Selasa, Februari 17, 2009

Shhh...~

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dari Nabi shalallahu alaihi wa salam, beliau bersabda:
''Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata-kata yang baik atau hendaklah ia diam.'' (HR Bukhari dan Muslim)
Orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala tentu dia takut kepada ancaman-Nya, mengharapkan pahala-Nya, bersungguh-sungguh melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Yang terpenting dari semuanya itu ialah mengendalikan gerak-gerik seluruh anggota badannya karena kelak dia akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan semua anggota badannya, sebagaimana tersebut pada firman Allah:

''Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya'' (Al Isra' ayat 36)

Bahaya lisan itu sangat banyak, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam juga bersabda:
''Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya'' (HR Timridzi)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”. [Bukhari no. 6018, Muslim no. 47]

Taken from a forum when I was searching for hadist that explain about the importance of proper language or just... silent.

Silent, shut up, be quiet, diam, tenang, apapun itu istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan seorang manusia yang tidak berkata apapun. Bukan karena dia tidak mengerti atau tidak mau berpartisipasi atau pun karena dia tidak punya inisiatif untuk memulai pembicaraan tetapi karena dia memilih untuk diam.
"Mulutmu harimaumu"
Begitulah sebuah pepatah kuno di Indonesia. Your mouth is your tiger. It will scratch and hurt everyone who listen. Terus terang gw adalah orang yang sekali udah mood untuk membuka mulut dan ngomong, gw akan terus nyerocos tanpa henti. Memberikan cerita-cerita yang gw denger dari apa yang orang lain cerita ke gw (bukan cerita yang udah diwanti-wanti sama si pencerita untuk dirahasiakan) atau dari yang gw baca, gw tonton atau pendapat-pendapat gw yang bercokol di dalam kepala dan sulit untuk dikeluarkan kecuali di dalam blog gw ini (yang makin lama makin ga ada yang baca karena selalu berbahasa Inggris. Lol.).

Dari kecil gw ini termasuk anak yang pendiam dan sulit mengeluarkan pendapat. Mempunyai sepasang orang tua yang tidak mau mendengarkan pendapat anak dan selalu memandang gw seperti anak kecil balita yang baru belajar ngomong serta adik yang hiperaktif dari kecil sehingga menyita perhatian semua orang membuat gw ga bisa ngomong sama siapapun kecuali sama diri sendiri di dalam kepala. If only there were internet and blog back then.... Right, moving on. As I was saying, gw ngomong sama diri sendiri di dalam kepala tapi apa yang gw maksudkan di dalam kepala gw terasa lebih jernih dan dapat dimengerti oleh gw dibandingkan ketika gw mengucapkan maksud gw kepada orang lain. Ujung-ujungnya lawan bicara gw cuma bisa menatap gw sembari tersenyum-senyum saja while she/he is not listening. I know they're not listening!

Like I said before, people only interested in stories that concerning themselves and only about that very topic. If you want to be a good friend and wins a lot of heart, from this book I read, you have to master the art of listening. People would enjoy your company if you would listen to their stories and opinion coz... well, like I said before, people just love to talk about themselves and will always feel comfortable talking to people that would listen to their stories and their life.

Moving on now. Aside from my problems, I know in Islam, people are expected to watch their tongue and mouth as they speak. I know, but the reason why I kept my mouth still is only because I don't want to talk too much and show my shallowness and my stupidity coz I know when people talk too much they're only exposing themselves to the people they talk to. Do you know that from one sentence from two leader of great countries, there could be war or peace, depends on what they're saying to each other? Do you know that siblings and lovers could be a part and hate each other to death or getting even more closer than ever and love each other more because of what they say to each other?

Of course you already know that. You've experience it. Siapa sih yang belum pernah musuhan dan berantem sama orangtua/anaknya, saudaranya, temannya, sahabat terbaiknya, istri/suaminya, orang asing yang ditemuin di jalan hanya karena perkataan yang tidak dijaga? Lidahmu itu setajam silet *nada infotainment* bagi hati yang terluka atau selembut kain sutra bagi hati yang tersanjung. Ucapan yang keluar dari mulutmu itu sebegitu berbahanya, sampai-sampai Nabi Muhammad S.A.W berkata : "Berbicalah yang baik atau diam."

Gw sangat sadar diri kalau gw udah mood untuk ngoceh, istilah gw untuk berbicara tanpa henti, gw akan sering mengatakan hal-hal yang tidak berguna bagi gw dan orang lain yang mendengarkan atau malah hal-hal yang menyakitkan orang lain karena sense of humor gw yang cukup satir dan penuh sindiran, bisa juga gw mulai menceramahi orang-orang disekitar gw dengan cerita-cerita penuh sindiran atau emang pure ceramah nonstop ala motivator profesional. Lol. Yeah, itu cukup sering terjadi dan anehnya gw baru sadar klo gw itu sering banget jadi penceramah akhir-akhir ini aja padahal itu udah dari gw masih kecil.

Who needs my preaching anyway? Belum lagi kata-kata yang keluar dari mulut gw yang seringnya hanya berupa sindiran atau kata-kata tajam yang tidak diperhalus sedikitpun. Gw mengangkat topik ini setelah membaca di suatu tempat (gw lupa dimana) bahwa neneknya si seseorang itu ga pernah ngomong kecuali benar-benar perlu saja. Gw sendiri juga harus seperti itu. Kecuali kata-kata yang keluar dari mulut gw ini adalah kata-kata yang menyenangkan bagi orang lain atau berguna dan bermanfaat serta benar (terbukti kebenarannya) bukankah lebih baik gw diam?


Bagi mereka yang senang mengkritik orang lain (termasuk gw), you need to read this cool book that I read a couple of years back.


I loooveee this book. "How to win friends and Influence People." by Dale Carnegie. Di buku ini mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengubah karakter orang-orang yang kita sayangi di sekitar kita ternyata *drum roll please* bukan dengan kritikan tapi sebaliknya dengan pujian dan dorongan untuk melakukan yang terbaik. Kita sering secara ga sadar mencari musuh dari teman-teman, saudara, orang terkasih kita dengan cara "mengkritik" mereka habis-habisan dan sering kali tanpa diminta. Gw sendiri sering melakukan ini pada teman-teman gw dan selalu setelah itu gw akan menyesal abis-abisan. Kenapa? Karena gw langsung teringat pada buku ini yang pernah gw baca beberapa tahun ke belakang dan masih gw inget sampai sekarang.

Kritik itu tidak berguna.

Paling tidak itu hasil dari pengalaman gw dan rupanya begitu pula pendapat Mr. Dale Carnegie. Gw sendiri selalu ngerasa kalau gw dikritik, maka gw akan langsung defensif dan membela diri atas semua tuduhan kritikan yang ditujukan ke gw dan bukannya sadar diri, gw akan malah menyalahkan si pengkritik yang sudah mau berbaik hati menunjukkan apa kesalahan karakter kita. Karena kita tidak bisa melihat diri kita sendiri dengan baik tanpa bantuan cermin, orang lain yang ada di sekitar kitalah yang paling bisa melihat diri kita dengan sangat baik. Mereka menilai kita berdasarkan karakter kita. Jarang ada orang yang bisa dengan objektif merasakan karakter mereka sendiri dan berusaha memperbaikinya dalam waktu bersamaan.

Sebaliknya, kalau lawan bicara gw itu (gw belajar ini dari bos gw, the best boss in the world) memuji kelebihan gw dan tidak banyak bicara atas kekurangan gw kecuali melakukannya dengan baik-baik dan tanpa nada menuduh, gw langsung sadar diri dan berusaha bersikap lebih baik untuk seterusnya cuma karena gw sadar kalau gw itu salah dan berterima kasih lawan bicara gw itu tidak membuat gw merasa buruk dan down karena kesalahan gw itu. Of course as a human being, gw akan memikirkan kesalahan gw itu, dampaknya pada orang lain dan eventually, try to fix it to make everyone else happy. Dampaknya sangat besar sebuah pujian itu ya?

Kata-kata manis setulus hati yang tidak ditujukan untuk menjilat, terkesan menyenangkan dan penuh perhatian pada lawan bicara kita, baik teman, saudara, suami/istri, orangtua/anak, akan terdengar indah di telinga anda maupun lawan bicara anda. Gw sendiri sedang berusaha untuk melakukan hal itu dan kalau gw ga bisa, than I would just bite my tounge and smile. Coz a smile speak a thousand language and a thousand words. Wish me luck guys. :)

Sorry guys, I know I have a snake tongue. I am so sorry to all the victims of my vicious tongue.

Tidak ada komentar: