Minggu, Februari 08, 2009

The Broken Wing


Musim hujan. Suara gemerisik air tidak mengganggu tidur seorang gadis. Suara tawa bocah-bocah yang menyambut kedatangan hujan, juga tidak sanggup mengganggu tidur sang gadis.

Dingin. Angin membawa percikan air halus, membasahi sebagian alas tidur. Gorden putih menari, mengikuti gerakan angin yang menerobos masuk. Jendela kamar itu sengaja dibuka. Seandainya gadis itu tahu hujan akan begitu lebat, tentu dia sudah menutup jendela itu sebelum tertidur.

Tadi hanya gerimis. Jendela itu sengaja dibuka. Sang gadis menyukai aroma hujan pertama di akhir musim kemarau. Tetapi hanya dinikmati sebentar. Setelah sepuluh menit berbaring, dia tertidur. Dengan sebuah handuk kecil basah yang menutup keningnya. Gadis itu sakit.

Sebuah mimpi membawa sang gadis pergi ke dunia lain. Sebenarnya bukan dunia lain, gadis itu sedang menatap hatinya sendiri.

•••


Ini bukan dunia manusia. Sepanjang mata memandang hanya rumput hijau halus permadani. Sebuah pohon apel, dan danau luas dengan air yang sangat jernih. Tidak ada hujan, tetapi permukaan danau seolah menyerupai kondisi cuaca di dunia sang gadis. Tidak ada rintik air, tetapi riak permukaan danau seolah terkena hujan air yang kasat mata. Jangan dipikirkan keanehan itu, ini bukan dunia manusia.

Di pingir danau, tampak seorang gadis kecil dengan baju terusan hitam, memiliki sayap hitam yang dipenuhi bulu meyerupai bulu unggas. Dia tidak memakai alas kaki, tetapi tampak nyaman berjalan di atas rumput. Jika di dunia manusia, usianya sekitar dua belas tahun.

Gadis kecil itu menekuk lutut, duduk di tepi danau. Pantulan air danau sangat jernih, setiap helai rambut coklat gelapnya terpantul sempurna. Gadis itu akan semakin cantik jika tersenyum, tetapi wajahnya datar. “Sedang hujan rupanya,” dia mengibas rambut coklat ikalnya. “Mengganggu,”

Gelombang air semakin besar, gadis kecil berpakaian hitam baru saja memukul permukaan air. Hal yang bodoh karena wajahnya sekarang basah. Bibirnya tidak melengkungkan senyum, dia memperhatikan pantulan air danau, ada seseorang yang berdiri di belakangnya.

“Sendiri saja, Moira?”

Benar, gadis berpakaian hitam itu bernama Moira. Dia tidak menoleh kebelakang. Tanpa melakukan itu, dia sudah tahu siapa yang datang. Sudut bibir kirinya tertarik. Syaraf mengejek Moira sedang bekerja. “Kau tidak berubah sama sekali, Kara,” Gadis bersayap hitam itu menatap ke arah belakang. Menatap gadis kecil bernama Kara. “Pantas saja, majikan kita tidak pernah mendengar suara hatimu. Kau sendiri tidak pernah menganggap dirimu ada,”

Moira berdiri. Mata gelap itu menatap duplikat dirinya. Semua sama, bentuk wajah, tinggi badan, warna rambut, bola mata, semua sama. Hanya saja—Kara memakai pakaian putih, sayap berwarna putih dan senyum melengkung di bibirnya.

“Oh—aku—” Kara lebih normal untuk usia dua belas tahun. Dia mengerucutkan bibir, tidak membalas kata-kata Moira. Tetapi sekali lagi, ini bukan dunia manusia. Mereka bukan bocah kembar.

Mereka diciptakan sama, tetapi dengan fungsi yang berbeda. Mereka tinggal di dalam hati majikannya. Moira di sisi hitam. Kara di sisi putih. Siapa yang lebih dominan? Hanya hati majikan mereka yang bisa menilai. Bila kalian menebak siapa majikan mereka, dia adalah gadis di awal cerita. Gadis yang sedang terbaring sakit di ranjangnya.

Kara menyodorkan apel yang beberapa saat lalu terjatuh dari pohon. “Kau mau?” Apel itu masih berwarna merah segar. Kara tidak tahu bahwa Moira akan datang ke danau ini, jadi dia sudah menggigit apel tersebut. Hanya satu gigitan.

“Berani memberiku barang bekas, Kara?” Moira memberi penekanan pada dua kata terakhirnya. Matanya menatap apel dalam genggaman Kara, lalu menatap kembarannya dengan wajah tidak suka.

“Sayang sekali, padahal enak,” Kara mengerucutkan bibirnya sekali lagi.

Moira tertawa mengejek.

•••


Majikan mereka sakit. Itu berarti saat beristirahat untuk Kara dan Moira. Dunia tempat mereka tinggal sangat luas. Manusia selalu mengatakan isi hati lebih dalam dan lebih luas dari samudra, memang begitu kenyataannya. Sayangnya dalam keluasan itu, hanya ada Kara dan Moira. Selama ini mereka saling memperebutkan hati majikannya. Manusia selalu berasumsi bahwa hidup tidak mutlak hitam dan putih, mereka ada di daerah abu-abu. Kenyataannya, ada Kara dan Moira.

Angin sejuk meniup daun dari pohon apel yang berdiri di samping danau. Daun itu jatuh di atas permukaan danau. Terbawa arus entah kemana. Moira tampak nyaman dalam posisi mencelupkan kaki. Kara ikut memasukkan kakinya sebatas lutut ke dalam danau. Sayang sekali, Moira langsung mengambil jarak saat Kara duduk di sampingnya.

“Bagaimana keadaan majikan kita?” Kara memulai percakapan sambil menggerakkan kakinya yang terendam. Gelombang air kembali menghiasi permukaan danau. Hujan di dunia manusia sudah reda, tetapi suhu tubuh majikan mereka belum turun.

Moira sadar bahwa Kara sedang berbincang dengan dirinya. Selama ini Moira selalu merasa lebih unggul dari kembaran ‘putih’nya. Gadis kecil itu mendengus pelan. “Karena ulah siapa majikan kita sakit?” Moira menatap tajam mata Kara. Memberi penekanan bahwa semua ini adalah ulah kembaran ‘putih’nya.

Mata Kara mengerjab beberapa kali. “Kau menyalahkan aku?”

“Tentu saja,” Moira memainkan rahang bawahnya. “Perlu aku ingatkan kembali kejadian beberapa bulan yang lalu?” Senyum kemenangan melengkung di bibir mungil Moira.

Kara terdiam. Dia tidak bisa menebak apa yang salah beberapa bulan yang lalu. Selama ini dia adalah putih, baik, lurus, polos. Apa ada yang salah dari semua itu? Kalau ada yang salah, seharusnya ada pada Moira, hitam, jahat, angkuh, egois.

“Ingat apa yang dilakukan majikan kita—” Moira pura-pura lupa. Menghitung melalui jari-jarinya. “Dua bulan yang lalu tepatnya,”

Ingatan Kara terbuka. Dua bulan yang lalu, dia menang dari Moira. Tepatnya pada saat majikan mereka mengikuti sebuah acara. Kara senang dengan acara itu. Masih membekas dalam ingatan, canda tawa majikan bersama teman-temannya, bersama orang-orang dewasa hebat, aroma pegunungan.

“Semua omong kosong itu—Power of Giving,” Moira mulai menuju poin yang dimaksud.

“Itu bukan omong kosong, Moira,” Kara menoleh ke arah kembaran ‘hitam’nya. Yang hebat, Kara masih memakai suara lemah lembut dan tersenyum. “Kau sendiri pucat saat pria dewasa itu mengatakan sesuatu mengenai Power of Giving. Majikan kita tidak perlu bisikan dariku untuk menerima bahwa hal itu adalah hal baik,”

“Karena dia terlalu bodoh dengan menerima hal itu mentah-mentah,”

Kara membelakkan matanya, “Kau mengatakan majikan kita apa?”

“Tidak—” Moira memutar rambut coklat ikalnya dengan ujung jari. Pura-pura lupa bahwa dia baru saja mengumpat majikannya sendiri. “Saat itu aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Majikan kita sayang percaya dengan semua omong kosong mengenai Power of Giving,” Gadis 'hitam' itu mulai tersenyum, membuka mulutnya dan mengeluarkan suara ketus. “Mana yang lebih memuaskan hati, memberi atau diberi? Jika kita banyak memberi, maka orang lain juga akan memberi sesuatu untuk kita. Manusia yang paling bermanfaat adalah manusia yang berguna untuk orang lain, dengan jalan memberi tentunya, memberi apapun yang dia bisa—”

Jadi selama ini Moira begitu perhatian dengan kalimat yang masuk ke otak majikannya? Kara kagum. Saudara ‘hitam’nya mengingat dengan baik apa yang seharusnya diingat Kara.

“Semua itu omong kosong.” Tangan Moira menepis permukaan danau. “Bodoh dia tidak mendengar perkataanku,” Sisi angkuh Moira bekerja. “Lihat—dia sekarang sakit. Kau tahu berapa banyak yang sudah diberikan majikan kita untuk orang lain? Dan apa yang dia peroleh, Kara? Tidak ada,”

“Ini baru dua bulan,”

“Mau menunggu sampai kapan?”

Kara terdiam. Dia tahu benar apa yang terjadi pada majikannya saat ini. Fisiknya tidak sakit, tetapi ada sesuatu yang salah dengan hatinya. Yeah, hatinya. Tempat dimana Kara dan Moira tinggal. “Saat itu dia juga diberi kisah The Giving Tree. Majikan kita—dia mengagumi cerita itu, dia bahkan—”

“Menangis setelah cerita selesai dibacakan?” Moira tertawa mengejek. “Menurutmu kenapa dia menangis saat itu?”

“Karena dia merasa belum bisa memberi banyak,”

Tawa Moira semakin keras.

“Yang benar saja, Kara.” Si 'hitam' merendahkan suaranya setelah tertawa. “Mana ada manusia yang bisa seperti pohon itu? Itu hanya dongeng yang sudah ketinggalan jaman. Karena kenyataannya—”

Kalau saja Kara tidak diciptakan 'putih', mungkin dia sudah melempar apel yang baru jatuh dari pohon ke wajah Moira. Sayangnya program seperti itu tidak ada dalam diri Kara.

Moira mendekatkan bibirnya ketelinga Kara. “Tidak ada yang namanya Power of Giving. Aku mulai membisikkan itu ke telinga majikan kita. Kau mau tahu apa yang kubisikkan selanjutnya?” Wajah Moira menjauh dari wajah Kara. Telunjuk Moira meraih helai rambut Kara. “Jangan terima apapun mentah-mentah, mulailah berpikir terbalik,”

Kara diam, membiarkan Moira mengatakan apa yang dia mau.

“Kalau Power of Giving mengatakan—jika kita memberi untuk orang lain, maka kita akan mengalami kepuasan batin, dan suatu saat nanti, kita akan menerima balasan yang sama dari orang lain,” Moira menatap Kara sambil terus memainkan rambut kembaran ‘putih’nya. Gadis kecil 'hitam' itu membatin bahwa, mereka adalah duplikat, tetapi rambut coklatnya lebih bagus dari milik Kara. “Kenyataannya tidak begitu, Kara. Orang lain baru melihat kita, jika kita memberikan sesuatu untuk mereka. Mereka akan menganggap kita ada, jika kita memberikan sesuatu untuk mereka. Paham dengan kata-kataku?”

Kara masih diam.

“Maksudku—kalau kita tidak punya apa-apa, tidak punya sesuatu yang bisa dibagi dengan orang lain, kau tidak cerdas, tidak pintar meraih hati atau simpati orang lain, jangan harap orang lain mau memandangmu,” Moira tersenyum puas. Melepas jarinya dari rambut Kara. Sedikit heran karena kembaran ‘putih’nya tidak bereaksi. “Oh well—kau bodoh atau bagaimana?” Bola mata Moira berputar.

Kara tetap tidak bersuara.

“Baiklah—aku beri contoh,” Moira menyibak rambut coklatnya. “Ada seorang gadis yang tinggal di sebuah desa. Lalu pada suatu hari rumahnya habis terbakar. Tidak ada barang yang bisa diselamatkan. Seluruh penduduk desa menyaksikan kejadian itu, dan sebenarnya mereka bisa menyelamatkan beberapa barang milik sang gadis, tetapi mereka tidak melakukannya. Akhirnya sang gadis memutuskan memisahkan diri dari penduduk, lalu meninggalkan desa tempat dia dibesarkan. Menurutmu siapa yang salah?” Alis kanan Moira terangkat. “Penduduk desa yang tidak mau menolong sang gadis, atau karena sang gadis selama ini tidak pernah bergaul dengan masyarakat desa?”

“Hmmm...” hanya itu yang keluar dari bibir mungil Kara.

“Itu bukan jawaban, Kara,” Moira mengeluarkan kakinya dari danau, berdiri dan memutuskan untuk pergi dari danau ini. Malas berlama-lama dengan pesaing utamanya. “Jadi—berhentilah berteriak mengenai Power of Giving. Majikan kita sekarat, aku jadi ikut repot karena tidak bekerja,”

Moira menganggap apa yang dia pikirkan adalah benar. Itulah pekerjaannya. Dia diciptakan berlainan arah dengan Kara. Kenapa kembaranya itu sejak tadi diam? Kara tidak bodoh, hanya saja dia sering takut mengeluarkan arguman. Oh—mungkin Kara terdiam karena tersinggung. Moira ingat kalimat yang tadi dia sampaikan kepada Kara.

“Pantas saja, majikan kita tidak pernah mendengar suara hatimu. Kau sendiri tidak pernah menganggap dirimu ada,”


Mungkin terkait dengan,

“...tidak pintar meraih hati atau simpati orang lain, jangan harap orang lain mau memandangmu,”


Memangnya Moira peduli dengan Kara? Lagipula tidak mungkin Kara tersinggung, dia 'putih'.

“Aku akan buktikan kalau yang kau pikirkan salah, Moira,” ucapan tenang Kara berhasil membuat Moira menghentikan langkahnya. Dia tampak tenang memainkan ujung jari di atas permukaan danau. Samar-samar dia melihat majikannya yang terbaring nyaman dalam tidurnya.

“Dengan cara apa? Menunggu hingga orang lain sadar bahwa majikan kita ada? Mereka hanya menganggap majikan kita angin lalu,” Senyum Moira semakin penuh kemenangan. “Sayang sekali, hampir tidak ada orang baik yang seperti itu, Kara,”

“Kalau kau merasa telah berhasil mematahkan teori Power of Giving, majikan kita masih dalam tahap memahami kisah The Giving Tree, aku tahu itu,”

Kedua tangan Moira berada di pinggang. Menatap Kara dengan tidak percaya. Kembaran 'putih'nya masih berani berargumen, padahal selama ini dia berkali-kali kalah dari Moira. “Pohon itu bodoh kalau kau tahu, diperas hingga tidak punya apa-apa. Apa yang diharapkan dari kisah itu? Apa yang bisa dicontoh majikan kita dari kisah si pohon?”

“Pohon itu tidak punya apa-apa pada akhirnya, tetapi dia bahagia, Moira,” Kara memberikan tersenyum terbaiknya, tetap pada posisi duduk di tepi danau, dengan kaki yang masih berada di dalam air. “Itu adalah kalimat terakhir dari kisah The Giving Tree. And the tree was happy,”

Bola mata Moira kembali berputar, sekali lagi dia mengibaskan rambut coklatnya. Bergegas menjauh dari Kara. “Oh—terserah!”

Angin menerbangkan sehelai bulu dari sayap Kara. Benda ringan itu jatuh di atas permukaan danau. Permukaan yang tadinya tenang, sekarang bergelombang tipis. Memudarkan pantulan wajah Kara yang sedang bercermin. Gadis kecil itu berbisik sambil menatap apel yang kembali jatuh dari pohonnya. "Majikan kita—saat ini dia masih mau mendengar bisikanku, Moira,"

•••


Hujan sudah reda. Sang majikan masih nyaman dalam tidur. Suhu tubuhnya mulai menurun. Apa keputusan akhir dari perdebatan Kara dan Moira? Tidak ada yang tahu. Pada akhirnya, hati majikan mereka yang akan memutuskan.

---selesai---



Tambahan:
Moira diambil dari bahasa Ibrani yang berarti pahit.
Kara diambil dari bahasa Yunani yang berarti murni.
(sumber: Buku Pintar Senior)

The Giving Tree adalah sebuah buku cerita anak-anak karangan Shel Silverstein.

Cerita 100% karangan saya sendiri. Awas aja kalo ada yang ngopi, nanti saya minta pertanggung jawaban di alam lain.

Terima kasih ^-^v

Tidak ada komentar: