Senin, November 24, 2008

Salah.

Saya telah berbuat salah.
Kesalahan yang sama dan kesalahan yang baru.
Semua kesalahan itu bermuara dari satu titik yaitu keteledoran saya untuk berpikir sebelum bertindak dan berucap.
Semua manusia punya salah.
Itu adalah pembelaan saya.
Apakah semua kesalahan itu bisa dimaafkan?
Itu pertanyaan saya.
Beban rasa bersalah menghantui perasaan dan memberati pundak.
Minta maaf atas karena kesalahan tidak membuat perasaan lebih ringan.
Jika orang itu belum memaafkan.
Apakah harus menunggu sampai dimaafkan?
Atau pasrahkan saja pada Sang Kuasa.
Saya bersalah.
Pada manusia, pada waktu dan pada-Nya.
Saya terus meminta maaf.
Tapi kenapa selalu terulang?
Sebegitu bodohnya kah seorang manusia?
Sampai selalu terjebak di lubang yang sama.
Saya berbuat kesalahan setiap hari pada nyaris semua orang.
Tidak semua orang menyadari kesalahan saya.
Tapi saya tahu Dia menyadarinya.
Saya meminta maaf lagi.
Memasrahkan diri untuk dimaafkan atau dibenci.
Dibenci oleh manusia sungguh sakit hati ini.
Dibenci oleh-Nya sudah tamat riwayat saya.
Saya menyadari betapa sayangnya Dia terhadap saya.
Tapi saya selalu berbuat salah kepada-Nya dan kepada semua orang disekeliling saya.
Saya bersikap seperti mereka akan selalu mentoleransi kesalahan saya.
Sampai akhirnya mereka muak dan beranjak pergi.
Tidak ada lagi kata maaf.
Mereka sudah muak memaafkan.
Mereka sudah muak menerima kesalahan saya.
Tuhan yang Maha Pengasih dan Pengampun.
Apakah Engkau akan memaafkan saya?
Jika saya sendiri selalu melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang?
Kebodohan manusia.
Saya memang bodoh.
Itu bukan pembelaan.
Saya berbuat salah pada orang yang paling saya sayangi di dunia ini.
Ingin saya meminta maaf.
Lidah ini terlalu kelu dan hati ini terlalu beku.
Kalau saya sangat sayang kenapa rasanya berat meminta maaf?
Kenapa pada orang yang selalu ada untuk saya malah saya anggap terlalu ringan?
Seakan mereka akan selalu ada selamanya.
Tidak akan tertebas pedang waktu.
Kebodohan saya.
Kebodohan manusia.
Ini bukan pembelaan saya.
Saya sudah tahu bahwa saya salah.
Kenapa saya tidak meminta maaf dan tidak lagi melakukannya?
Kenapa saya diam saja dan terus melakukannya meskipun dengan rasa berat di hati?
Rasa bersalah itu terus bercokol di hati saya.
Tertelan waktu dan menghilang.
Hanya berbekas dosa di catatan sang malaikat.
Meskipun saya merasa bersalah.
Saya tidak meminta maaf.
Saya melakukan kesalahan yang sama.
Saya memang bodoh.
Saya hanya manusia.
Itu adalah pembelaan saya.
Dosa itu akan selalu tercatat.
Tuhan maafkan saya.

Tidak ada komentar: