Kamis, Oktober 29, 2009

Netizens

Netizens, gw denger istilah ini cukup sering akhir-akhir ini. Terutama setelah gw mulai aktif dengan hal-hal yang berbau Korean Entertainment. Pucaknya adalah ketika seorang artis kelahiran Amerika yang terusir dari Korea karena amukan para netizens.

Exactly what is netizen? Berdasarkan Wikipedia, hasil inilah yang keluar :
A Netizen (a portmanteau of Internet and citizen) or cybercitizen is a person actively involved in online communities.

neitzan can use the Internet to engage in activities of extended social groups, such as giving and receiving viewpoints, furnishing information, fostering the Internet as an intellectual and a social resource, and making choices for the self-assembled communities. Generally, a netizen can be any user of the worldwide, unstructured forums of the Internet. The word netizen itself was coined by Michael Hauben.[1][2]

Generally, Netizens are Internet users who utilize the networks from their home, workplace, or school (among other places). Netizens try to be conducive to the Internet's use and growth. Netizens, who use and know about the network of networks, usually have a self-imposed responsibility to make certain that it is improved in its development while encouraging free speech and open access.


Okeh, kalau menurut artian dari sudut pandang gw yang bahasa Inggrisnya terbatas, di artian wikipedia itu arti dari netizen adalah penduduk dunia maya yang terlibat aktif dalam komunitas online. Mereka menggunakan internet untuk melakukan aktifitas dalam kelompok sosial, seperti memberi dan menerima pendapat, menyebarkan informasi, dst. Secara umum, seorang netizen bisa jadi siapapun di dunia ini, forum-forum yang tidak terstruktur di Internet. Netizens adalah pengguna internet yang memanfaatkan jaringan dari rumah, kantor atau sekolah (selain dari tempat-tempat lain).

Sisanya, gw rasa kalian bisa baca sendiri. Simple English would do you justice. (smirk)

Anyway, Kalau dilihat dari arti netizen sendiri, doesn't it remind you of someone? Like, yourself, for instance. Gw mengakui kalau gw adalah netizen dalam artian pengguna internet aktif, penduduk anonim di dunia maya, menggunakan blog ini untuk menyebarkan informasi dan mengungkapkan pendapat gw tentang apa pun, siapa pun dan kapan pun. Alasan kenapa gw sering lost kalau temen-temen gw dah mulai menggunakan term netizen adalah karena mereka mengungkapkan term ini sebagai pihak ketiga. Like it's just someone we don't know from a far far away land. Hey, you and I are netizens too! Internet tidak terbatas ruang dan waktu, penduduknya semakin bertambah bahkan tanpa melihat jumlah penduduk dunia karena setiap individu bisa membuat akun anonim sampai 10 buah (yang berbeda-beda) sekaligus dan semuanya aktif di forum masing-masing.

Netizen mendapat perhatian di setiap negara maju dan berkembang, terutama berkembang dalam hal kesadaran free speech (kebebasan berbicara) dan jaringan internetnya sendiri sudah tersebar luas dan tersosialisasikan dengan baik. Kadar perhatiannya tergantung dari kesadaran masing-masing, of course. Banyak kok yang gw lihat mengungkapkan pendapatnya tentang politik, entertainment, agama, dan lain lain dalam bentuk racauan di video youtube atau blogs dan forum yang tersebar dimana-mana. Tapi, yang akan gw sorot sekarang ini adalah para netizens Korea.

A plurk friend, shared a link, telling theory's of to why Korean's Netizens could be so mean, that they could even encourage a person (this actually happen--a lot) to commit suicide, ending someone's career, throwing an upcoming artist to get out of Korea, or even... creating a wave of fans for a group of boyband/girlband/artist from all over the world (I'm talking a positive impact of this). The article telling us that the reason why Korean people are a harsh netizens is because of their unhappy childhood where opinions and free speech is blocked from so many direction. I'm sure the generation before me feels the extreme of this condition, but on the other hand, I feel that the future generation would feel a little bit more freedom in terms of free speech. Hey, sekarang udah jaman apa?

Tapi, in my honest opinion, gw merasa bahwa para netizen Korea, menjadi orang-orang yang mengagungkan kebebasan berpendapat di internet dan ternyata, pendapat mereka sangat berarti, pendapat mereka didengar, penting, urgent, membuat dampak nyata! Netizens dengan akun anonim mereka tiba-tiba menjadi penting! Poll di internet ditayangkan dan diberitakan di media elektronik, hell yeah, berita menyimpang di internet bahkan bisa menghancurkan hidup dan karir seseorang di dunia nyata.

Dari sisi si artis/politikus/tokoh publik yang sedang naik dan butuh feedback tentang seberapa populer mereka, bisa mendapatkannya dari internet. Mereka bisa melihat pendapat publik tentang akting/musik mereka, image mereka secara keseluruhan, interaksi langsung dengan penggemar tanpa jadi gepeng atau biru2 karena dicubitin, memberikan entertainment langsung seperti musisi IU yang memasang video dirinya yang bermain lagu-lagu barat secara akustik live di webpage resminya, dan tentu saja, mempromosikan hasil karyanya seperti lagu atau akting, dan lain sebagainya.

Freedom of speech di internet knows no boundaries, tidak ada pembatas. Semua orang bebas berbicara dari segala umur, jenis kelamin, pekerjaan, di segala tempat di dunia. Masalah terjadi ketika para netizen ini mulai menganggap bahwa orang yang mereka kritik itu adalah mesin tak berhati alias komputer lagi. Kadang ini suka terjadi dan terus terang gw juga suka mengalami hal ini ketika awal-awal gw kenal internet. Kadang gw suka ga sadar kalau orang yang gw ajak bicara di sisi lain internet ini, adalah sesama manusia yang punya perasaan, bukannya komputer yang ada di depan hidung gw.

Komentar-komentar tidak bertanggungjawab yang ditinggalkan para anti-fans, bisa membuat para artis tertekan, bahkan beberapa sampai bunuh diri saking stressnya (meskipun gw menyalahkan pada lemahnya mental mereka karena toh, itu kan cuma dunia maya, kalaupun impactnya sampai ke dunia nyata, harusnya masih bisa diselesaikan secara baik-baik karena, imo, ga ada masalah yang ga bisa diselesaikan). Para netizen yang melontarkan komentar super kejam ini pun biasanya cuma para pelajar yang bosan atau para pekerja yang kurang kerjaan dan biasanya ga punya personal life makanya ribet banget gangguin personal life orang lain (IMO).

Oh, well, anyway, this is my opinion on netizens. Sekian dan terima kasih. :)

Senin, Oktober 26, 2009

Facebook


It's like THE question.


Terus terang aja gw bukan pengguna aktif Facebook. Buat gw facebook agak membosankan biarpun praktis untuk menyebarkan berita dan bernarsis-narsis ria saling menge-tag foto dan keep contact sama temen lama. Berhubung gw lebih aktif di plurk dan gw kurang suka main games di facebook makanya gw ga gitu peduli sama akun facebook gw, kecuali ketika orang kantor gw mulai ngeledekin status facebook gw, sih. --a

For general reasons, I LOVE FACEBOOK! Why? Because... berkat iklan facebook yang gencar di tipi (sebenernya itu facebook cuma numpang beken lewat iklan hape dan operator hape), sampe akhirnya ada semacam stigma di antara kalangan 'tua' bahwa 'ngenet=facebook-an' dan 'ga gaul klo ga punya facebook' segala macem, maka penggunaan internet pun semakin meluas. Seiring dengan harga laptop yang semakin murah, internet yang semakin accessible, hot spot gratisan dimana-mana (disekolahan, kampus, kantor, mall, coffeeshop sampe dunkin donut dan bentar lagi McD--mungkin), pilihan ISP yang jauh lebih terjangkau, IMO, semuanya berkat facebook. Tepatnya, berkat facebook yang telah menyadarkan kaum 'tua' tentang betapa pentingnya koneksi internet itu.

Selama ini internet identik dengan kaum 'muda', dimana mereka menggunakan internet untuk main game online, friendster-an, mirc-an, kaskus-an, chatting di YM, cari tugas sekolah/kampus, sementara para kaum 'tua' hanya menonton di samping, mikir kalo internet itu hanya untuk kaum 'muda' dan rada ga penting juga bagi mereka untuk menguasai internet atau menikmati penggunaan internet di rumah atau memaksimalkan penggunaan hape masing-masing yang memang udah canggih sampai bisa dipakai internetan. TAPI, berkat facebook yang 'reconnecting people', para kaum 'tua' seperti menemukan kesenangan baru, tersendiri di internet. Mereka ketemu dan reunian dengan teman-teman masa lalu, saling berhubungan intens dengan saudara yang berada di pulau/benua lain, bermain games di applikasi facebook yang beragam, sharing foto bersama teman dan saudara, tepatnya, they (kaum tua) feel what we (kaum muda) feels.

Berkat facebook, para 'kaum tua' semakin terbiasa dengan internet, memudahkan 'kaum muda' dalam menggunakan internet karena tersosialisasikannya dengan baik penggunaan internet, maka gw merasakan internet (paling ga di kota-kota besar) sudah menjadi salah satu fasilitas esensial seperti pentingnya komputer di rumah. Ada komputer keknya ga afdol klo ga ada internet, minimal ada opera mini di hape biar apdet facebook-lah minimal.

Tapi yah, setiap ada efek positif, selalu ada efek negatif. Untuk saat ini efek negatif ini ga terlalu terasa tapi cukup 'mengena' di kalangan 'kaum muda'. Mereka jadi berantem sama bonyoknya tentang siapa yang pake komputernya duluan karena yang muda pengen main, yang tua pengen facebook-an. LOL!

Rabu, Oktober 21, 2009

I just started smoking



No, not really. I just found that this cigarette package is quite cute. XD

Rabu, Oktober 14, 2009

yet another mistake

So yeah... I just made a huge mistake that I really regret in my work. I mean, I do really regret it and the part that make me regret it the most is cos I don't get yelled at because of it. My boss[es] doesn't give me a hard time because of it.

Jadi awalnya saya harus mendata anggaran awal tahun di simda, tapi dikarenakan kemalasan saya, anggaran yang selalu berubah, waktu yang udah mepet, banyaknya data yang harus dientri, saya menyatakan diri ga sanggup dan akhirnya anggaran kantor saya dibuat secara manual biarpun dari pihak yang berwenang sudah menyatakan bahwa mereka mengharapkan anggaran tahun ini dikeluarkan dari simda, dan itu termasuk hardcopynya bukan cuma softcopynya. Karena keculunan saya, saya menganggap bahwa hard copy kurang diperlukan hingga membuat saya mengentri data anggaran dengan seadanya alias asal-asalan.

Dan sekarang.. yea, I regret it very much. Saat perubahan anggaran menuntut anggaran keluaran simda sementara anggaran yang nemplok di simda itu keliatan banget dibuat asal-asalannya. Di situasi seperti ini, normalnya seorang atasan akan memarahi bawahannya yang pemalas karena kerja kok asal-asalan, tapi berhubung di pemda kesalahan seperti ini seperti [terlalu] sering terjadi, atasan saya tidak memarahi saya, melainkan memutuskan untuk menyuruh saya mengerjakan hardcopy hasil kerja asal-asalan saya supaya bisa dilihat dengan 'pihak yang berwenang yang nantinya cuma akan berdecak dan mengerutkan kening' hari senin nanti karena saya dah bilang mau pulang hari ini yang notabene hari rabu dan audisi perubahan anggaran sedang dilaksanakan hari ini.

Why do I regret it very much? Cos no one yelled at me, that's why. I don't know why but my boss[es] doesn't yell at me when I do mistakes, they think that the shame from doing those mistakes is enough to punish my conscious, which they are right. If I got yelled at, I wouldn't feel this guilty to tell you the truth. I never took my mistakes lightly. It's all my mistakes and I really regret it. I'd do anything to fix this, including delaying my departure home. But, my generous boss said that I can leave home today and made the hard copy at monday. It's really something....

Espscially cos I know that my boss is not on a business trip today.

Senin, Oktober 12, 2009

arts and students

New day, new entry. Sebenarnya gw males isi blog tapi klo lagi weekend di rumah ga ada kerjaan bawaannya pengen ngenet aja makanya gw bikin entri blog ini di rumah pas weekend biarpun post entri ini di hari senin setelah gw ketemu dengan net kantor. =D

Oh, well, siang ini saat gw sedang menonton acara tipi (insert di transtv) yang menampilkan artis dan tatto, Giring Nidji stated that, "[...] tatto kan seni ya, namanya juga seniman [...]" And then it hit me. Gw keingetan tiba-tiba dengan anak-anak IKJ, mahasiswa jurusan seni yang merasa 'wajib' untuk memanjangkan rambut, digimbal, di-tatto, kuku kelingking (atau semuanya sekalian) dipanjangin sampe melengkung, jenggotan, kutuan, dsb. Itu semua katanya karena mereka 'seniman'. Yea, right.

Apa coba hubungannya antara seni dan rambut gimbal ga pernah dicuci? Apa coba hubungannya seni dengan kumis jenggot panjang berantakan sama muka kucel kek ga pernah mandi dan cukuran seumur-umur? 'Mengekspresikan diri' katanya? Atau cuma rebellation dari peraturan nyokap yang mengukung di rumah yang ngebawel suruh potong rambut, gunting kuku dan cukur jenggot? Ha! Very funny.

Jika anda adalah seorang mahasiswa seni jurusan seni rupa yang memfokuskan diri pada pembuatan patung atau lukisan, i don't think your beird would do you any good except if you want to use your long beird as a paint brush for your paintings. Jika anda mahasiswa seni musik, i don't think your unwashed face would do you any good in dancing, singing or creating music except the uneasy feeling of itchyness all over your body and that awefull oily face too.

Orang mempresentasikan diri dengan cara yang berbeda-beda. Jika mahasiswa seni memilih untuk mengekspresikan diri dengan cara memanjangkan rambut, menumbuhkan jenggot dan kumis (serta bulu ketek) liar, tampil kucel and the kumel dengan baju gombrong robek-robek, itu mah terserah aja tapi jangan mengatasnamakan 'pengekspresian seniman'. Kenapa? Karena seniman itu adalah orang yang mendalami seni. Seni sendiri ga ada hubungannya sama sekali dengan 'jorok'. Aduh plis deh. Coba liat dunk seniman asli yang ada di Eropa, Amerika atau negara Asia lainnya, mereka semua pake baju rapi, rambut kalaupun gondrong tapi masih rapi dan in reality, setelah anda lulus dari jurusan seni itu... dunia kerja menuntut anda untuk 'merapikan' diri. Bahkan dunia advertising dan broadcasting yang rata-rata membebaskan para pekerjanya untuk tetep gondrong dengan kumis dan jenggot pun tetep aja memberlakukan rules 'bebas, rapi'. Siapa yang mau kerja sama orang yang kucel and the kumel lagian?

Gw sebenernya menanti-nantikan adanya orang yang tampil di depan gw dengan pakaian yang rapi, rambut pendek, kuku pendek normal, ga wangi juga ga apa-apa tapi mengatakan kalau dirinya adalah mahasiswa seni dengan pembawaan diri yang pede. It just would seem... different than the 'normal image' of an art student.

Gw bukan mahasiswa seni, gw bahkan ga gitu ngerti tentang what is so called 'art' by some people. But i do know 1 thing : being an artist doesn't necessarily means having tattoo, ripped clothing, unwashed long hair, dirty long curvy nails, and oily faces. Being an artist student doesn't always mean to look like a poor market preman. LOL.

Rabu, Oktober 07, 2009

Current Mood

Mood: Datar. Bosan.

NW: Pengen bikin chara baru dan update lagi sama IH. Kebetulan selain itu gw juga lagi getol donlot variety showsnya SuJu dan idol-idol Korea lainnya di youtube, IDWS, LJ, pokoknya dimana aja deh... Sebenernya bukan apa-apa tapi pada dasarnya gw demen variety show Korea tapi yang biasanya akan di sub bahasa Inggris cuma acara yang ada idol mereka doank wkwk. XD Oh, dan beberapa drama Korea, Jepang dan Amrik. Biasanya sebelum tidur gw siapin 4-6 donlotan drama untuk disimpen dan ditonton pas weekend nganggur ga ada inet di rumah. Oh ya.. tagihan Halo gw bengkak lagi bulan ini.. Such a surprise. Ha!

RW: Harusnya kerja, tapi males (ketularan si Bos) dan yang paling penting lagi... I WANT MY MONEY!!

Wish:
1. Dapet duit buat bayar flash sekitar bulan ini atau bulan depan.
2. Dapet duit buat bayar utang ke adek gw.
3. Dapet duit buat beli hape yang udah lama tertunda.
4. Cepet diangkat PNS secara resmi (karena gw butuh duitnya nih).
5. Cepetan cair duitnya!!!
6. Ngumpul sama Ayu n genk sambil nonton dorama lagi dan ngegosip. -_-

Song: La Cha Ta - F(x) *I can't get it out of my head!*

Selasa, Oktober 06, 2009

Some thoughts

Jadi mari kita mulai dengan chronicles-nya. Awalnya gw sedang bersiap-siap akan tidur ketika. seperti biasa, gw mulai berlama-lama mengundur waktu tidur (seperti biasa juga) dengan cara membuka-buka plurk dan blogger dari hape. Ketika melihat beberapa temen blogger gw udah mengupdate blognya gw jadi excited kan tuh? Pas gw baca blognya gw jadi ter-trigger untuk membuat blog juga. Jadilah gw yang sekarang sudah akan siap-siap tidur pukul 23.40 WIB malah menyalakan kembali laptop untuk membuat entry geje ini.

So what I was meaning to pour in this blog is about 'alay'. Topik yang udah ngalur ngidul geje di plurk sejak entah kapan. So this 'alay' thingie... Everyone has their own opinion about it. Secara literally atau harfiah, 'alay' oleh sebagian orang dianggap seperti rumput alay-alay atau rumput liar... (jangan tanya artinya darimana karena ini cuma tiba-tiba kepikiran aja di otak gw alias ga ada sumber relevan) dimana oleh sebagian (besar) publik dianggap sebagai istilah yang paling pas untuk menyebut orang-orang sebagai kampungan atau norak atau ga up to date. Bener ga? Bener ga? Oh, well... Ini cuma pendapat gw aja sih.

Untuk bahasan yang paling merujuk orang kepada penggunaan kata 'alay' biasanya ditujukan pada orang-orang yang menulis dengan menggunakan sticky caps alias huruf yang kapital digabung dengan huruf biasa dan nomor untuk membentuk satu kata atau satu kalimat. Biasa menyebar di status jaringan sosial internet seperti facebook, plurk, friendster, dst dan ga jarang bikin orang langsung sensi karena ga ngerti itu tulisan ajaibnya ampun-ampunan.

Itu untuk akhir-akhir ini lho, tapi ga jarang orang merujuk kata 'alay' untuk orang-orang yang gayanya ga mainstream (atau justru terlalu mainstream, sesuai selera masing-masing), pake baju terlalu 'dangdut' misalnya atau emang pembawaannya rada hiperaktif atau rada gaptek atau penggemar musik slow Indonesia kek (ST12 yang lagi booming itu) atau... yah, macem-macem sih, tapi rata-rata kek gitu. Which in my honest opinion is : who are you to judge someone is 'norak', 'kampungan', atau istilah jaman sekarangnya : 'alay'?

Mari kita bahas sedikit tentang kategori alay ini :
1. Penggunaan sticky caps (istilah yang gw langsung familiar setelah join HPI *meskipun dah ga aktif lagi sekarang*)
Okelah, emang sih tulisannya sama sekali ga bisa kebaca tapi terus terang aja, ini tren bukan barang baru. Dari sejak gw masih SMA/SMP gaya tulis sticky caps ini udah beredar dan menurut pendapat sebagian (besar) orang, gaya tulis kek gini tuh lucu, imut, ga biasa, kreatif, dst. Apalagi menurut pendapat temen-temen gw yang rata-rata emang masih pada sekolah, ABG, pengen nunjukin kekreatifan masing-masing. Sejujurnya waktu pertama kali gw punya hape gw pengen bisa nulis kek sticky caps gitu karena emang trennya waktu itu kek gitu. Ga ada yang ngomong klo itu tuh 'alay' atau yang macem-macem kek gitu karena emang itu cuma beredar diantara kita-kita aja yang emang masih teenagers. Percobaan pertama gw adalah mencoba menamai temen-temen gw di phonebook hape pake gaya sticky caps... baru di 2 orang pertama gw langsung gagal. Ide gw abis. Mentok. Nama-nama yang ada di hape gw semuanya normal. Terus terang aja waktu itu gw justru ngerasa 'norak' lho karena ga bisa ikut-ikutan temen gw yang rata-rata gayanya kreatif abis bisa nulis sticky caps kek gitu. Rasanya otak gw ga nyampe buat ikutan sticky caps... LOL.

Well, my point is... rata-rata yang membuat sticky caps ini adalah para ABG atau yang ngerasa masih berjiwa ABG dan menyebar di kalangan mereka yang nyaman dengan sticky caps ini. Kalau ga ngerti, yaudah cuekin aja tulisannya. Buat apa lo semua koar-koar "alay, alay" sementara lo sendiri belum tentu tulisannya udah EYD.

2. Pakaian atau gaya yang sedikit 'ngotot' dalam lifestyle (maksudnya baju atau apa pun itu yang ikutan mainstream atau justru ga ikutan mainstream sama sekali).
In my honest opinion, it's all just a matter of taste. Kalau lo emang ga suka sama style pakaiannya seseorang atau selera musiknya, yang katanya sok barat-lah, sok melayu-lah, sok jepang-lah, sok korea-lah, sok hip hop, sok dangdut... sama sekali ga ada abisnya. Karena itu semua balik lagi ke selera masing-masing. Kalau temen lo emang suka sama lagu ST12, ngapain lo jadi sensi? Nyaris 75% penduduk Indonesia suka sama lagu-lagunya ST12 atau kangen band, buktinya album mereka laku keras baik yang resmi maupun ga resmi (alias bajakan). Don't judge people by their looks. Tampang mereka emang bukan model blasteran super ganteng tapi apa itu berarti lo tiba-tiba jadi 'sok kota' dengan mengatakan bahwa mereka band 'alay'? Masalah pakaian juga, just because some people have different taste, doesn't make them 'less' than you. Mungkin karena mereka emang ga bisa memadupadankan warna, bentuk jahitan baju dengan potongan badan, atau mungkin karena korban fashion, pengen gaya tapi seadanya. Apapun alasannya, hanya karena orang ga cocok seleranya dengan LO, doesn't make them any less than YOU!

3. Ini bikin gw kasian sekaligus sensi. Tentang kegaptekan beberapa orang lantas mereka dicap 'alay' oleh mereka yang udah ngerti atau emang kehidupan sehari-harinya berkutat di sekitar internet atau emang hobinya make gadget. Kenapa kasian? Soalnya mereka-mereka ini yang baru-baru ini belajar internet, rame-rame bikin facebook, tiba-tiba nabung buat beli gadget yang fungsinya aja ga tau tapi karena temen-temennya pada rame ngomongin tiba-tiba jadi pengen... mereka-mereka ini bukannya 'norak' (for some people to say it) tapi mereka ingin bisa. Ingin belajar, ingin bisa ngobrolin hal-hal yang sama kek temen-temennya yang lain. Kalaupun mereka ga pengen ya... berarti mereka emang ga tertarik aja. What I'm trying to say here is... just cos they are in the process of learning, doesn't give you the right to underestimate them. Just give them some time to learn the basics and they'll surprisingly (probably) going to turned out to be better than you. Dan kenapa gw sensi : yah, karena pada dasarnya gw ga punya kesabaran untuk ngajarin orang-orang tentang apapun. LOL.

So the bottom line is... just because some people have different interest than you, doesn't give you any RIGHT to judge, underestimate, or even to say... that they are 'alay'.

Sekian dan terima kasih. :)

Jumat, Oktober 02, 2009

50 Universal Truths About Men

1. Why should I remind you that “I love you?” I already told you once.

2. I’ll do anything for sex; even commit to you for life.

3. I hate arguing with you. I’d much rather find a compromise.

4. I love long hair. Sorry, but I do.

5. When you speak softly, I can’t help but listen.

6. I need to be told “no” sometimes. Not a lot, but every now and again reminds me that you are expensive.

7. Please don’t ask me how you look unless you’re willing to trust my answer.

8. My eyes notice other women a lot more when you are upset with me.

9. When you’re happy with me I can’t help but want to please you.

10. If I don’t feel I can make you happy, it makes me feel less than a man.

11. I expect you to be ready when I pick you up.

12. Cigarettes make any woman look cheap and easy.

13. I'm scared if I let a woman inside my heart, she'll take advantage of me.

14. If you can’t stand up to me when I’m a brat, you’re too weak for me to open up to when I’m upset.

15. Sitting quietly next to me after you’ve made me a meal is your get-out-of-the-doghouse-free ticket. You’ll be surprised how quickly I can forgive.

16. You did something hurtful. If I never bring it up, I’m considering leaving you.

17. I don’t read minds. Remember, I’m not a girl.

18. You may know fashion, but I wish you’d dress to please me, not other women.

19. If I’m losing my hair, it’s not funny. Would you like me to joke about your weight?

20. When I talk to you about golf and you act bored, it would be nice for you to remember all the times I listened to you talk about what is important to you.

26. I need some type of signal or cue to walk across the room and approach you. What if you’re married!?

27. It makes me feel like you trust me when you ask for my advice.

28. It feels competitive when you insist on being in charge.

29. Being respected is more important to me that being loved.

30. I want every guy to envy me when we arrive as a couple. Please don’t let yourself go.

31. When I’m upset I am very tone sensitive. How you say it is more important that what you say..

32. I hate it when you minimize/ignore my compliments. It makes me what to stop giving them.

33. I’m more insecure than you think. Why do you think I need your respect so much?

34. I don’t always know how I feel. That’s why I don’t tell you.

35. I don’t need you to do things for me. What I crave is being able to please you.

36. If I do one thing and say something contradictory – Go with my actions, that will always tell you what’s in my heart.

37. I find myself wanting to please you when you simply smile at me without asking for something. (Like a favor).

38. I really don’t want to hear about any of your ex-boyfriends, regardless of the point.

39. If I don’t share what I’m thinking it’s because I don’t think you will listen without interrupting.

40. I don’t like to argue and I don’t like to guess what’s wrong. Just tell me so I can fix it.

41. I love it when you put your hair in a pony tail. Yes, it’s a Freudian thing.

42. Don’t ask me, “Are you going to wear that?” when I’m already dressed.

43. A gentleman should always be respected by his lady in public, even if she is disagreeing with him.

44. If you don’t believe you’re pretty, you won’t believe me when I tell you, no matter how many times I say it.

45. It isn’t how much your weigh; what's attractive is whether body is proportionate.

46. Sometimes I have weird and strange thoughts. I don’t take them seriously and I don’t want to share them with you (or anyone).

47. Sometimes you really don’t want to know what I’m thinking. See above.

48. If you cheat on me, it is nearly impossible for me to get over it.

49. I don’t remember everything about our relationship and that doesn’t mean I don’t love you.

50. I need some time to myself to calm down when I’m upset so that I don’t say something I will regret.