Sabtu, Februari 07, 2009

A smile

So today in the middle of my boringness (what kind of word is that?!) I was watching TV as usual and change the channel to my favorite channel : Metrotv. So, gw melihat ada acara dalam bahasa Inggris tapi membahas tentang Indonesia dan si naratornya pun berbicara dalam bahasa Inggris khas acara dokumenter. Perkiraan gw ini adalah acara dokumenter luar (kemungkinan besar di US) yang meliput tentang sesuatu di Indonesia. Semakin jauh gw nonton, semakin gw ga bisa ganti channel.

Inti ceritanya adalah tentang sebuah program yang dibawa oleh seorang anak desa yang sukses di Jakarta ke kampung halamannya di suatu tempat di Jawa (ga tau karna dah lewat 10 menit pas gw nonton). Nah si pemuda yang bernama Tarmizi ini membawa sebuah program dari luar negeri yang memfokuskan tentang bagaimana mengembangkan desanya yang miskin. Sumber masalah hasil analisis dia adalah karena kebanyakan warga miskin di desanya adalah para buruh/kuli tanam yang hanya menggarap tanah orang dan mendapatkan honor yang terlalu sedikit padahal mereka menanggung keluarga yang jumlah anggotanya tidak sedikit.

Khas daerah perdesaan miskin di Indonesia, terutama di wilayah pulau Jawa. Gw tau karena gw kerja di Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa. Kantor gw terfokus pada hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan pemerintahan serta pemberdayaan warga desa-desa di tempat tinggal gw. Ok, back to topic. Program ini mengumpulkan warga dan menyewakan tanah seluas 10 hektar sebagai tanah garapan untuk 10 KK termiskin di desa itu. Dananya sendiri sebesar 9.000 USD berasal dari sumbangan sebuah stasiun TV luar negeri (sepertinya) dengan nama Village HELP.

Nah, salah satu warga yang kebagian tanah garapan itu namanya Bapak Abdul Rakhman (maybe, gw ga yakin karena dah lupa lagi :D) diikutin terus sama program acara dokumenter itu selama perkembangan program itu berlangsung. Pas udah waktunya untuk panen, si bapak itu menampilkan wajah datar serta kata-kata standar khas orang-orang Indonesia yang klo diwawancara TV pasti jawabannya standar-standar aja karena mereka terlalu malu untuk berekspresif ria di depan kamera dan orang-orang yang tidak mereka kenal. Tapi menurut gw emang orang-orang yang ada di Indo itu agak kurang ekspresif terhadap perasaan mereka sendiri ga kek orang-orang luar yang dikit-dikit ngomong 'I love you' ama orang-orang yang mereka sayang padahal klo di Indonesia, ngomong kek gitu tuh ga berlaku! Lol.

In Indonesia, from what I learned is that we don't say what we feel, we just show how we feel by what we're doing.

Bapak Abdul Rakhman itu mengenakan baju terbaiknya yang baru bikin karena pada hari itu padi hasil garapannya itu akan panen. Dia diwawancara sama si pembawa acara dan keliatannya sih datar-datar aja meskipun hawanya keliatan klo dia sumringah. Ketika dia panen, gw bisa ngerasain semangat bapak itu meskipun dari seberang TV. Gw ngeliat senyumannya ketika dia meraup padi hasil kerja kerasnya yang merupakan padi miliknya sendiri, bukan padi milik orang lain yang biasanya dia garap. He smiled. And I smiled.

Gw bisa ngerasain rasa syukur dan kegembiraan yang mendalam dari senyumannya itu dan gw pun tersenyum dengan perasaan all warm and fuzzy inside. I always believe that a smile is contagious. Padahal ga ada apa-apa, I don't feel anything and all of the sudden I smiled when I saw that man smile. So sincere and proud of himself for what he have done for his family. What he can achieve from his hard work. Even Tarmizi cried. I feel overwhelmed. Memang begini adalah caranya untuk membantu orang. Bukan dengan makanan dan uang yang memang bisa membantu mencegah mereka dari mati kelaparan, tapi paling cuma bisa bertahan berapa hari sih? Semua bantuan dengan niat baik itu ga akan bisa membuat anak-anak mereka tetap duduk di bangku sekolah sampai mereka lulus minimal SMA. Ga akan bisa membuat mereka bertahan sampai tahun-tahun ke depan dengan perut kenyang dan perasaan puas serta bangga atas hasil yang mereka capai dengan kerja keras sendiri.

Mereka ga butuh mie instan dan beras bantuan yang hanya cukup untuk mengenyangkan perut selama seminggu. Mereka butuh kesempatan untuk bekerja, pelatihan agar mereka mampu bekerja, dorongan semangat agar mereka merasa bangga untuk mendapatkan hasil dari kerja keras kedua tangan mereka. It's called a pride of a man.

I smile.

Coz the world is not that small at all.

Tidak ada komentar: