Rabu, Maret 11, 2009

Phillipe-Raine *TERHARU*

Wound dan Dell masih terlelap. Gadis itu menatap temannya kaku. Keheningan menjalar di ruangan itu. Tidak ada cahaya di bilik bawah tanah mereka, cuma ada kelembapan dan keremangan. Kesepian, little darling? Suara itu menggema di telinganya. Ia membaca Kitab Rune-nya sepanjang malam dengan dalih persiapan OWL. Dan tentu saja; tidak ada satupun isi makna Fehu maupun Sowilo yang tersangkut di otaknya. Cuci muka, rasanya itu ide bagus itu menyegarkan diri. Ia sudah keramas kemarin, dan gadis itu tak bisa melihat alasan mengapa ia mesti susah-susah naik empat lantai ke atas hanya untuk mandi.

Ia menyambar tas ransel kecil model sabuk berwarna putih gadingnya, dan topi baret polos merah—tidak ada salahnnya memakai sedikit warna merah meski kau Slytherin, bukan?—yang senada dengan rambut brunette-nya. Menjuntai lurus. Raine tertawa. Dia tampak seperti anak sekolahan muggle Perancis. Dan tentu saja; dia memang berasal dari sana. Dan dia, dia juga berasal dari sana. Si anak berjubah merah. Reno berjalan melewatinya; matanya mengantuk sipit—seakan salah satu dari anak-anak Asia di Hogwarts sedang memberikan sindiran paginya pada Raine, tapi salah memakai jubah Reno. Apa dia bilang? Makan Pagi? Bah. Dia tahu betul kan, selama lima tahun mereka ‘berteman’, kalau Raine tak punya waktu untuk sarapan.

Tabel-tabel konversi makna Rune-nya menunggu untuk digilir setiap minggu. Dan kembali, Madam Pince menjerit (ditambah melempar buku) padanya di Perpustakaan, menyuruhnya agar jadi teladan bagi junior dan masuk kelas. Ah. Sudah bel toh. Gadis itu tersenyum (pura-pura) polos, melenggang masuk kelas. PTIH, ya? Guru baru—selalu, guru baru. Cantik. Mengingatkan Raine pada si cantik Profesor Soneta yang baik. Ah; ventriqoilist kali ini? My, my, apa ya yang mungkin jadi alasannya dipecat tahun ini? Mentransfigurasi salah satu siswa jadi boneka, mungkin? Tanpa disuruh, ia mengeluarkan tongkatnya. Pelajaran ini segalanya tentang praktek, kan?

Jembatan. Pertemuan pertama. Laba-laba dan nyanyian. Dear Lord—what the heck is she thinking?
“Semoga aku tidak mengganggu harimu, Mister.”
“…Tidak sama sekali, Miss. You just made my day.”
“Sejak kapan kau mulai memanggilku Miss?—”
“Sejak kau memanggilku Mister.”


Tuh kan. Diminta memikirkan kenangan bahagia, yang ada dia malah memikirkan hal-hal yang tak lagi perlu diingat. Pandangan mata Raine kosong. Ia menonton segala yang terjadi, tapi tidak melihat. Santana yang pertama—berjuanglah, deh. Kemudian pandangannya jatuh ke Dell. Gadis pirang itu mengigau sepanjang malam; apa dia juga mengkhawatirkan ini? Mantra Patronus.

Kenangan. Bahagia.
Danau. Sebuah kebetulan, mungkin?
Dia melihat.
“Apa yang sedang kautulis?”
“…Ini, surat cinta dari Juniormu yang kebetulan kautemui pada hari ini, Senior,”
“—Raine? …”


Musim dingin. The Winter Ball.
“—Minta maaf untuk apa, katamu?”
“For you, stealing my heart, Phillipe Blanche.”
"—Kurasa aku tidak perlu minta maaf untuk hal yang terakhir, eh?“


And for stealing her lips, I s’ppose. Ciuman pertama yang diambil secara ganjil, itu dia. Ditambah lagi penyerbuan Death Eaters yang secara brutal menculik para muggleborn, rasanya itu bukan kenangan yang baik. Raine tertawa—Pahit. Ia melihat satu per satu teman-temannya mencoba mantra itu. Mantra tingkat tinggi; sulit. Ah, giliran si McCafferty.

Their last meeting. Dua tahun lalu. Bah. What a Fight.
Payung itu jatuh. Hujan membasahi keduanya.
“Kecelakaan, hmm? Apa yang sedang kau katakan, bahwa aku marah karena cemburu melihatmu mencium Freya dengan kedua mata kepalaku sendiri?,”
"Look, Raine, I'm sor--"
“Katakan itu kecelakaan, di depan mataku yang melihat sendiri, katakan. KATAKAN DAN PEDULI SETAN DENGAN OMONG KOSONG, BLANCHE. KAU. Aku. Haven’t you even the slightest, Blanche, that we belong to different worlds?”
“—Je t’aime.”
“…”


Baiklah; sebuah pengakuan. Tidak bisa dipungkiri, Raine memang tidak ingin membicarakannya. Tidak dengan kenyataan anak itu menghilang. Tidak dengan Pelahap Maut menyebar terror di mana-mana. Tidak dengan pertengkaran mereka yang terakhir. Dia cuma pindah sekolah, iya kan? Tidak, Raine tidak ingin memikirkan kemungkinan kematiannya, tidak—anak itu cuma menghilang. Tidak sebelum—Raine belum meminta maaf.

Jadi, memang dia ya? Raine tersenyum kecut. The best damn thing that has ever happened to her, was: Him. Those deep blue eyes.

“Who are you?”
"Me? I'm just someone who loves you. Unconditionally.”


Phillipe. Tongkatnya mengudara. “Expecto Patronum!”

3 komentar:

Rere mengatakan...

See? They have a history together! Untung bagian ditolaknya ga dimasukin.. =))

Mikan Kaoru mengatakan...

“Who are you?”
"Me? I'm just someone who loves you. Unconditionally.”

OH YA TUHAAAAAAAAAAAANNNNNNNNNNNNNNNNN!!!!!!!!!!!!!!!

REREEEEEEEEEEEEE!!!!!!!!!!!

AAAAAHHHHHHHHHH GW MELTING SAMA KATA-KATA ITUUUUU!!!!!!!! >_______<

Sumpahnya Re, seorang Phillipe jadi langsung punya kesan yang beda di kepala gw baca tuh kalimat *ketauan gak pernah baca post phillipe, wkwkwk....

Sebelumnya liat Phillipe, selalu terlintas kesan Nate Archibald di kepala gw. Jujur, gw kurang suka sama Nate. Lemah dan gampang diperalat. Apalagi waktu dia dikontrol sama Catherine, eeuuhh!! Awalnya sih gw suka dia kencan sama Catherine, akhrnya dia bisa mengikuti apa kata hatinya. Tapi ujung-ujungnya dikendaliin lagi -__-

TAPI GW SUKA SAMA KALIMAT ITU, RE!!! GW SUKASUKASUKASUKAAAAAA!!!!! xDDDDDD

Andaikan ada seseorang yang juga mencintaiku tanpa syarat....

*mulai ngayal lagi*

Rere mengatakan...

emang dah lengket itu kesan seorang Nate ya.. agak susah juga lepas dari stereotypenya =))

you should read the real scene in the ice cream store. It'll make you melt. Lol.