobrol dengan satu pun dari mereka. Dan klo pun gw nekat tau-tau nyapa, paling ga bisa lama karena mereka sibuk dengan kegiatan-entah-apa yang tidak termasuk ngobrol geje dengan gw. Aduh... gw ngerasa sepi... kesepian, tepatnya.

Gw melihat ke sekeliling gw dan itu membuat hati gw tambah perih kek disiram cuka. Di sini, di tempat ini. Sepi. Ga ada siapapun yang bisa gw ajak ngobrol face to face. Well, what do you expect from an office at night time? Gw ga mau ngobrol geje ma satpam. :|
Do you know kalau gw berusaha menggapai dan mengais-ngais sisa-sisa keeksisan gw di dunia nyata? Real World? Kesimpulan : gw bahkan ga punya kehidupan di RW. Kehidupan gw seakan bersumber dari NW and let me just say HOW PATHETIC I AM. Yah, paling ga gw masih punya life di salah satu dunia itu. Daripada ga ada sama sekali? -.-

Gw berusaha melupakan kesedihan gw dengan bekerja. And it works. For a while. Karena sementara gw kerja ada conf stap IH yang juga berarti kerjaan. Akhirnya gw teralihkan dan pas gw mengalihkan perhatian, itu conf udah selesai. :| *just how lonely a person could get?*
I wanna call someone, i wanna talk to someone... tapi SIAPA? Siapa yang mau gw curhatin klo gw bahkan ga tau apa yang mau gw curhatin? Dan entah kenapa gw ngerasa ada jarak somehow antara gw dan orang-orang yang gw pengen telpon itu. Why? I dunno.

Sudahlah. Gw mau menghibur diri dengan melihat-lihat foto-foto cosplay dan browsing di FI. Air mata gw dah kering. Nangis-nangis gejenya dah selesai. Perkiraan gw mungkin minggu depan gw PMS. Shit. :|

Kamis, Oktober 09, 2008

icons

Kemampuan gw sebagai grapics artist *cailah gaya* semakin meningkat dengan pembuatan icon-icon iseng based dari hasil foto2 kita-kita yang kemaren foto studio di BP (Blok M Plaza). Biarpun gw lagi DB ga ketulungan, tapi ga tau kenapa otak gw encer aja gitu pas bikin icon-icon ini. Lucu sih wkwkw..XD

Enjoy!














Lebaran..

Do you know kalau orang Arab itu tidak menganggap Idul Fitri itu sebagai hari raya besar? Mereka justru menganggap Idul Adha sebagai hari raya besar. Kebalikan dari kita di Indonesia yang menganggap Idul Fitri sebagai hari raya besar sampai-sampai harus dirayakan secara besar-besaran. Siapin makanan lebaran yang cukup buat seminggu penuh, beli baju lebaran abis-abisan ampe berebutan baju diskon, shop till you drop, semua harga bahan makanan pokok naik semua tapi abis semua, anak-anak kecil berlimpah uang karena dapet 'THR', orang-orang dewasa menghabiskan jatah THR tahunan mereka dalam beberapa hari libur hari raya, yang ga punya pekerjaan tetap, yang pekerjaannya berupa petani atau nelayan dan ga punya gaji tetap akhirnya menggadaikan emas tabungan mereka atau segala barang elektronik yang mereka punya... dan semua itu... HANYA untuk merayakan lebaran yang cuma dua hari.

Maaf, but don't you think it's over? (lupa bahasa inggrisnya, :p)

Gw pribadi merenungkan tentang hal ini sekitar beberapa lebaran yang lalu pas gw tahu bahwa orang Arab sendiri di sono ga merayakan Idul Adha secara berlebihan kek kita di sini. Kenapa? Bukankah kita merayakan kemenangan setelah 30 hari berpuasa menentang hawa nafsu dan berusaha mati-matian untuk menyempurnakan ibadah kita dalam 30 hari itu? Tapi setelah gw pikir-pikir lagi.. ya emang bener. Kita kan merayakan kemenangan itu, kemenangan diri sendiri. Diri sendiri yang sudah susah payah menempuh puasa, lapar, haus dan nafsu marah-marah dan emosi jiwa selama 30 hari. Tapi apa itu sangat penting kah? Maksud gw, ibadah puasa itu kan sebenernya bisa dilakukan setiap minggu, senin-kamis. Bisa juga puasa nabi Daud yang sehari puasa sehari lagi nggak. Dan masalah ibadah itu.. kenapa harus ditingkatkan selama 30 hari aja? Apakah di hari-hari lain diluar bulan Ramadhan berarti kita bisa leha-leha saja gitu? Kan nggak.

Atmosfer bulan puasa yang semua orang tiba-tiba pada menutup aurat di bulan puasa dan pake tank top di bulan-bulan lain itu keknya terkesan sia-sia buat gw. Entah kenapa bulan Ramadhan kali ini lewat tanpa kesan yang berarti. Semua konsumerisme, semua obrolan bulan puasa yang cuma ada di bulan ini doank, janji-janji para orang tua kepada anaknya akan dibelikan baju baru dan THR untuk mereka yang lulus puasanya... It's so useless. Belum lagi acara tipi yang ga guna itu. Kemana semua acara keagamaan? Kenapa isinya semua antara sinetron atau acara komedi? Apakah rating lebih penting daripada pembinaan moral? Mumpung bulan puasa gitu lhow. Kapan lagi acara tipi mau lebih mentingin agama dan didukung pula oleh rating bagus karena suasana yang mendukung? Tapi kenyataannya... masyarakat rupanya lebih suka menghabiskan waktu luang selama puasa mereka dengan nonton sinetron dan acara komedi. Mending sinetron religinya itu realistis gitu. -.-

Kenapa Idul Adha sepertinya berkesan seperti hari raya besar di negeri Arab sono? Pemikiran pertama gw yang terlintas di dalam otak adalah : karena ini adalah saatnya untuk berbagi. Untuk membuka telapak tangan dan memberi sebagian harta kita untuk orang-orang yang tidak mampu. Bukan untuk pamer kekayaan dengan memperlihatkan seberapa banyak sapi yang keluarga kita qurban-kan tapi untuk memberi makan kepada kaum dhuafa yang tidak mampu. It's so beautiful, menurut gw. Kemenangan bagi sesama. Bukan hanya kemenangan pribadi. Menunjukkan welas asih kita. Bukan hanya konsumerisme. I like that.

Bulan Ramadhan kali ini lewat tanpa arti. So meaningless. Kegiatan tetap berjalan rutin seperti biasa. Isi pembicaraan ga banyak berubah. Isi tontonan di tipi pun sama aja. Kehidupan gw berjalan tanpa irama tertentu. So plain. So flat. Ga ada lonjakan emosi tertentu. I can't believe that my life could be so emotionless. But.. than again.. it's always been this way.

Rabu, Oktober 08, 2008

Ujan :-|

Ok.. Harap diperhatikan bahwa gw ngetik ini blog lewat hape dan lowbatt pula ni hape.. Udah hujan, mati lampu pula.. Manyun si manyun tapi daripada gw ga punya temen ngobrol, manyun ndirian, mendingan ngeblog.. Ya ga? *kek ada yang peduli aja* btw, speed ngetik di hape gw ga brubah lhow walopun dah lama ga ngerep dari hape wkwk..xD *ga penting memang*

Apa ya? Gw mo ngomongin apa ya? Banyak si yang pengen gw curhatin tapi jempol gw tar kapalan *senam jempol* ok, i know itu jayus..xD

I like my new friends.. Friends yang, sejujurnya, ga bakalan gw tegor klo ketemu di RW. Ya iyalah.. Gw ada kepentingan apa nyapa dan SKSD anak sma dan kuliahan itu? Wkwkwk..xD Klo aja ga ada IH, maybe we'll never would have known each other. It's surprising how this net world thing works. Rata-rata yang ada di list Y!M gw itu semuanya antara anak SD, SMP, SMA, Kuliah, nganggur, kerja dan menunggu sidang. Semuanya ketemu first hand alias ga dikenalin teman lagi tapi emang kitanya aja yang SKSD kenalan karena kita semua tergabung dalam sebuah forum penulis called IndoHogwarts (www.indohogwarts.com) dan menurut pengamatan gw sih, ga cuma forum ini aja yang mengakibatkan efek kek gini (meeting new people)... Banyak!

It's pretty cool, i guess.

Tapi dari sekian banyak list Y!M gw (klo smua pada nyala pasti ada 200 org), paling yang gw ajak ngobrol cuma seorang 2 orang dan itu pun yang udah gw kenal ato have sumthing in common yg bikin kita nyambung dan cocok (take notes that friendship is made by how much they are connected). Kek gw cuma ngobrol diluar soal IH cuma ama adek gw, Lian (dia mah emg anak gaul wkwk), Ayu dan Mida. Waktu awal-awal gw ikutan IH gw ngerasa paling konek dan cocok emang cuma sama Lian karena qta berdua sama-sama dah kerja, punya perspektif yang sama tentang beberapa hal dan i dunno..nyambung aja gitu..keknya si faktor qta yang sebaya juga ngaruh..xD

Dan skarang temen ngobrol gw bertambah..and guess what? We have nothing in common! (klo lo liat dari luar ya?) Sama sekali ga ada. Klo ketemu di jalan pun mungkin kita bertiga cuma bakalan berpapasan dan ga akan begitu peduli tentang satu sama lain kecuali fakta bahwa kita menginjak bumi yang sama. Gw pikir karena faktor internet yang tidak mengharuskan kita untuk bertemu secara muka-lah yang membuat kita bertiga bisa 'berteman' secara nyaman tanpa label, prasangka ataupun pemikiran-pemikiran aneh lainnya fufufu..xD I consider them my friends (even if they call me 'mum') and i like them. :)
FYI, I have no idea that we could be like this.

Anyway, lampu dah nyala dah gw malay balik kerja lagi tapi hape harus dicharge. So c u @ the next entry. :)