Selasa, Maret 31, 2009

Phillipe Blanche (In Memoriam)

Samping rumah Lorainne

BLANCHE'S

Gadis bertubuh mungil itu duduk di depan teras sebuah rumah bergaya Perancis yang cat berwarna cokelat mudanya sudah terkelupas. Kepala dan punggungnya disandarkan ke tiang rumah sementara matanya memandang jalan besar yang terletak tepat di depannya. Rumah itu terlihat sangat tidak terawat. Gadis itu bisa dikira gelandangan jika orang tidak mengenalnya (dan sayangnya, tidak ada yang tidak kenal dia di sepanjang Square Jean Morin). Lorainne Ziegmowit menghela nafasnya kuat-kuat. Wajahnya muram memperhatikan rerumputan yang tumbuh liar di halaman rumah itu. Lantai teras tempat duduknyapun sangat berdebu. Lorainne seperti melihat bayangan dua anak kecil tengah duduk di atas rumput itu beberapa tahun yang lalu, bereksperimen dengan permainan-permainan baru mereka, menertawakan orang-orang yang kebetulan lewat, dan naasnya, menjadi korban kebrutalan kedua bocah itu. Di tempat yang sama, Lorainne dan bocah lelaki itu juga mendapatkan surat pertama mereka dari Hogwarts. Lorainne memangku dagunya menggunakan tangan kanan bertumpukan kepada lututnya yang dilipat di depan dada. Matanya beralih ke pagar perdu pembatas rumahnya dan rumah si bocah lelaki.

Phil dulu sering loncat-loncatan disitu.

Oh ya, kita sedang membicarakan tentang Phillipe Blanche, Tuan-Nona. Bukan tentang Zach, bukan tentang kucing Madame Derrick yang sudah meninggal setahun yang lalu, apalagi tentang wanita berkutil itu. Lorainne mendengus lagi. Sudah beberapa hari terakhir kerjaan gadis muda itu hanya menghabiskan separuh harinya dengan melamun di teras rumah Phil tanpa melakukan apapun. Memang mau melakukan apa? Ayahnya kerja, Zach sudah pindah rumah (iyalah, dia kan sudah menikah), dan Lorainne? Dia menjadi penyihir pengangguran. Gadis muda itu tentu sudah mendengar mengenai dunia sihir yang sedang berada dalam bahaya. Itu salah satu faktor dia tidak melanjutkan pendidikannya ke Pelatihan Sihir selain nilai-nilai NEWT-nya yang tidak bisa dibilang bagus. Sementara Phil? Phil menghilang. Tahu-tahu dia tidak pernah masuk kelas lagi, tahu-tahu ayah Lorainne sudah mengabarkan bahwa Keluarga Blanche pindah. Pindah. PINDAH TANPA MEMBERITAHU LORAINNE. Oh, neraka, terkutuklah Phillipe Blanche yang sama sekali tidak pamit kepada Lorainne. Kirim kabar kek apa, kirim surat, kirim bom kotoranpun tak apa. Lorainne hanya... rindu dengan teman sepermainan yang sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri itu.


It's so hard to say
But I gotta do what's best for me
You'll be okay...


"Ya ampun, Lulu. Dia jinak. Sini, mendekatlah. Herdy tidak akan menggigit. Iya, kan?" Phillipe menepuk-nepuk kepala seekor anjing herder hitam yang memandang Lorainne dengan garang. Anjing baru. Monsieur Blanche menemukannya di jalan dan membawanya pulang untuk dipelihara Phil.

"GUK! GRAAWR."

"PHIL! DIA MENGGONGGONGIKU DAN KAU MASIH BILANG DIA JINAK? ZACH, MINGGIRKAN ANJING ITU!" Lorainne masih berada di atas pohon, berteriak-teriak horor karena anjing yang baru saja mengejarnya memutari halaman rumah Phil itu.

"Dia jinak kok, padaku. Kau tidak diberkati, Cherie." Zach terkekeh, tetap bersandar di tiang rumah Keluarga Blanche.

"Tenang. Ayo tenang, Herdy. Itu Lulu, temanku. Kau takkan menggigitnya, kan?" Si Herder menggoyangkan ekornya (sok) inosen. "Nah, bagus. Good boy. Ayo Lulu, turun. Katakan, 'HAI HERDY'!"

Phil sinting. Bocah cilik berumur delapan tahun itu menjejakkan kakinya di ranting pohon, mulai bergerak menuruni pohon di halaman rumah Phil yang rindang. Matanya tak lepas dari bola mata Si Herder yang sekarang menjulur-julurkan lidahnya. Terlihat lapar dan... LORAINNE TIDAK SUKA DIGONGGONGI, TAHU!

Tepat saat kedua kakinya menjejak rumput, si anjing lepas dari genggaman Phil, menerjang Lorainne dengan brutal.


And I need you
And I miss you
And now I wonder....



Kau belum bayar permintaan maafmu, Phillipe Blanche jelek.

Helaan nafasnya keluar lagi. Lorainne berdiri dari duduknya, berjalan ke arah papan nama BLANCHE'S yang terpaku di dinding. Perlahan Lorainne mengeluarkan tongkat sihirnya, memastikan tidak ada yang melihat dirinya melakukan sihir, dan menggumamkan beberapa mantra hingga papan nama itu jatuh ke tangannya, pakunya lepas tentu, ohoho. Lorainne terdiam lagi memandang papan nama itu, tampak galau. Astaga, mungkin pengaruh PMS-kah? Entah, Lorainne hanya merindukan temannya itu. Seandainya Phil ada, Lorainne pasti tidak seperti orang bego begini. Dia teringat komentar Madame Derrick kemarin sore. Katanya Lorainne seperti orang stres setiap hari duduk di teras rumah Keluarga Blanche seperti orang tidak punya kerjaan. HEH, BINGO! Lorainne memang tidak punya kerjaan dan belum mencari pekerjaan Muggle yang pas untuknya. Mau bilang apa dia? Lulusan Sekolah Sihir Hogwarts? Oh, minta dipenjara di Azkaban, mungkin? Bah.

"Phil, Je vous manque. Puas kau, hah? Pergi tidak bilang-bilang, tidak kasih kabar, kau anggap apa aku?"

Gadis itu mulai gila, mendumel sendirian dengan suara pelan dan hanya mulutnya yang bergerak-gerak seperti orang membaca mantra ke arah papan nama BLANCHE'S.

"Phil, kalau dapat pacar, kasih kabar ya."

"Aku dan Stan masih bersama."

"Jangan lupa undangan kalau menikah."

"Aku berkenalan dengan orang aneh bernama Eamnnon tahu, Phil."

"Phil.."

Angin bertiup.

"Phillipe.."

Sepi.

BRAK!

Gadis itu menendang kuat-kuat pintu rumah Keluarga Blanche, tidak peduli orang mengira dia sedang mencoba membobol rumah yang sudah lama kosong itu. Kedua mata hazelnya berkaca-kaca sejenak. Tangan kanan Lorainne terangkat, mengusap air matanya yang belum sempat turun dengan punggung tangan. "Kusita papan nama ini. Kukembalikan kalau kau pulang. Kau tidak pulang, jangan harap papan nama ini kembali ke rumahmu." Lorainne kembali berbicara sendiri dengan suara serak. Gadis muda itu membalikkan tubuhnya, berjalan, melompati pagar perdu yang membatasi rumah Phil dan rumahnya. Pulang.

Mungkin besok kembali lagi (kalau dia tak ada kerjaan).

I'm not going
Cause I've been waiting for a miracle
And I'm not leaving

I won't let you
Let you give up on a miracle
When it might save you



((OoC: Credit to HSM 2-Gotta go my own way, Vanessa Carlton-A Thousand Miles, and Paramore-Miracle))

Tidak ada komentar: