Kamis, Oktober 09, 2008

Lebaran..

Do you know kalau orang Arab itu tidak menganggap Idul Fitri itu sebagai hari raya besar? Mereka justru menganggap Idul Adha sebagai hari raya besar. Kebalikan dari kita di Indonesia yang menganggap Idul Fitri sebagai hari raya besar sampai-sampai harus dirayakan secara besar-besaran. Siapin makanan lebaran yang cukup buat seminggu penuh, beli baju lebaran abis-abisan ampe berebutan baju diskon, shop till you drop, semua harga bahan makanan pokok naik semua tapi abis semua, anak-anak kecil berlimpah uang karena dapet 'THR', orang-orang dewasa menghabiskan jatah THR tahunan mereka dalam beberapa hari libur hari raya, yang ga punya pekerjaan tetap, yang pekerjaannya berupa petani atau nelayan dan ga punya gaji tetap akhirnya menggadaikan emas tabungan mereka atau segala barang elektronik yang mereka punya... dan semua itu... HANYA untuk merayakan lebaran yang cuma dua hari.

Maaf, but don't you think it's over? (lupa bahasa inggrisnya, :p)

Gw pribadi merenungkan tentang hal ini sekitar beberapa lebaran yang lalu pas gw tahu bahwa orang Arab sendiri di sono ga merayakan Idul Adha secara berlebihan kek kita di sini. Kenapa? Bukankah kita merayakan kemenangan setelah 30 hari berpuasa menentang hawa nafsu dan berusaha mati-matian untuk menyempurnakan ibadah kita dalam 30 hari itu? Tapi setelah gw pikir-pikir lagi.. ya emang bener. Kita kan merayakan kemenangan itu, kemenangan diri sendiri. Diri sendiri yang sudah susah payah menempuh puasa, lapar, haus dan nafsu marah-marah dan emosi jiwa selama 30 hari. Tapi apa itu sangat penting kah? Maksud gw, ibadah puasa itu kan sebenernya bisa dilakukan setiap minggu, senin-kamis. Bisa juga puasa nabi Daud yang sehari puasa sehari lagi nggak. Dan masalah ibadah itu.. kenapa harus ditingkatkan selama 30 hari aja? Apakah di hari-hari lain diluar bulan Ramadhan berarti kita bisa leha-leha saja gitu? Kan nggak.

Atmosfer bulan puasa yang semua orang tiba-tiba pada menutup aurat di bulan puasa dan pake tank top di bulan-bulan lain itu keknya terkesan sia-sia buat gw. Entah kenapa bulan Ramadhan kali ini lewat tanpa kesan yang berarti. Semua konsumerisme, semua obrolan bulan puasa yang cuma ada di bulan ini doank, janji-janji para orang tua kepada anaknya akan dibelikan baju baru dan THR untuk mereka yang lulus puasanya... It's so useless. Belum lagi acara tipi yang ga guna itu. Kemana semua acara keagamaan? Kenapa isinya semua antara sinetron atau acara komedi? Apakah rating lebih penting daripada pembinaan moral? Mumpung bulan puasa gitu lhow. Kapan lagi acara tipi mau lebih mentingin agama dan didukung pula oleh rating bagus karena suasana yang mendukung? Tapi kenyataannya... masyarakat rupanya lebih suka menghabiskan waktu luang selama puasa mereka dengan nonton sinetron dan acara komedi. Mending sinetron religinya itu realistis gitu. -.-

Kenapa Idul Adha sepertinya berkesan seperti hari raya besar di negeri Arab sono? Pemikiran pertama gw yang terlintas di dalam otak adalah : karena ini adalah saatnya untuk berbagi. Untuk membuka telapak tangan dan memberi sebagian harta kita untuk orang-orang yang tidak mampu. Bukan untuk pamer kekayaan dengan memperlihatkan seberapa banyak sapi yang keluarga kita qurban-kan tapi untuk memberi makan kepada kaum dhuafa yang tidak mampu. It's so beautiful, menurut gw. Kemenangan bagi sesama. Bukan hanya kemenangan pribadi. Menunjukkan welas asih kita. Bukan hanya konsumerisme. I like that.

Bulan Ramadhan kali ini lewat tanpa arti. So meaningless. Kegiatan tetap berjalan rutin seperti biasa. Isi pembicaraan ga banyak berubah. Isi tontonan di tipi pun sama aja. Kehidupan gw berjalan tanpa irama tertentu. So plain. So flat. Ga ada lonjakan emosi tertentu. I can't believe that my life could be so emotionless. But.. than again.. it's always been this way.

Tidak ada komentar: