Jumat, April 29, 2011

PNS? I hate it!!!

So when I was checking my twitter timeline this morning, I find out that @mrshananto, the famous financial planner on twitter, is tweeting about PNS... and their salary. Being a PNS, I read all her tweets (naturally).

mrshananto Ligwina Hananto
Good morning tweeps! Selama PNS dibayar spt buruh, selama itu jg mrk kerja gak ky abdi negara ;) 
mrshananto Ligwina Hananto
@matasapi ridiculous salary of 1mio/mo, how do u expect people to work properly? Kl buruh ada overtime, freshgrad ada career move, PNS? 
mrshananto Ligwina Hananto
I'm happy to see progress. PNS ada yg gajinya udh 12jutaan - special cases. Paling gak u org itu bisa hidup layak. But majority struggles 
AiIsFachri FACHRI HARIZONA
@mrshananto emang 2,4 ++ itu gaji buruh ya mba ? 
mrshananto Ligwina Hananto
@AiIsFachri buruh dg overtime bs besar dr itu :(

I was like : !!!!!!

mrshananto Ligwina Hananto
@matasapi jengkel liat "sabetan" itu. Kl mau korupsi hilang, "survival mode" nya jg hrs hilang. Mau gak mau salary structure hrs bgs jg 
mrshananto Ligwina Hananto
2juta? RT @tonymarpaung: PNS yg take home pay 1jt tamatan SMP/SMA. klo sarjana pasti lbh besar 
mrshananto Ligwina Hananto
Di mana? Msk yg special cases Deplu Pajak gt? Pemda gak segitu RT @tonymarpaung: 4-5 jt. fresh graduate. hampir sama dgn swasta kan? 
mrshananto Ligwina Hananto
A true reform will be reform in PNS remuneration package. Who will be the next president to do that? ;) 
mrshananto Ligwina Hananto
Nice, not enough RT @dewi_boiman: polisi baru gajinya uudah lbh dr 1jt koq win,tamatan SMA,kt nya sih biar gak 'cari' keluar 
mrshananto Ligwina Hananto
RT @lindarosiyani: di puskesmas jakarta utara cpns gapok 1,4 (80%) dan kalau udah pns bisa dapat 4jt an.. 
mrshananto Ligwina Hananto
Ouch :( RT @amandasoebadi: guru honorer SD negri, fulltime gajinya cm 800rb! Memang sih "honorer," but that's less than my maid's salary! 
mrshananto Ligwina Hananto
True but we got start somewhere RT @efmirza: Jml PNS terlalu bnyk, beban kerja tdk merata, kalo gaji besar terlalu bebani APBN

mrshananto Ligwina Hananto
Nah gaji buruh dong, beda tipis sm UMR RT @aditasno: masa sih?Di standar biaya umum kementerian se-Indonesia 1.375.000 kok. 
mrshananto Ligwina Hananto
Betul tp jdnya kt bs blg 'gak ada alasan lo' RT @rseptiani: kemenkeu udah dari 2006, tp org pajak yg stdnya paling tinggi tetep aja korup, makin parah malah. 
mrshananto Ligwina Hananto
Liat lg: " Selama PNS dibayar spt buruh, selama itu jg mrk kerja gak ky abdi negara" jd kl ada yg gaji udh ok, kt bs nuntut kerja lbh bagus! 
mrshananto Ligwina Hananto
I've said it many times. Finance is foundation to political thinking. Gak bs mikirin korupsi tanpa mikirin PNS itu gajinya udh layak apa blm 
mrshananto Ligwina Hananto
RT @admonike: PNS dianggap padat karya, hire tll byk u nampung pengangguran akhirnya gaji kcl. Mesti kelola scr prof. Hire sesuai kemampuan 
mrshananto Ligwina Hananto
Gw pernah ya ada klien PNS dokter mengeluh gaji kcl. Sm QMPlanner ditanya : terus knp msh terus jd PNS? Akhirnya dia keluar :p *colek klien* 
mrshananto Ligwina Hananto
RT @dbrahmantyo: saat ini yg sdh mendapatkan remunerasi dgn pendekatan prestasi kerja ada: Kemenkeu, BPK, MA, Setneg dan Sekkab (1)

mrshananto Ligwina Hananto
@efmirza @Rustini tugas negara menyediakan lap.kerja itu dg regulasi & swasta bukan dg PNS 
mrshananto Ligwina Hananto
RT @astie92: PNS yg hidup di kota besar spt Jkt mungkin majority struggles ttp yg di kota kecil mrk hidup cukup layak dan berkecukupan

again : !!!!!!!

mrshananto Ligwina Hananto
@mbaknana ada PNS yg gajinya udh 5jt, 12jt, bukan pejabat tinggi. Pendekatan gaji berdasar review kerjaan
mrshananto Ligwina Hananto
Love the fact that a lot of you CARE about PNS salary & corruption. There's hope for this country's future. We will take a different stand
 Sumpah ya gw baca ini rasanya pengen nangis!!!

My salary is really-really low. Ini kerja di daerah yang katanya adalah terluas se-Jawa-Bali (bangga lagi!!! Apa yang mau dibanggain sih sebenernya?! Luas wilayah?! Bukan kinerja?!) ya wajar aja klo jumlah PNS-nya banyak, beban kerja ga merata, PAD-nya ga merata karena daerah yang berbatasan dengan Kota Sukabumi dan Kabupaten Bogor pasti lebih banyak PAD-nya daripada daerah yang bener-bener jauh di daerah selatan seperti Jampang, Surade, dst.

Gaji gw waktu jadi honorer lulusan SMA : Rp. 300.000,- (Pengen nangis klo diinget sekarang) padahal sebelumnya gw kerja di Jakarta dapet gaji dua kali lipat dari itu, untuk lulusan SMA!!

Dua tahun berikutnya, gaji gw naik (nunggu dua tahun!! Honorer lain mesti nunggu ampe 10 tahun kali!!) jadi Rp. 500.000,- Cukup? Ini bahkan lebih kecil dari pada gaji buruh di pabrik-pabrik sekitaran Kabupaten, FYI. Ketika gaji gw naik, UMR buruh swasta itu Rp. 600.000,- dengan overtime mereka bisa dapet Rp. 1.000.000,- dengan mudah. PNS? Ada sistem overtime? Hahah! You kidding me? We don't even have THR. Yes! Ketika swasta diregulasi diwajibkan untuk memberikan pegawainya THR dengan itungan 1 bulan gaji, PNS tidak diberikan kemewahan yang sama. Alasannya : 'kan udah ada gaji ke-13...' I say : MAKAN TUH GAJI KE 13! Biar gimana pun, alasan ada gaji ke 13 adalah untuk membantu para PNS untuk menyediakan pendidikan yang baik untuk anak-anaknya, makanya gaji ke 13 sekitar bulan Juni biar pas dengan waktu masuk sekolah. Lah, terus pas lebaran dikiranya kita disuruh makan nasi aking?! Dah tau pas lebaran semua barang harganya naik! Trus apa yang terjadi? Sistem survival masuk. Kebanyakan tujuan korupsi yang sistemnya sentralisasi (iya, bener sentralisasi! Klo menurut salah satu mantan rekan kerja gw yang dah pensiun, korupsi berjamaah) itu adalah untuk menyediakan para pegawai masing-masing kantor ketika waktu lebaran tiba. Kita kan lebaran ga cuma sekali, dua kali sama lebaran idul adha. Sumpah, ya ini lebaran ga ada halal2nya sedikit pun.

Ketika gw akhirnya diangkat jadi PNS berkat aturan dari Gus Dur (ya sebenernya ga mungkin pemda terus-terusan mengadakan sistem honorer, dan ga mungkin kan honorer semua dipecat, ya akhirnya harus diangkat semua jadi PNS secara berkala), tau gaji gw berapa? Rp. 1.200.000,- Puas? Oh, tentu tidak.
Hampir semua orang yang diangkat bareng sama gw ketika itu gajinya JAUH diatas gw. Bahkan yang sama-sama golongan II/a (karena gw MASIH lulusan SMA ketika diangkat) pun gajinya diatas gw. Kenapa? Karena mereka punya tunjangan istri/suami dan anak. Gw yang masih single tunjangan keluarganya ya 0 dong. Trus tunjangan beras dihitung perjiwa jadi ya jiwanya cuma 1 ya diitungnya 1, padahal gw nanggung kehidupan seluruh keluarga gw yang itungannya adalah ya orang tua gw. Padahal, kalau mau main itung-itungan.... Kinerja gw dibanding semua honorer yang diangkat bareng sama gw di kantor yang sama digabungin jadi satu masih mending kinerja gw. JAUH! Buktinya gw masih CPNS tapi dah disuruh jadi Bendahara Pengeluaran (keputusan yang gw sesali kenapa gw setujui sampe sekarang). Untuk jadi Bendahara Pengeluaran itu ga mudah. Butuh kemampuan dan kepercayaan dari atasan. Terbukti biarpun gw punya kemampuan dan kepercayaan dari atasan, will power gw minus, jadi gw batal meneruskan jadi Bendahara. Cukup 8 bulan aja. 8 month of hell, i tell ya!

Sekarang ada kenaikan gaji pula 10% dan tinggal 1 kali naik gaji lagi 5% gaji PNS naik 100% dari semenjak orde baru (kasian banget ya?) Tau gaji gw berapa? Rp. 1.400.000,- itu gw masih CPNS 80% belum 100%. Kurang? BANGET! FYI, Ayu yang kerja di perusahaan asing itu dapet Rp. 5.000.000,- BERSIH sebulan. Lian yang jadi dosen di Binus? Kurang lebih sama. Gw? Minder gigit bantal. Karena gw yakin dan percaya sama diri sendiri kalau sebenernya gw bisa dapet penghasilan yang kurang lebih sama dengan mereka. Hanya karena ketika gw terjebak jadi PNS gw belum punya ijazah S1 sehingga gw harus struggle jadi honorer sampai akhirnya gw dapet ijazah S1 gw ketika gw sudah jadi CPNS. Padahal kalau gw masih belum diangkat ketika gw lulus S1, gw rencananya mau quit my job and move back to Jakarta and start making a better living.

Kenapa orang pengen jadi PNS? Karena kerjaannya santai, pensiun terjamin dan jaminan ga akan pernah dipecat kecuali jika kena kasus super berat (misalnya masuk penjara atau kasus narkoba dan korupsi yang diekspos media. Kalo ga diekspos media, masuk penjara karena kasus narkoba pun ga akan dipecat. Contoh kasus: it really did happen to someone at my office). Padahal kenyataannya menurut sudut pandang gw sebagai PNS : kerjaan santai tapi semakin santai anda berarti semakin sedikit duit anda dan semakin jelas betapa anda sangat tidak berguna di kantor. Semakin sibuk berarti semakin banyak kerjaan yang berarti semakin banyak honor dari kegiatan sana sini dan pembuktian bahwa kantor bisa ga jalan cuma gara-gara anda ga masuk sehari. Semakin sibuk = semakin penting posisinya di kantor (biarpun bukan pejabat tapi cuma pelaksana, malah justru biasanya yang cuma pelaksana itu yang paling sibuk sekantor dan paling dicari-cari dan duitnya bisa yang paling banyak dibanding pelaksana atau pejabat lain).

Pensiun terjamin? Hah! Pensiun itu kecil jumlahnya. Apalagi kalau anda pensiun disaat belom jadi apa-apa. Cuma tetep jadi pelaksana dari sejak masuk sampe pensiun (banyak banget yang kayak gitu, emang ga punya ambisi aja kali atau karena ga punya kenalan pejabat meureun). Ini peraturan terbaru tentang besaran pensiun PNS : UU No. 11 Tahun 1969 tentang Pensiun Pegawai dan Pensiun Janda/Duda Pegawai


Pasal 11
Besarnya pensiun pegawai. 
(1) Besarnya pensiun pegawai sebulan adalah 2 ½ % (dua setengah
perseratus) dari dasar pensiun untuk tiap-tiap tahun masa kerja, dengan
ketentuan bahwa : 
a. pensiun pegawai sebulan adalah sebanyak-banyaknya 75 % (tujuh
puluh lima perseratus) dan sekurang-kurangnya 40 % (empat puluh
perseratus) dari dasar pensiun; 
b. pensiun pegawai sebulan dalam hal termaksud dalam pasal 9 ayat
(1) huruf b Undang-undang ini adalah sebesar 75 % (tujuh puluh lima
perseratus) dari dasar pensiun; 
c. pensiun pegawai sebulan tidak boleh kurang dari gaji pokok terendah
menurut Peraturan Pemerintah tentang gaji dan pangkat yang
berlaku bagi pegawai negeri yang bersangkutan

Lalu dasar pensiun itu apa? Berdasarkan pasal 5 dari UU yang sama :

Pasal 5 
Tentang  dasar  pensiun. 
 Dasar pensiun yang dipakai untuk menentukan besarnya  pensiun,
ialah gaji pokok  (termasuk gaji pokok tambahan dan/atau gaji pokok
tambahan peralihan) terakhir sebulan yang berhak diterima oleh pegawai
yang  berkepentingan berdasarkan peraturan gaji yang  berlaku baginya.

Seandainya lo pensiun dengan gaji bersih sebesar Rp. 3.521.000,- pun itu bukan gaji gaji pokoknya lho. Itu dah termasuk tunjangan keluarga, tunjangan pajak, tunjangan beras, dsb. Palingan gaji pokok lo sekitar Rp. 2.283.000,- dan 75% nya adalah Rp. 1.712.250,-. Segitu gw masukin gaji salah satu pegawai kantor gw yang kebetulan adalah pejabat. Bayangin kalau yang pensiun adalah pelaksana seumur-umur dengan gaji bersih sebesar 2jutaan. Gaji pokoknya palingan cuma 1,2jt-an dan dia cuma nerima pensiun 900rb-an/bulan. Bayangin pas pensiun itu para PNS itu masih punya anak yang masih kuliah, masih sekolah dengan jumlah anak diatas 2 orang. Cukup? Mau ngarepin pensiun? Seriously? Sementara temen-temen gw yang lain bisa ngatur pension plan dengan asuransi dan bisa dapetin pensiun hari tua dari asuransi itu berkali-kali lipat dari yang diperoleh PNS. 

Dibilang ga puas, iya gw ga puas. Banyak hal yang harus diperhatikan sementara gw ngerasa pemerintahan itu baik legislatif maupun eksekutif kadang bertindak super childish yang cuma mentingin diri sendiri dan agak clueless sambil meraba-raba tanpa sadar kalau ada 250juta jiwa dibelakang mereka, mengekor dan mengikuti mereka. Setiap aturan yang mereka buat, setiap keputusan yang mereka buat itu menentukan sekitar 250juta jiwa itu. Don't even get me started with the DPR RI and the DPRD member who is so called the people representative. Yea, right. Mereka tujuannya cuma satu kok : balik modal. Udah. Sukur-sukur bisa dipilih ulang pas pemilihan berikutnya. Mana sih mereka pernah mikirin orang-orang yang mereka wakilin?

Ah, capek gw! I'm stuck here.

Tolong lah itu remunerisasi diberlakukan segera. I want what is rightfully mine. I don't want this 'rajin males sama aja' thingy. I seriously don't. If I work hard, I want to be acknowledge. Is it so hard?

Kamis, April 28, 2011

Kau tahu?

Aku bosan.
Sejujurnya kukatakan kalau aku ini sedang bosan.
Aku ingin melakukan sesuatu.
Kenapa aku tidak bergerak.
Kau tahu?

Aku ingin berbicara denganmu, merajut kata dan membuat kenangan.
Kenyataannya? Kau selalu mengacuhkanku. Membuatku kesal.
Aku ini bukan pajangan, bukan pula pemain figuran.
Apa karena aku kurang memperhatikanmu?
Atau karena aku terlalu memperhatikanmu?
Aku kurang menyenangkan?
Sedikit freaky?

Well, I'd love to tell you that I was born this way a la Lady Gaga but the truth is, I am only adjusting to the people I'm facing.
U sucks, dearest.

Aku bosan.
Kau tahu?

Aku ingin bermain, tapi kau tak peduli.

Tapi yah... memangnya siapa yang peduli padaku?
Toh dari awal aku juga tidak peduli kepada siapapun.
Why should they care?

Aku ingin kembali sibuk.
Aku ingin kembali hanya peduli pada diriku sendiri dan hal-hal disekitarku.
Aku ingin dikangeni.
Apa itu berarti aku harus menghilang dulu?
Wah, padahal aku tidak harus jauh untuk terasa jauh.
Kenyataannya, aku memang jauh biarpun kita sedang berdiri bersebelahan.

Sudahlah.

Mari kembali ke kenyataan.

Kenyataan bahwa kebanyakan cowok itu memang jarang ada yang punya niat yang benar.
Masa mau temenan aja ngajak make out dulu?
Kampret emang!

Senin, April 25, 2011

Butuh Distraction

Kau tahu? Ketika kau merasa sedikit left out dan tidak nyambung dengan teman-temanmu dan mulai meributkan hal tersebut di dalam kepalamu?

Kupikir itu waktunya cari-cari kerjaan yang bisa bikin sibuk. Itu tandanya saya kurang kerjaan dan mulai mikirin yang nggak-nggak.

Okeh! Let's get busy! *celingukan cari sapu ma lap pel*

Minggu, April 17, 2011

Saying NO!


It's hard you know, to say no.

I found that I admire people who have the guts to say no to whatever that they're not pleased with. Its a rare kind of people. Harus dilestarikan. Lol! I know a few people who say 'no' with no doubt. One of them is Sigi. This girl is really one of a kind. She's not afraid of people not liking her if she say 'no' to whatever it is that is not comfortable to her. Even if people thinks she's annoying, I think she would just say "by all means! Go ahead. Hate me." People respect her cos she has the guts to speak up her mind. Some are envious (that would be me).

I have this need to be likable. Another thing is, I don't want to get into trouble. I also don't want to have enemies. I have this kind of attitude for years! Its killing me in the inside, honestly. Now I know better. I feel like if I don't say 'no', I'd be torture inside out! So I say 'no' at times, and I can't say 'no' at times. Depends on who's asking.

Just having the guts to say NO! Would save you, you know?

Jumat, April 15, 2011

change

Jadi ceritanya gw mengamati pasangan2 yang ada di sekitar gw, juga tipe2 orang yang lagi pdkt ma gw. Ada 1 hal yang menarik perhatian gw: they are trying to 'change' their partner to what they think is better/best for them.

Gw ga ngerti. Mungkin agak freak tapi selama gw punya pacar, ga pernah sekalipun gw berusaha mengubah cowok gw atau komplain tentang apapun. Mungkin bagi mantan2 gw, gw terkesan cuek atau ga peduli, juga buat orang2 di sekitar gw tapi... The truth is, i just don't want to change them. In return, i don't want to be changed by them. In my mind, if u are willing to change yourself, it would be best if its not because of me but because you yourself who wants to change. I mean, even if i want to tell my partner 'do this, don't do that' would he do it? How do i know for sure? Does he do it for his own sake, or just to make me stop nagging him?

Ketika gw menerima seseorang untuk menjadi bagian dari hidup gw, gw menerima dia dengan seutuhnya, ga cuma bagusnya, jeleknya juga. Tentu saja teori lebih indah daripada prakteknya tapi gw bener2 berusaha untuk menerima kekurangan pasangan gw. Makanya gw jarang komplen. Gw nyindir. Biar sadar ndiri gitu maksudnya. Gw ga bawel sama hal2 kecil yang ga terlalu prinsip yang penting hidup gw ga terganggu.

Please look at me as being sincere instead of lacking attention.

Kamis, April 14, 2011

alone?

Its fine!

Being alone is fine. Really. I'm being serious here. Maksudnya bukan alone apa-apa, tapi berkaitan dengan tweetnya Sari yang intinya mengatakan kalau kita bisa marah, kesel dan berantem sama ortu kita tapi bayangkan betapa sedihnya kalau kita wisuda, menikah dan melahirkan anak tanpa kehadiran mereka. To which i reply : 'biasa aja tuh #nomention'

Well, as some people would know, cos i share this story with them, my parents didn't show up at my graduation a.k.a wisuda. As they didn't show up at my sister graduation, me and my sister high school graduation, me and my sister middle school and elementary graduation. They didn't make any effort of me trying to go to umptn (its what it called at the time) or even help me with the registration with any of my or my sister school and college.

I took care of everything myself. Me and my sister, we take care of each other. I don't know what would happen in the future but 1 thing i know for sure, if me or my sister ever get married, i'll take care of everything myself and i am the one who will take care of my sister's wedding.

It got nothing to do with love, regret or anything like that. I have always take care of myself and my little sister since i can remember. Now that i earn my own money, i take care of my parents too. Its about being responsible and obligated to be the backbone of the family. Most of the people i know never know how it feels and probably will never know. I don't blame 'em. I'm just sharing what cross my mind when i read that oh-so-naive-tweet. Oh, well.

Selasa, April 12, 2011

My First Crush

Jadi ini ceritanya sebenernya agak lucu karena sejujurnya gw mengakui klo gw ini baru sekali suka sama cowok dan baru terjadi ketika gw berumur 23 tahun... Yah, abisnya namanya tinggal di daerah, vibe-nya jauh beda dari cowok-cowok lokal disini jadi gw jarang ngerasa chemistry yang langsung match dan bikin gw langsung suka sama itu cowok. Gw sih udah pacaran beberapa kali, memang.. Tapi pacaran bukan berarti gw suka ama cowok gw itu kan? Hahah! Jahat banget ya gw?

Klo ga salah inget sih cowok itu umurnya sekitar 5 tahun lebih tua dari gw jadi umurnya waktu itu sekitar 28 tahun. Pertemuan kita berdua itu agak aneh. Ceritanya gw lagi berdiri aja gitu bengong ketika jam pulang kantor, nungguin tebengan ketika tiba-tiba gw didorong-dorong sama temen kantor gw yang kebetulan kita emang deket. Temen kantor gw yang PNS ini adalah lulusan STPDN, dan cowok ini juga lulusan STPDN. Lulusan STPDN itu ikatan alumninya deket banget jadi mereka apal siapa-siapa aja lulusan STPDN yang ada di Kab. Sukabumi dari tiap angkatan. Nah, kebetulan karena temen kantor gw kenal deket jadilah gw didorong-dorong ga jelas. Mungkin maksudnya ngejodohin, tapi kok aneh banget? Tapi ya temen kantor gw ini (cowok) emang agak childish sih, makanya cocok ma gw hahah (dah merit dan punya anak 1 tapi childishnya ga ketulungan).

Nah, pas gw ketemu sama cowok ini gw cuma senyum dikit dan salaman lalu ikut nebeng mobilnya bareng ibu-ibu satu kantor yang juga ikut nebeng (ni cowok ga sekantor ma gw, yaelah klo gw nebeng sendirian padahal baru kenal kan ga mungkin juga). Lucunya, sepanjang jalan gw nebeng ama dia, ni cowok ga pernah sekalipun ngomong atau nengok ke arah gw tapi gw ngerasa ada chemistry sama ni cowok, dan besoknya gw tau klo chemistry ini jalannya mutual. Besoknya gw ketemu dia lagi, kita langsung cocok. He was my first crush. Gw denger dari mulutnya sendiri kalau dia udah punya istri, anak satu dan satu lagi on the way. Istri dan anaknya lagi di bandung karena istrinya ngambil S2. Semakin gw denger ceritanya, semakin gw kenal orangnya, semakin gw ngerasain kejujurannya, jujur, gw malah makin suka. Tapi ya, ga mungkin lah. Hahah! Sejujurnya... gw ditolak. Buhuhuhu! Yaelah, gw gitu loh! Ditolak! Gila ya, pas ditolak rasanya dada gw membuncah sama rasa suka yang malah makin-makin. Dia nolak gw dengan alasan klo dia ga mungkin nyakitin istrinya. Gw suka banget dengan sikap dia yang kek gitu. Itu artinya dia setia sama istrinya dan kesetiaannya itu bener-bener sangat impressive! Semua tentang cowok ini sangat impressive buat gw. Baru kali ini gw ketemu sama cowok yang bener-bener memenuhi semua standar gw dan melampaui itu semua. Sayang gw ketemunya pas dia udah merit.

Gw terinspirasi buat bikin entry ini setelah gw baca tweet ini:

@hitmansystem Ego kamu harus LEBIH besar :) RT @fauzangemblung: @hitmansystem gimana caranya ngatasin wanita yg EGOnya super besar?

Ni cowok... punya ego paling besar yang pernah gw temuin. Pas gw kenal sama dia dikit-dikit, gw terkesan sama egonya yang keknya paling guede sedunia. Dia sombong! He loves to brag... But that's why I like him. He brags but he brags about stuff that he knows that already happen and will happen to his life. He knows what he wants, he knows how to get it, and he knows that he WILL get it. 


My first ever crush. I wish I'll meet someone like him again.

Minggu, April 10, 2011

Oke, fine...

Gw tau diri lah.. :))

Well, I'll see you when I see you :D

Jumat, April 08, 2011

head turner

Jadi ceritanya begini... Secara tiba-tiba gw mulai merhatiin penampilan gw lagi. I put more attention on my make up, i started wearing heels again, and what do you know? I am a head turner again.

Head turner is when a girl so stunning, every man would follow her movement with his eyes followed with his head. He'll watch the girl till she's out of his sight.

I'm not being overconfident or making things up. Its the truth! I don't care if people would think i'm a snob or something. Its the truth. Its not all about the make up or sexy clothing to be a head turner, you know? Its not like i'm doing it on purpose. I'm wearing hijab, the purpose of hijab is NOT to be a head turner.

Its all about the attitude.

If you look pretty, you feel pretty, you walk with confidence, other people would look at you and say, 'ah, she's so pretty...,'
If you look pretty but you don't feel pretty and you're not confident with yourself, who would even think you're pretty? Apparently, even yourself doesn't think you're pretty.

Anyway, it feels good to be a head turner once again. It should happen more often. Lol!

Rabu, April 06, 2011

Tattoo

Nadia.

Nama itu tertoreh di kulit lenganku dengan tinta permanen. Semua orang yang melihat tatoku akan merasa heran. Aku memang bukan tipe orang yang terkesan akan mempunyai tato. Wajahku bersih tanpa tindikan, berkacamata, selalu mengenakan kemeja dan celana bahan yang rapi, sering terlihat melakukan percakapan serius dan jauh dari kesan 'normal' seorang yang bertato. Aku sering melihat orang-orang dengan steorotype berandalan, pemabuk, preman, dan sejenisnya. Mereka semua pasti mempunyai tato. Entah sebagai tanda kekuasaan geng mereka, sebagai reminisi dari kesan 'macho berotot, banyak bacot gw bacok' atau mungkin hanya iseng saja sebagai pelengkap style punk mereka dengan berbagai tindikan mulai dari tindikan anting yang melubangi telinga sebesar mur sampai tindikan di lidah.

Komentar-komentar orang beragam tentang tatoku.

"Nadia itu pacarmu, ya?"

"Astaghfirullah! Dulu lo preman ya?"

"Preman tobat, lo?"

"Nadia siapa? Cewek lo?"

"Tatonya ada lagi ga, bang? Tato naga."

"Sakit ga tuh ditato?"

Semua kujawab dengan senyuman acuh.

Aku tidak peduli dengan semua komentar orang dan tatapan sinis yang kuterima dari orang-orang jika tak sengaja lengan kemejaku tersingkap, memperlihatkan nama itu ke semua orang. Aku mencoba sebaik mungkin untuk menyembunyikan tato itu dari pandangan publik meskipun tak ayal kadang tato itu tertangkap oleh pandangan mata orang dan sejuta tanya langsung tersirat dari mereka.

Aku mengelus lengan dimana tatoku berada. Ada yang bertanya, kenapa tatoku itu tidak kuhapus saja? Toh, ada banyak tempat yang menawarkan penghapusan tato permanen menggunakan sinar laser. Agak mahal tapi cukup aman. Lagipula bukannya aku tidak sanggup membayar jasa kosmetik itu. Bukan soal itu. Ini bukan soal itu. Aku menggeleng sambil tersenyum acuh seperti biasa. Orang-orang akan memandangku dengan pandangan bertanya-tanya. Geregetan, mungkin.

Karena tidak pernah mendengar jawaban yang jelas dari mulutku, gosip pun merebak. Kebetulan aku kuliah dimana nama Nadia adalah sebuah nama yang cukup umum. Salah satu dari gadis-gadis yang bernama Nadia itu adalah seorang primadona kampus. Banyak rumor berkembang tentang aku yang sengaja mentato tanganku dengan namanya karena terobsesi dan jatuh cinta setengah mati padanya. Bahkan rumor itu berkembang seakan-akan aku adalah stalker (penguntit.red) Nadia. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa jadi aku hanya bisa menggelengkan kepalaku heran. Berita tentang tatoku tersebar pesat. Semua orang menatapku dengan tatapan aneh. Mereka sengaja melirik ke arah lenganku dan berusaha mengintip menembus kain pakaianku untuk melihat tato bertuliskan 'Nadia' disitu.

Suatu hari gadis bernama Nadia itu tiba-tiba muncul didepanku. Aku tergagap. Dia cantik, sangat cantik. Pantas menjadi primadona kampus. Aku terpana melihatnya. Gadis itu memandangiku dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan heran. Mungkin ia merasa heran kenapa cowok culun sepertiku berani-beraninya jatuh cinta padanya dan mempunyai tato bertuliskan namanya. Ia berjalan mendekatiku.

"Kamu yang namanya Farid?"

"Iya,"

"Mana tatonya? Ada nama gw kan disitu?"

"Eh? Lebih baik ga usah dilihat,"

"Lo mau gw tuntut dengan tuduhan stalker, he?"

Aku diam, menggelengkan kepala lalu melangkah pergi. Nadia meraih tanganku, mencegahku untuk berjalan menghindar. Ia terlihat penasaran. Tangannya meraba lengan kemejaku, berusaha mengungkap tato misteri itu. Aku bergerak maju. Tatapanku mendadak terlihat tegas dan galak. Tanganku yang mencegah tangan Nadia untuk menguak lengan kemejaku pasti terasa kuat dan kasar bagi gadis kurus itu. Aku menyentak tangannya sambil tetap menatapnya. Ia terlihat kaget. Aku geram. Tanpa melihat ke belakang aku pun melangkah pergi. Nadia sepertinya terlalu kaget untuk mencoba mencegahku untuk melangkah pergi tapi aku tidak peduli.

Beberapa hari berlalu tanpa insiden berarti. Orang-orang sudah tidak terlalu penasaran dengan tatoku dan mereka hanya mengacuhkanku seperti biasa. Aku menjalani hari-hariku tanpa beban... seperti biasa. Sampai suatu hari yang tampaknya akan mulai dengan biasa, tapi ternyata menjadi diluar kebiasaan, seorang Nadia berdiri di depan pintu kostku. Ia mengangguk dan tersenyum ramah. Aku agak terkejut tapi membalasnya dengan kesantunan yang sama. Ia mengajakku untuk berjalan bersama ke kampus dan aku menyetujui dengan agak canggung. Orang-orang memperhatikan kami yang jalan beriringan. Beberapa memberikan pandangan sinis, terutama para penggemar Nadia yang diam-diam maupun yang terang-terangan. Nadia terlihat tidak keberatan berjalan berdampingan denganku dan kami membahas tentang beberapa dosen dan mata kuliah yang kebetulan sama. Ternyata Nadia seorang perempuan biasa saja (meskipun menurutku kecantikannya cukup luar biasa). Aku merasa nyaman ketika selesai kuliah Nadia mengajakku untuk pulang bersama.

Rutinitas kami berlangsung selama beberapa hari. Nadia beberapa kali menanyakan tentang tatoku secara selewat tapi aku tidak pernah menjawabnya. Aku tahu Nadia berusaha mendekatiku karena dia penasaran dengan tato yang ada di tanganku tapi aku tidak pernah menjawab pertanyaan itu dan sepertinya ia malah tidak pernah lepas dari sisiku karena semakin penasaran dengan tatoku. Aku membiarkan saja Nadia berada disisiku, menjalani rutinitas yang sama setiap hari. Hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan dan bulan menjadi tahun. Nadia tetap berada disisiku. Meskipun ia sempat berpacaran dengan laki-laki lain tapi dia selalu kembali kesisiku.

Diam-diam, gantian aku yang menjadi penasaran. Kenapa Nadia tetap berada disisiku? Selama tahun-tahun kami bersama, tidak mungkin tidak kami menumbuhkan sebuah perasaan tertentu. Tapi anehnya, meskipun kami sudah lama bersama, Nadia tetap bertanya tentang tatoku. Ia masih penasaran. Aku pun penasaran.

Apakah Nadia tetap bersamaku karena dia masih belum mendengar cerita tentang tatoku, tentang satu-satunya bagian dari hidupku yang belum diketahui gadis yang kini menjadi sahabat tak terpisahkanku itu? Atau karena dia merasa nyaman bersamaku? Aku penasaran, apakah setelah ia tahu rahasia dibalik tatoku itu ia akan pergi meninggalkanku karena merasa bahwa ia sudah mengenalku luar dalam dan tidak lagi merasa ada misteri yang perlu dikuak? Aku penasaran karena dia masih penasaran.

Suatu hari yang sejuk, aku dan Nadia sedang duduk bersama di salah satu kafe langganan kami. Salah satu rutinitas kami di hari minggu, menghabiskan sore hari di kafe itu, saling mengobrol dan bertukar cerita.

"Nad, kamu masih penasaran dengan tatoku?"

"Masih,"

"Kenapa?"

"Karena kamu tidak pernah memberitahu apa arti tatomu itu,"

"Kalau aku tidak pernah cerita?"

"Ya, aku masih akan terus penasaran,"

"Kalau aku cerita?"

Dia terdiam lama.

"Aku belum pernah memikirkan hal itu. Ya, mungkin hidup akan berjalan seperti biasa,"

Gantian aku yang terdiam lama.

Aku tersenyum lalu mengganti topik pembicaraan.

Waktu berlalu. Kami tumbuh bersama dan menjadi tak terpisahkan. Nadia menjadi istriku. Jika aku melihat ke belakang, aku merasa bahwa semua ini cukup lucu. Bagaimana mungkin seorang yang culun seperti aku dulu bisa mempunyai seorang sahabat, kekasih dan kini istri seperti seorang Nadia? Seperti mimpi. Semua ini jalinan takdir. Takdir yang terurai dari sebuah tato bertuliskan sebuah nama. Tato itu terus menempel di lenganku sampai aku menjadi tua dan keriput. Nadia tentu saja sempat bertanya-tanya pada semua relasi dan keluarga terdekatku tentang asal muasal tatoku tapi mereka semua menjawab hal yang sama; mereka tidak tahu. Aku tahu Nadia masih penasaran, kadang aku merasa dia agak cemburu karena takut nama Nadia itu adalah mantan pacarku yang mempunyai nama yang sama seperti dirinya. Aku hanya tersenyum acuh. Seperti biasa.

Kini aku telah tiada, meninggalkan seorang istri yang cantik, anak-anak yang menawan dan cucu-cucu yang luar biasa. Ketika aku merasa waktuku sudah dekat, aku meninggalkan sepucuk surat untuk istriku. Aku memberitahunya, dengan nafas berat terakhirku, bahwa dalam surat itu aku menjelaskan darimana asal usul tatoku. Nadia menangis. Aku pun ikut menangis. Kami berdua menangis ketika jiwaku meninggalkan ragaku. Aku bisa merasakan bahwa Nadia mencintaiku selama tahun-tahun kami bersama, tulus tanpa beban. Tapi aku penasaran. Aku penasaran apakah dia masih penasaran. Aku masih bisa melihat, mendengar dan merasa sebelum jiwaku melanjutkan perjalanannya ke arah yang semestinya. Aku melihat Nadia mengelus surat yang kuberikan kepadanya. Aku bisa mendengar dia menangisi surat terakhir yang kuberikan kepadanya. Aku merasakan getaran kebimbangan pada surat yang kutinggalkan untuknya.

Surat itu ikut dikubur denganku. Masih tersegel. Belum pernah dibuka meskipun dengan jejak-jejak airmata di permukaannya yang putih mulus. Rahasia itu ikut terkubur bersamaku. Rahasia sebuah tato bernama Nadia. Ternyata Nadia sudah tidak lagi penasaran. Aku lega karena aku pun tidak lagi penasaran. Nadia mencintaiku karena aku, bukan karena dia penasaran.

Senin, April 04, 2011

Kesadaranku telah kembali. Aku kembali dari peraduanku. Mimpiku samar-samar teringat untuk kemudian terlupakan dalam hitungan menit. Aku masih memejamkan mata, terlalu malas untuk melihat dunia. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang kulakukan semalam, siapa yang terakhir kulihat, apa yang terakhir kumakan dan kuminum. Entah kenapa aku hanya mengingat secara samar-samar. Aku mencoba mengingat jam berapa aku tidur, menghitung berapa jam aku tertidur dan menyesali betapa sedikitnya waktu yang kupakai untuk mengistirahatkan mata yang perih serta badan yang letih.

Lupa.

Kenapa aku lupa?

Masih dalam posisi terlentang dan memejamkan mata, aku mengerutkan kening. Aku berusaha mengingat-ingat semua yang terlupa. Aku berusaha mengenang kenangan terakhirku. Kenangan terakhirku adalah saat aku sarapan di rumah, bertengkar dengan ibuku yang cerewet tentang sepatu apa yang akan kupakai, melengos ketika ayahku menyuruhku untuk berhati-hati di jalan dan mereject telepon dari adikku yang menyebalkan. Aku terlalu sibuk dengan tugas kuliah. Semua isi pikiranku hanya berkutat seputar tugas yang diberikan dosen statistik super galak bernama Bu Ratna. Si ibu itu selalu saja memberikan tugas-tugas yang nyaris mustahil bagiku untuk diselesaikan sendirian. Memikirkannya lagi saja sudah membuatku berkeringat dingin.

Aku mengingat-ingat teman-temanku. Aku bisa melihat mereka tapi anehnya hanya badannya saja lengkap dengan pakaian khas anak kuliah dan tas ransel butut, tapi wajahnya tak terlihat. Kepala mereka dimana wajah dan rambut mereka seharusnya terlihat jelas, di bayanganku wajahnya hanya terlihat buram dan tidak jelas. Seperti ada yang menghapus wajah mereka dengan kuas blur di photoshop. Sekali lagi aku mengerutkan kening, berusaha mengingat wajah mereka. Gagal. Aku masih memejamkan mata. Untukku jauh lebih gampang jika aku mencoba mengingat sambil memejamkan mata daripada sebaliknya. Jika matanya terbuka, aku biasanya jadi gampang terdistraksi. Jika aku membuka mataku sekarang dan malah melihat jam, aku akan teringat dengan tugas-tugas kuliahku yang belum dikerjakan karena selalu kutunda-tunda. Jika aku membuka mataku dan melihat isi lemari, aku akan teringat bahwa aku harus berbelanja karena baju-bajuku sudah sangat ketinggalan jaman dan aku harus membeli sepatu lucu merk Gosh yang kulihat di mall kemarin. Jika aku membuka mataku dan melihat wajah ibuku, aku jadi ada keinginan untuk berteriak dan berontak, menentang setiap kata yang keluar dari mulut ibu lalu menghabiskan waktu dengan bertengkar. Kalau itu semua terjadi, bagaimana aku bisa fokus mengingat-ingat wajah teman-temanku?

Oh! Aku teringat sesuatu... Aku dan teman-temanku kan suka saling berfoto-foto di hpku. Seperti teman-temanku yang lain aku juga suka main facebook. Rasanya tidak lengkap kalau tidak minimal sehari aku dan teman-temanku saling mengambil foto kami yang sedang iseng dan diupload ke situs pertemanan itu. Aku malah punya beberapa teman yang lebih dekat ketika kami chat di facebook daripada ketika bertemu langsung. Ah, betapa bodohnya diriku. Hal yang se-simple ini saja sampai harus diributkan segala (meskipun hanya dalam kepalaku saja, sih).

Tanganku bergerak. Meraih-raih ke tempat aku biasa menaruh hp. Di samping bantal. Agar aku bisa mendengar siapapun yang sms dan telpon. Aku harus selalu terhubung dengan dunia. Paling tidak begitu pikirku, dan diamini oleh teman-temanku. Indera perasaku di ujung-ujung jari menemukan keanehan. Kasurku tidak terasa. Bantalku tidak terasa. Apalagi hpku. Anehnya punggungku tidak terasa pegal meskipun berdasarkan indera perasaku, aku merasa seperti sedang tidur di permukaan yang datar dan rata. Aku berpikir (masih dengan mata yang terpejam) bahwa mungkin aku sedang tertidur di lantai saking capeknya. Lantainya tidak terasa dingin, badannya tidak terasa kaku. Aku merasa aneh.

Aku berpikir, berpikir dan terus berpikir. Ini hari apa? Senin? Aku sudah tertidur selama berapa lama? Ini sudah jam berapa? Aku harus buru-buru. Telat ke kampus nanti. Banyak yang harus kukerjakan hari ini. Perlahan, aku membuka mata. Aku memerjapkan mata beberapa kali. Kok masih gelap? Ini masih malam? Aku sebenarnya kapan tidurnya? Selama berapa lama?

Akhirnya aku menggerakkan tubuhku. Aku berusaha bangun. Masih gelap. Aku berusaha meraba-raba. Mencari-cari saklar lampu. Aku berjalan dengan langkah bayi, berusaha mencari saklar lampu tanpa tersandung meja atau terhantam kasur. Kamarku sempit. Lama-lama aku terheran-heran. Aku sudah berjalan dan berjalan tapi masih belum menemukan saklar lampu. Aku ini sedang berada di kamar atau di tempat lain? Kalau ini benar kamarku, harusnya aku sudah menghantam tembok dari sejak 5 menit yang lalu.

Aku mulai panik. Ini terlalu gelap, terlalu kosong, terlalu sunyi. Aku hanya bisa mendengar suara nafasku sendiri yang lama-lama mulai memburu. Aku berusaha menenangkan diri. Mungkin aku diculik dan dikurung di suatu gudang. Pikiranku penuh dengan teori konspirasi mulai dari yang paling memungkinkan sampai yang paling absurd. Aku menghabiskan waktu entah berapa lama hanya untuk memikirkan teori-teori labil itu. Perlahan, air mata mulai mengalir. Aku mulai terisak-isak. Aku kangen iPodku. Disini terlalu sunyi. Aku kangen TV dan DVD playerku. Disini terlalu kosong. Aku kangen komputerku dan internetku. Disini aku sendirian. Aku kangen lampu kamarku. Disini terlalu gelap.

Isakanku mengeras. Aku terus menerus menangis sampai mataku terasa perih dan badanku lemas. Aku takut. Sumpah, aku takut. Aku ingin berbicara. Aku harus berbicara. Rasanya aku mau jadi gila!

"Ge-gelap... Aku ingin terang,"

Seketika itu juga aku melihat cahaya berpendar dari ujung sana. Satu persatu lampu neon ukuran besar berwarna putih menyala di langit-langit yang tinggi, menerangi ruangan dimana aku disekap. Aku terheran-heran melihat apa yang sedang kulihat saat ini. Ini begitu absurd! Jutaan lampu neon menyala, menerangi sebuah ruangan tak berujung berwarna putih. Putih. Putih yang begitu sempurna. Seperti film Matrix! Bukan broken white, bukan krem, bukan putih kusam, tapi warna putih yang benar-benar putih. Menyilaukan.

Penerangan itu menjawab kenapa aku tidak menabrak tembok sedari tadi. Memang tidak ada tembok. Tidak ada pembatas, yang ada hanyalah lantai berwarna putih dan langit-langit yang terang benderang dengan neon, tanpa tembok, tanpa pembatas. Tuhan. Apa-apaan ini?! Dan yang paling aneh, aku baru saja menyebut kata 'Tuhan'. Sudah lama aku lupa dengan kata itu. Aku sudah lupa kenapa aku sampai lupa dengan Tuhan. Saking lamanya! Tapi saat melihat keabsurd-an yang paling absurd dari semua keabsurd-an yang pernah kulihat, tanpa sadar aku memikirkan 'Tuhan'. Tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan apa yang sedang dilihatnya selain kata 'Tuhan'....

Aku berseru. Memanggil ibu, ayah, adikku, pamanku, bibiku, pembantuku, tetangga sebelah, semua satu persatu nama teman-temanku, siapapun yang bisa teringat olehku. Aku hanya bisa mendengar suaraku sendiri. Suaraku bahkan tidak bergema. Berarti ruangan ini memang tidak ada batasnya. Aku berusaha berfikir rasional. Kalau aku berjalan cukup jauh, berarti aku pasti bisa menemukan ujungnya. Aku bisa mencari cara untuk kabur asal aku bisa menemukan sebuah dinding. Baiklah, aku pasti bisa.

Lalu aku mulai berjalan mencari dinding. Aku berjalan selama entah berapa lama, tapi yang jelas aku berjalan sampai kakiku terasa pegal. Mataku nanar menatap warna putih tak berujung. Tak sepotongpun warna lain selain warna kulitku. Bahkan pakaianku pun berwarna putih. Sebuah kaus dan celana kain berwarna putih. Nyaman tapi freaky. Aku yakin aku tidak punya kaos dan celana panjang kain berwarna putih ini. Aku beristirahat setiap kali aku merasa lelah. Tak sekalipun aku merasa haus dan lapar tapi aku belum merasa aneh. Aku tertidur tanpa sadar setiap kali aku merasa terlalu letih dan setiap kali aku membuka mata, aku berdoa agar aku terbangun di kamarku, mendengar suara ibuku yang akan terdengar seperti nyanyian surga saat ini, sentuhan kehangatan matahari yang akan terlihat seperti cahaya surga setelah beberapa waktu di tempat ini. Aku tidak lagi kangen TV, DVD, komputer, hp, iPod dan semua barang elektronik itu. Aku kangen warna. Aku kangen warna hijau tanaman, aku kangen warna orange matahari, aku kangen warna coklat kayu, aku kangen warna biru dinding kamarku. Aku kangen suara. Aku kangen suara ibuku yang cempreng dan tak ada habisnya, suara ayah yang jarang terdengar tapi sangat berat dan berwibawa, suara adikku yang bagaikan duplikat suara ibuku. Aku bahkan kangen suara kokokan ayam jantan di ujung jalan serta suara gonggongan anjing yang membuatnya tak bisa tidur setiap malam. Aku kangen suara adzan di mesjid setiap beberapa jam. Aku kangen....

Aku menangis. Menangis dan menangis...

Tuhan.

Aku telah mati? Aku mati? Tapi kenapa aku dibiarkan sendirian seperti ini? Apakah aku sangat berdosa? Aku kangen keluargaku, Tuhan. Aku kangen hidup! Tuhan, seandainya pun aku telah mati, jangan kau hiraukan aku seperti ini. Hukum aku, lihatlah aku. Aku tidak ingin sendiri.

Tuhan, jangan kau palingkan dirimu dariku. Maafkan aku telah memalingkan diri darimu dan semua orang disekitarku. Maaf ibu, maaf ayah, maaf adek, maaf.... Tuhan.

"Dek. Adek! Bangun! Kamu kenapa? Mimpi buruk ya? Nangisnya kenceng banget... Udah, gak apa-apa," Suara ibu terdengar menenangkan. Nyaman. Aku bermimpi? Mataku masih terpejam. Air mata masih mengalir di pipiku dan dari sela-sela mataku, tapi aku sudah tidak lagi terisak-isak. Suara ibu terdengar bagaikan denting surga.

Aku membuka mata. Aku melihat wajah ibu. Aku menangis lagi.

Aku pulang.

Sabtu, April 02, 2011

sms indosat

Kmu harus hubungi *465*2# dr HP kmu SEKARANG JUGA,krn segera dipilih kandidat utk JLN2 KE INGGRIS ketemu dgn pemain2 CHELSEA FC, GRATIS+uang saku total Rp1,4M!

Yea, right..

Jumat, April 01, 2011

the way it is

So i was blogwalking to @leonisecret blog at www.leonisecret.com where on her latest post, she talk about overcoming the difficulties of life, to ignore the bullies and reinvent urself so u can conquer the world and be more confident, menggunakan sesuatu yang kita takuti atau kita anggap sebagai kelemahan dan diubah menjadi kelebihan kita. Its really an inspiring and a well written piece.

Speaking about bullies, it actually remind me of my childhood. Dari dulu gw selalu jadi anak pendiam kesayangan guru. I would always sit in a corner and read something. I was a nerd and i was even wearing a nerd glasses (it wasn't really a trendy thing back then). But i wasn't born that way. I used to be that cheerful popular kid at my first elementary school, but then i transfer school and get depressed cos i just realized that i don't adapt to new environment very well (till this day). Not to mention i got bully at this new school... Makes it even more unbearable. I really don't want to share why i got bullied cos... Damnit its so stupid!

I promise myself that i'll start a new me when i got to middle school. And it went well, actually. I got good grades and active with school organizations. I was a bit stressed out cos i was an alien in elementary school and suddenly i have so many things that i have to do and none of it feels familiar. Thank god i found some friends at middle school.

But than... I have to switch school... Again.

Being an outcast... Again.

Have i told u that i don't adapt well with new environment?

I went to high school with a fresh start, it felt like middle school again. I got good grades and was active at school organization. I didn't switch to another school so i was safe all the way through high school. All the people at my school were very nice, but there was one event that i still remember till this day. It was when telenovela was a big hit, and Betty La Fea was one popular telenovela. It was when an exam where we sit on seperate tables and someone wrote 'Betty La Fea' on my desk. A big joke.

Fyi, i never feel that i'm ugly. I was insecure with myself, yes. But i always know that i'm not ugly. I wasn't mad cos someone wrote 'Betty La Fea' on my desk cos on the telenovela itself, Betty wasn't ugly, she was just untakencare (tidak terurus.red) of. Cos she was poor, she can't afford those fancy clothes and make up the other girls are wearing. She's not ugly, she's just poor.

The story of mylife. I'm not ugly, i'm just poor. I hate bullies cos they just don't get it. They thought that i choose to wear my outfit and glasses that way. Well, don't they know that i do want to wear new freshly made uniforms, not the leftovers from my older sister (who is shorter than me), i do want to wear a nice glasses, not the one which i wore from elementary school cos i'm too poor to buy a new one, i do want to buy new shoes, socks, bags, EVERYTHING, but i CAN'T because i'm THAT poor.

Now, i make my own money. I didn't regret my past cos i am who i am because of my past.