Sabtu, Januari 03, 2009

Dreams

Setiap orang punya mimpi. Mimpi itu diimpretasikan dalam berbagai bentuk. Cita-cita, target, resolusi awal tahun, dsb. Sayangku, aku tidak punya mimpi. Kau boleh bermimpi, katanya. Umurmu masih muda, perjalanan masih panjang, kata mereka. Kejarlah impian dan cita-citamu setinggi langit, kata Pak Guru.

Tapi Sayangku, aku tidak punya mimpi, target, ambisi, cita-cita... dan resolusi awal tahun.

Ketika semua orang berlomba menuliskan resolusi awal tahun, aku hanya diam hampa menatap kalender yang berganti angka dari 8 menjadi 9. Sayangku, aku tahu semua orang harus punya mimpi. Kalau tidak apa arti hidup mereka di dunia ini. Aku melihat resolusi semua orang. Indah, muluk, cita-cita dan mimpi yang manis.

Tapi Sayangku, aku tidak punya mimpi, target, ambisi, cita-cita... dan resolusi awal tahun.

Tanggalan kalender berubah setiap hari tapi duniaku rasanya berjalan hanya lurus dan tak berkelok. Dunia yang berwarna-warni dimataku hanya warna abu-abu yang terlihat. Sayangku, kemarin aku melihat sebuah film picisan dari Indonesia yang bercerita tentang sepasang sahabat. Yang satu mempengaruhi yang lain dengan cara yang negatif. Ketika sang Ayah bertanya kepada si anak : "Kenapa, Nak? Apa yang kamu mau sebenarnya?" Si anak menjawab : "Hidup yang tidak sempurna." Keduanya berlinangan air mata. Hidupku tak sempurna, tapi manusia tak pernah ada puasnya.

Sayangku, berikanlah aku mimpi, agar aku bisa memandang masa depan dengan harapan.

Sayangku, berikanlah aku warna, agar aku bisa melihat dunia yang indah ini.

Sayangku, berikanlah aku cita-cita, agar aku bisa merasa lebih hidup.

Selamat tahun baru.

Tidak ada komentar: