Senin, Oktober 12, 2009

arts and students

New day, new entry. Sebenarnya gw males isi blog tapi klo lagi weekend di rumah ga ada kerjaan bawaannya pengen ngenet aja makanya gw bikin entri blog ini di rumah pas weekend biarpun post entri ini di hari senin setelah gw ketemu dengan net kantor. =D

Oh, well, siang ini saat gw sedang menonton acara tipi (insert di transtv) yang menampilkan artis dan tatto, Giring Nidji stated that, "[...] tatto kan seni ya, namanya juga seniman [...]" And then it hit me. Gw keingetan tiba-tiba dengan anak-anak IKJ, mahasiswa jurusan seni yang merasa 'wajib' untuk memanjangkan rambut, digimbal, di-tatto, kuku kelingking (atau semuanya sekalian) dipanjangin sampe melengkung, jenggotan, kutuan, dsb. Itu semua katanya karena mereka 'seniman'. Yea, right.

Apa coba hubungannya antara seni dan rambut gimbal ga pernah dicuci? Apa coba hubungannya seni dengan kumis jenggot panjang berantakan sama muka kucel kek ga pernah mandi dan cukuran seumur-umur? 'Mengekspresikan diri' katanya? Atau cuma rebellation dari peraturan nyokap yang mengukung di rumah yang ngebawel suruh potong rambut, gunting kuku dan cukur jenggot? Ha! Very funny.

Jika anda adalah seorang mahasiswa seni jurusan seni rupa yang memfokuskan diri pada pembuatan patung atau lukisan, i don't think your beird would do you any good except if you want to use your long beird as a paint brush for your paintings. Jika anda mahasiswa seni musik, i don't think your unwashed face would do you any good in dancing, singing or creating music except the uneasy feeling of itchyness all over your body and that awefull oily face too.

Orang mempresentasikan diri dengan cara yang berbeda-beda. Jika mahasiswa seni memilih untuk mengekspresikan diri dengan cara memanjangkan rambut, menumbuhkan jenggot dan kumis (serta bulu ketek) liar, tampil kucel and the kumel dengan baju gombrong robek-robek, itu mah terserah aja tapi jangan mengatasnamakan 'pengekspresian seniman'. Kenapa? Karena seniman itu adalah orang yang mendalami seni. Seni sendiri ga ada hubungannya sama sekali dengan 'jorok'. Aduh plis deh. Coba liat dunk seniman asli yang ada di Eropa, Amerika atau negara Asia lainnya, mereka semua pake baju rapi, rambut kalaupun gondrong tapi masih rapi dan in reality, setelah anda lulus dari jurusan seni itu... dunia kerja menuntut anda untuk 'merapikan' diri. Bahkan dunia advertising dan broadcasting yang rata-rata membebaskan para pekerjanya untuk tetep gondrong dengan kumis dan jenggot pun tetep aja memberlakukan rules 'bebas, rapi'. Siapa yang mau kerja sama orang yang kucel and the kumel lagian?

Gw sebenernya menanti-nantikan adanya orang yang tampil di depan gw dengan pakaian yang rapi, rambut pendek, kuku pendek normal, ga wangi juga ga apa-apa tapi mengatakan kalau dirinya adalah mahasiswa seni dengan pembawaan diri yang pede. It just would seem... different than the 'normal image' of an art student.

Gw bukan mahasiswa seni, gw bahkan ga gitu ngerti tentang what is so called 'art' by some people. But i do know 1 thing : being an artist doesn't necessarily means having tattoo, ripped clothing, unwashed long hair, dirty long curvy nails, and oily faces. Being an artist student doesn't always mean to look like a poor market preman. LOL.

1 komentar:

Gingerry Kojappo mengatakan...

ntu pasti seniman yang beraliran traditional punk-rock *baca : tukang kerok tradisional* *ganyambung xDD*

dosen seni gw rapih banget, keliatan banget kalo jiwanya udah nyeni walopun tampilannya sangat teramat simple. i adore her.