Kamis, Desember 11, 2008

Suasana di tempat itu suram seperti biasa. Bertahun-tahun berlalu tapi waktu seakan berhenti di tempat ini. Sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di tempat ini. Di Leaky Cauldron. Biarpun berganti pemilik tapi keadaan tempat ini sama sekali tidak berubah. Waktu seperti statis di tempat ini. Sudah berapa tahun? Don't ask me. I won't answer that question.

Duduk di salah satu kursi kosong dengan meja bundar yang hanya memuat dua buah kursi kayu butut, wanita itu langsung memesan minuman Firewhisky dan menghabiskannya dalam sekali teguk. Tangannya kentara sekali sedang gemetar. Wajahnya yang cantik dan kaku terlihat pucat pasi. Matanya mengerling awas ke sekitarnya. Dengan cepat gelas kedua sudah terpegang mantap di tangannya yang berjari lentik dan halus. Rambutnya yang tertutup topi bonnet bertudung jala menutupi sepasang bola mata yang kelam dan tajam. Siapapun yang ditatapnya akan tertipu dengan keramahan yang terpancar dari kedua bola mata itu. Not all it seems is real.

"Recha..."

Wanita itu terlonjak kaget. Gelas yang dipegangnya nyaris meluncur dari jari-jari tangannya. Pria yang menyapanya barusan mengangkat alisnya melihat tingkah laku wanita yang dikenalnya sebagai wanita tegar yang tidak tergoyahkan. Ada sesuatu yang berbeda. Seakan-akan 'topeng' bangsawan aristokrat yang selalu melekat di wanita itu terlepas. Di hadapan pria itu hanyalah seorang wanita. Wanita yang sedang ketakutan.

"Max. Aku menunggumu. Kau datang sendiri?" tanya wanita yang bernama Recha McFadden itu.

Pria yang disapa Recha dengan nama Max itu duduk di kursi satu-satunya yang tersisa di meja bundar itu. Suasana di sekitar mereka sepi. Wajar, sekarang sudah nyaris tengah malam. Yang tersisa di tempat itu hanyalah pemabuk yang tidur di atas sebotol firewhisky dan seorang nenek sihir yang sedang memesan kamar di penginapan yang terletak di lantai dua pub dan penginapan itu. Pemilik Leaky Cauldron yang bungkuk dan buruk rupa itu bahkan tidak menatap ke arah mereka berdua. Meskipun begitu, wanita yang tampak masih di pertengahan umur 20-an itu tetap membisikkan mantra 'muffliato' ke segala arah dengan tongkat sihirnya.

Recha mengalihkan kembali pandangannya ke arah Max. Dia tetap memandangnya dengan tanpa ekspresi. Meskipun begitu Recha cukup mengenal pria dingin itu untuk tahu bahwa dia sebenarnya khawatir... pada dirinya. Recha mengambil nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Ia bisa merasakan sentuhan tangan Maximillian Morcerf yang terasa dingin namun lembut diantara jemari tangannya yang gemetaran. Seketika itu juga tangannya berhenti gemetar. Ia mendongak dari gelas berisi Firewhisky yang ditatapnya nanar sedari tadi dan tersenyum pada pria itu. Kurang meyakinkan. Bibirnya masih gemetar.

"Sirius... dia di Azkaban..." ucap lirih wanita itu. Max masih memandangnya tenang. Recha tidak bisa merasakan emosi apapun dari pria itu selain genggamannya yang semakin erat di antara jemarinya. Berusaha menguatkannya agar tetap tabah? Recha tersenyum lemah pada pria itu. From all people in this world, this man is the only person who she could rely on at a time like this.

"You don't understand..." Recha menggeleng lemah. "I make him go to Azkaban. Peter Pettigrew is not dead. Ini semua jebakan. Aku yang merencanakan semua ini."

Recha menatap tajam wajah pria yang bermata biru itu. Berusaha menebak apa reaksi dari pria yang amat sangat jarang menunjukkan isi perasaannya ataupun emosinya pada seorang pun. Apa yang diharapkannya dari pria ini? Pengampunan? Penerimaan? Why him? Why not Sirius? Toh dia bersalah terhadap Sirius. Bukan terhadap pria ini--Max.

Apa yang dilihatnya membuat wanita berambut panjang ikal itu terkesiap. Max... tersenyum. Senyuman yang lembut, hangat. Jenis senyuman yang sanggup membuat setiap wanita meleleh tapi efeknya justru kebalikannya pada Recha. Ia merasa bulu kuduknya meremang dan sedikit rasa ketakutan menyelinap di dalam relung hatinya. Berbahaya. Pria yang berbahaya.

***

Suara ombak terdengar menghantam karang yang menjulang tinggi. Suasana desa kecil di pinggir pantai itu sepi. Bukan jenis pantai yang akan didatangi turis ataupun pendatang. Desa itu terlalu terpencil dan tidak ada yang bisa dilihat di tempat ini selain karang dan kabut. Suasana khas perdesaan Inggris yang sepi dan dingin sangat kentara sekali. Di ujung karang tertinggi, dimana ombak menghempas keras karang dibawahnya sementara serpihan air laut yang dingin hanya sanggup memercik rerumputan di atas karang itu, sesosok wanita tiba-tiba muncul entah dari mana disusul oleh kehadiran seorang lelaki yang mengenakan mantel panjang beberapa saat kemudian.

Mereka berdua terdiam sesaat lalu saling bertatapan. Recha menatap wajah pria itu yang tidak bergeming, seperti biasa. Recha sendiri tidak sedang memakai 'topeng'nya yang biasa ia tunjukkan pada seluruh dunia. Topeng seorang lady bangsawan yang terhormat. Tersenyum dan tertawa seperti tidak mempunyai sejengkal masalahpun di dunia ini. Hanya kepada pria yang berdiri di hadapannya ini ia bisa menampilkan dirinya yang sebenarnya. Dirinya yang tanpa 'topeng' dengan segala kebusukan yang tersembunyi di baliknya tanpa takut dengan penolakan dan penghinaan. Seseorang yang mau menerima dirinya apa adanya. Orang yang hanya ingin dijadikan miliknya seorang tanpa harus membaginya dengan siapapun.

Tapi itu tidak mungkin. Kedekatannya dengan Zabini demi pencarian status di kalangan penyihir membuatnya terjebak dalam lingkaran setan. He-who-shall-not-be-named telah membujuknya untuk menghancurkan Sirius, mantan kekasihnya, juga menyelundupkan informasi dari Kementrian Sihir tempatnya bekerja. Recha tidak berdaya di tangan sang pangeran kegelapan. Dipermainkan dan dirampas kebebasannya. What can one woman could do to protect herself and her family in the hands of the greatest dark wizard?

"Max..." Pandangan matanya sendu dan mengandung seribu arti. Pria yang ditatapnya hanya balas memandangnya dengan lembut saat ia memegangi lengan kekar pria itu. "I don't want to lose you. Please..."

"You wont," suara tegas Max yang diiringi dengan deburan ombak membuat mata wanita itu berkaca-kaca.

"I wont? Tapi ini sudah kesekian kalinya dalam tiga bulan terakhir ini aku harus menyeretmu ke tempat ini untuk berbicara. Aku tahu urusanmu dengan Francis itu penting tapi... apa kau tidak menganggapku juga penting?"

"Kau penting! You're important in my life. I cant bare to lose you,"

"Than come with me! Leave him! Nicolas dan Kristobal sudah dewasa. Mereka bisa menjalani hidupnya sendiri. Francis bukan majikanmu, Max. Your loyalty to him is beyond normal," Akhirnya kata-kata itu meluncur keluar. Kata-kata yang telah dipendam di dalam benaknya selama beberapa bulan belakangan ini. Ketika keadaan mulai menjadi tidak tertahankan tapi Max tidak ada disisinya untuk menjadi tumpuannya. Francis menguasainya lebih dari hubungan adik-kakak yang normal. Rasa cinta Max pada saudara-saudaranya terkadang terasa seperti hubungan spiritual yang tidak akan bisa ditembus olehnya. And she knows this.

That a moment like this will come. No matter how much she feels to run away from it.

"Recha..." Max membelai pipinya lembut. Menghapus setitik air mata yang jatuh entah sejak kapan.

"No, Max. Kita tidak bisa menghindar lagi. Don't do this to me," tegas Recha. Tangannya menampik jemari lembut Max yang mengelus pipinya seperti yang selalu dilakukannya jika Recha sudah mulai terlalu menuntut. Cara yang ampuh karena dia hanya akan terdiam dan menuruti apapun yang dikatakan Max. Harap dicatat bahwa selain Pangeran Kegelapan yang harus diturutinya secara terpaksa, hanya Max manusia satu-satunya di dunia ini yang dengan rela hati akan dituruti perkataannya oleh Recha selama hidupnya. Jangan tanya kenapa. Coz I don't know.

Mata Max meredup. Recha menghindari tatapan langsung dari pria yang dicintainya itu.

"Max! Kau tahu apa yang akan terjadi! He'll kill you and the rest of your family. Francis sudah mendapatkan perhatiannya." Recha terdiam sesaat setelah ungkapan frustasi yang tidak lagi bisa ditahan. Oh, jangan kira ia sepolos itu sampai tidak tahu kenapa Francis selama ini hanya diam dan tersenyum kepadanya selama Recha berhubungan dengan adiknya yang tersayang. Recha adalah sumber infomasi yang berharga dari dua kubu yang berlawanan. Pandangan dari sisi putih dan hitam. A double agent who knows everything. Terlalu berharga untuk dilepaskan begitu saja.

Diam-diam Recha berharap Max sama sekali tidak berpikir sama seperti kakaknya yang bajingan itu.

A hopeless thought.

She knows better.

Sama seperti Recha yang memanfaatkan Max sebagai tumpuan hidupnya, pria itu juga memanfaatkannya sebagai sumber informasi yang berharga. Menurutmu itu pertukaran yang imbang?

"Cukup. Sudah cukup." Recha menggeleng keras. Rambutnya bergoyang keras mengikuti gerakan kepalanya. Sepasang bola mata hitam itu menatap lurus ke mata biru laut tenang yang dimiliki oleh Max. "It comes to this, at last," suara tawa itu terdengar lirih awalnya dan mengeras lalu tenggelam dibawah suara deburan ombak yang tidak kenal lelah menghantam karang di bawah kaki mereka berdua. Recha menarik jubah panjang Max lalu mencium bibir pria itu dengan penuh hasrat. Seperti yang telah ribuan kali mereka lakukan di tempat yang sama. Tempat ini, tempat rendezvous mereka. Tempat rahasia yang hanya dimiliki oleh mereka berdua.

"So this is goodbye." ucap Recha lirih. Mereka berdua terpisah hanya beberapa centimeter satu sama lain. Pelan, Recha mendorong tubuh Max yang tinggi kekar untuk menjauh dari dirinya. Ia mengeluarkan sepotong kertas segi empat yang terlipat rapi dan melemparkannya asal ke pria itu. Tidak ditangkap olehnya. Mereka berdua tahu apa isi kertas itu. Surat undangan pernikahan Recha dengan pria lain yang telah diatur oleh ayahnya. You'll be aware right now that no one knows about this relationship but them and Francis.

"Pernikahan itu akan diadakan minggu depan. Datanglah dengan siapapun yang kau suka. Setelah itu... jangan muncul di hadapanku lagi.

You know the drill.

I would have to kill you or my family dies,"

Recha berbalik berjalan ke tepi karang sampai ia berhadap-hadapan dengan laut yang ganas dan langit luas tak berbatas. Biru. Mengingatkannya pada sepasang mata teduh yang tidak akan pernah bisa dilupakannya seumur hidup. Menghantuinya sampai mati. Kutukan yang dibuatnya sendiri. Cinta memang mengerikan.

"I love you, Max,"

Recha berbalik menghadap Max yang berdiri mematung mengamati siluet dirinya berlatarkan lautan dan langit biru. Angin berhembus kencang, rambut Recha yang panjang melambai di udara. Mereka berdua saling bertatapan. Tanpa suara, tanpa perkataan, tapi mereka mengerti. Seribu kata tak berarti apa pun bagi mereka berdua.

So this is goodbye.

Tidak ada komentar: