Senin, Oktober 20, 2008

In the end... [My very first FF]

“Selamat malam, K. Sampai jumpa nanti di kantor ya?” Aku mengembangkan senyum lebar ke teman masa sekolahku yang selalu tampak ceria itu. Keisha Kadence Kaiya, nama lengkap wanita itu, langsung memelukku dengan hangat. Kebiasaan sahabatku yang selalu memeluk teman-temannya dan menyebarkan kehangatan di dalam suasana penuh kegelapan dimana orang-orang penuh kecurigaan terhadap satu sama lain, kesedihan dan kematian merajalela, kehangatan yang diberikan sahabatku itu selalu terasa berharga.

Mataku terpejam saat menikmati kehangatan yang disalurkan sahabat masa kecilku itu dari pelukannya. Rasa sedih menjalar dihatiku karena harus berpisah dari teman-teman sekolahku dulu. Reuni kecil-kecilan ini tidak cukup untuk memuaskan rasa rinduku. Lagipula walaupun kami cukup bersenang-senang di Leaky Cauldron yang sengaja dibooking untuk acara reuni angkatan 1972-1973 Sekolah Sihir Hogwarts, perasaan sedih dan kemuraman tetap terasa pekat di udara. Jumlah angkatan kami berkurang drastis sampai nyaris setengahnya. Beberapa meninggal, beberapa menghilang, sisanya telah memilih jalan kegelapan.

“Baiklah. Kamu akan pulang sekarang? Lihat, suamimu sudah menjemput,” Aku tetap tersenyum meskipun K telah melepaskan pelukanku dan menghambur ke pelukan suaminya. Ah, mereka berdua selalu tampak mesra. Pasangan lucu yang sangat bertolak belakang sifatnya itu saling mencintai satu sama lain. Terlihat sangat jelas. Aku melambaikan tanganku kepada mereka berdua sampai suara POP pelan menandakan bahwa mereka telah berdisApparate. Aku mengayun-ayun tas tanganku yang berukuran besar tanpa tujuan apapun. Rasa iri yang menyelinap membuatku tersenyum miris meskipun aku langsung menggelengkan kepala dan berdoa dalam hati agar mereka berdua tetap selamat sampai masa-masa kegelapan ini berakhir, meskipun aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir. ‘Tuhan, lindungilah teman-temanku.’

Berdiri di depan pintu keluar Leaky Cauldron yang butut, aku mendongak menatap langit gelap tak berawan tapi juga tak berbintang. Hanya ada satu bulan purnama penuh yang menerangi jalanan selain lampu-lampu buatan para muggle itu. Tidak ada orang lain yang lalu lalang seperti biasanya di jalanan sibuk dunia muggle ini. Wajar. Sekarang sudah tengah malam. Pesta yang berlarut-larut seakan-akan orang-orang itu ingin melupakan kemuraman dan kesedihan mereka dengan tidak mengakhiri pesta cepat-cepat walaupun pada akhirnya mereka toh harus segera pulang karena keluarga mereka menunggu di rumah.

Aku merapatkan mantel panjangku yang berwarna coklat muda. Tidak seperti teman-temanku yang lain, aku tidak suka mengenakan jubah penyihir. Angin malam berhembus pelan menyapu rambut panjangku yang ikal dan berwarna merah. Ada sedikit kebanggaan yang terbersit setelah melewati reuni barusan, diantara yang lain mungkin hanya aku sendiri yang tidak tampak seperti 10 tahun lebih tua. Mungkin karena aku belum pernah mengalami kehilangan yang berarti. Hidupku berjalan sebagaimana mestinya meskipun dalam masa-masa kegelapan seperti ini.

Dengan tas tangan mungil yang tersampir di pundak dan kedua tangan yang terbenam didalam saku mantel, aku berjalan menembus udara malam. Aku memang butuh udara segar setelah minum mead sebanyak itu, lagipula buru-buru pulang pun tidak ada gunanya. Siapa yang akan menungguku di rumah? Tidak ada, sayangnya. Aku memang tahu dan sadar tentang himbauan jam malam yang diberlakukan secara ketat tetapi hanya untuk malam ini, entah kenapa aku ingin sekali berjalan menyusuri jalanan London-nya muggle. Suara sol sepatuku menggema diantara tembok-tembok rumah para muggle diantara lolongan anjing liar yang berada entah dimana.

Gelap, sendirian dan hanya ditemani sinar rembulan membuatku memikirkan tentang reuni yang baru saja berakhir barusan. Sosok yang paling kutunggu di reuni itu memang datang tapi… Kane Dietriech tampak muram sendirian di sudut ruangan. Pria itu hanya diam memandangi mead panasnya tanpa menyapa orang lain di sekitarnya. Semua orang hanya memandanginya sekilas lalu memalingkan muka. Maklum karena dia baru saja kehilangan. Orang yang paling berharga. Siapa yang tidak tahu? Kisah tentang Kane Dietriech dan Shaula Khan cukup diketahui oleh teman-teman satu angkatan. Sayangnya perjalanan cerita mereka tidak berjalan mulus setelah lulus sekolah. Khan menghilang dan terakhir kali aku mendengar tentang gadis India yang dalam ingatanku selalu tampak cerdas dan tersenyum ceria itu, dia sudah meninggal dunia dalam salah satu penyerangan Pelahap Maut.

Tap.. Tap.. Tap..

Ada orang yang sedang berjalan di depan. Otomatis aku meraih tongkat sihirku. Gawat. Ada Pelahap Maut-kah? Am I going to die this time? No, wait. Sosok itu tampak familiar bagiku. Meskipun hanya tampak belakang tapi kau pasti akan mengenali punggung orang yang telah kau perhatikan selama bertahun-tahun lamanya. Aku memang mengenali punggung itu karena nasib telah membuatku hanya sanggup menatap punggungnya saja, tidak berani menatap langsung di wajahnya dan mengatakan padanya bagaimana perasaanku selama ini. Bahwa aku menyukainya. Bahwa selama ini rasa cintaku padanya tidak kalah dengan Khan. Bahwa selama ini aku hanya sanggup memperhatikan punggungnya yang tegap tanpa mampu mengatakan apapun tentang perasaanku dan hanya bisa mengais-ngais perhatiannya sedikit dengan cara bertengkar. Pertengkaran yang manis. Aku mengulum senyum lalu mempercepat langkahku.

“Kane Dietrich… ah, Sweetie,” sapaku dengan keramahan yang berlebihan sambil menepuk pundaknya yang tegap dengan kekuatan berlebih. Kane Dietrich mengernyit saat melihatku sambil mengelus pundaknya yang pasti sakit. Hahaha. Aku tertawa kecil sambil mengamati perubahan air muka Kane Dietriech dari jengkel sampai akhirnya hanya merengut lalu terus melanjutkan perjalanannya. Meskipun kesannya cuek, aku tahu dia mendengarkan. Tipikal dirinya. Meskipun sudah bertahun-tahun ada saja yang tidak berubah.

“--sweetie, humm? Mau sampai kapan kau memanggilku dengan sebutan itu? Aren’t we too old for this?” ucapnya tanpa menoleh ke arahku. Entah itu hanya perasaanku saja atau memang matanya seakan mencari-cari sesuatu diantara kegelapan di jalanan depan mereka.

“Kamu sendiri? Kalau begitu kau mengakui kalau kau memang sudah tua kan? Aku tidak pernah merasa tua, tuh,” aku kembali tertawa kecil. Kane Dietrich tidak menanggapi. Sepertinya dia terlalu sibuk mengamati jalanan kecil di depan kami tanpa alasan yang kumengerti walaupun dia tetap memasang senyum masam di wajahnya karena komentarku itu.

“Err.. I’m sorry for Khan. Aku sudah mendengar tentang dia,” ucapku dengan suara pelan. Akhirnya Kane Dietrich memusatkan perhatiannya kepadaku. Dia mendadak berhenti di tengah jalan, memandang lurus ke depan dengan pandangan kosong, menghela nafas berat lalu menoleh ke arahku sambil (mencoba) tersenyum tulus. Aku nyaris balik tersenyum melihat ekspresi mukanya yang sangat langka itu tetapi pandanganku tetap polos dan prihatin sambil mengusap lengannya yang kekar dan sangat dicurigai penuh dengan bekas luka. Pekerjaan sebagai Auror itu sangat berbahaya dan penuh resiko. Kane Dietrich memang sangat mencintai tantangan dan balik menatap maut dengan pandangan menantang. Itulah Kane Dietrich yang kukenal dan kucintai.

Tiba-tiba….

POP

POP

POP

Tiga orang muncul entah darimana di depan mereka. Pelahap Maut! Topeng-topeng mereka terpasang untuk menyembunyikan identitas asli mereka sekaligus menonjolkan identitas mereka yang lain sebagai Pelahap Maut. Mau tidak mau, aku merasa gentar. Secara otomatis posisiku langsung berada di belakang Kane Dietrich. Orang-orang itu menunjuk ke arahku meskipun pandangan mereka terarah ke Kane Dietrich. “Dia?! Apa-apan ini?!” ucap salah seorang dari mereka. Aku mengkerut ketakutan meskipun pandanganku menantang ke arah tiga orang Pelahap Maut itu. Ini memang salahku karena melanggar jam malam tapi semua akan jadi baik-baik saja. Ada Kane Dietrich. I hope.

“Pengganggu harus disingkirkan. Kau tahu hal ini kan?” Kini orang kedua berbicara. Ketiga orang itu menatap lurus pada Kane Dietrich. Aku menatap Kane Dietrich bingung. Wajah pria itu pucat pasi. Apa ini maksudnya? Mereka akan membunuh Kane Dietrich? Tentu saja. Dia Auror dan siapapun tahu, tiga lawan dua tak bisa dikatakan duel yang seimbang. Kami berdua harus lari! Tanganku mencengkeram erat lengan jubah Kane Dietriech.

“Kita harus lari Dietrich,” bisikku tegang. Entah kenapa Kane Dietrich hanya diam membisu. “Ayo kita lari,” bisikku lagi, kini lebih mendesak. Tanganku mulai menarik-narik lengan jubah Kane Dietrich sementara tanganku yang lain sudah menggenggam erat tongkat sihirku yang terpercaya. Apakah benang hidup kami berdua akan berakhir disini? Saat ini? Tapi…

“Minggir!” Bentak salah satu dari mereka. Aku tersentak kaget. Siapa maksud mereka?

Kane Dietrich tetap diam tak bergerak. Mulutnya bergerak sedikit seperti bersiap untuk bernegosiasi dengan mereka tetapi sebelum dia sempat mengatakan apapun tiga buah kilatan cahaya berterbangan dari ketiga tongkat sihir para Pelahap Maut itu.

“Depulso!”

“Crucio!”

“Crucio!”

Tiga mantra berbahaya dan semuanya bertujuan satu hal. Membunuhku dan Kane Dietrich. Seluruh hidupku seakan melintas di depan mataku seperti roll film yang diputar di bioskop. Masa-masa sekolahku yang sangat menyenangkan, teman-temanku yang tersayang, Kane Dietrich… Tidak!

“Kane Dietrich! AWAS!!”

Sambaran kilat mantra yang berbahaya menyambar tubuhku secara bersamaan. Kane Dietrich tampak terpana dibelakangku. Dalam sepersekian detik waktu yang menentukan, aku menarik lengan jubah orang yang kucintai itu dan menerima semua mantra dengan tubuhku. Keinginan untuk melindungi orang yang kucintai ternyata lebih besar daripada naluri untuk menyelamatkan diri sendiri.

“Evens--” Aku terkapar di tanah beraspal. Darah mengalir dari sela-sela bibirku sementara tubuhku berusaha bertahan sebisanya dari serangan mantra-mantra itu. Suatu keajaiban aku masih hidup biarpun nafasku tersenggal-senggal tak berdaya. Aku berusaha mencari-cari udara untuk memenuhi paru-paruku tapi percuma.. paru-paruku tidak lagi menerima udara yang susah payah kuhirup. Tiba-tiba saja tubuhku yang tertelungkup di tanah beraspal itu sudah menghadap ke wajah orang itu. Kane Dietrich. Sayup-sayup aku dapat mendengar suara salah satu Pelahap Maut itu,

“Kita selesaikan urusan kita nanti, Pavarell,” lalu bunyi POP pelan tiga kali berturut-turut. Kane Dietrich hanya menatap wajahku tanpa mempedulikan ketiga orang itu.

“Kenapa—“ Pria itu menghapus darah yang mengalir dari sisi bibirku perlahan.

“Ah, Sweetie..” Aku berusaha tertawa diantara nafasku yang tinggal sesekali saja. Darah kembali keluar dari sela bibirku diiringi batuk keras beberapa kali. Usahaku untuk tertawa rupanya membuatku semakin sulit untuk bernafas.

Aku merasakan lengannya yang kekar melingkari bahuku, menyanggaku. Ah, ternyata dia khawatir padaku. Ternyata disaat terakhir hidupku, aku akhirnya mendapatkan perhatian dari orang yang paling kuharapkan. Seharusnya... aku bahagia, bukan? Tapi kenapa ar mata ini mengalir di wajahku? Kane Dietrich menghapus air mata itu dengan kelembutan yang sama walaupun wajahnya semakin pucat pasi. Dengan kekuatanku yang tersisa aku meraih jubah pria itu dan mencengkeramnya lemah.

“Aku… aku tidak mau mati…” isakku lirih. Nafasku semakin tersenggal-senggal disela tangisku.

“…aku mau bersamamu…” suaraku memelan.

“…aku mencintaimu, Kane Dietrich…” Wajah Kane Dietrich semakin meredup sampai akhirnya hilang sama sekali. Badanku mendadak menjadi ringan dan aku tidak lagi mengalami kesulitan bernafas. Aku melihat ke tanganku dan aku bisa melihat tembus. Pandanganku beralih ke tubuhku yang masih dipeluk oleh Kane Dietrich. Pria itu… dia memelukku. Aku masih bisa mendengar suaranya yang berbisik pelan.. “Arzu…” sebelum semua pemandangan itu menghilang dan digantikan oleh suasana putih bersih. Sosok Mrs. Dufflick bersama dua orang laki-laki dan perempuan yang tidak kukenal. Aku tersenyum pada wanita gempal yang menjadi ibu kepala panti asuhan yang sangat kusayangi itu. Mrs. Dufflick memelukku erat dan akupun balas memeluk wanita itu. Hangat. Mrs. Dufflick tersenyum lalu menunjuk kearah dua orang pasangan muda itu. Sebuah kesadaran menyentakku. Mereka… orang tuaku? Aku tersenyum lebar sambil berlari memeluk pasangan itu. Mereka memelukku balik. Air mata mengalir lagi di pipiku tapi kali ini air mata kebahagiaan.

“Welcome home, Arzu…”


Disclaimer : semua chara yang saya pake di sini ga ada yang punya saya, semuanya punya PMnya masing-masing..XDD Rating : T. Ga ada yang bermasalah di sini hohoho..XD

Thank you kepada semua PM yang sudah meminjamkan charanya untuk gw utak atik, buat Pavarell dan Arzu yang menyempatkan untuk mengedit tulisan gw yang typo nama si Kane Dietrich wkwkkw..XD

Need comment!! Urgent!! XDD

Tidak ada komentar: