Senin, April 04, 2011

Kesadaranku telah kembali. Aku kembali dari peraduanku. Mimpiku samar-samar teringat untuk kemudian terlupakan dalam hitungan menit. Aku masih memejamkan mata, terlalu malas untuk melihat dunia. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang kulakukan semalam, siapa yang terakhir kulihat, apa yang terakhir kumakan dan kuminum. Entah kenapa aku hanya mengingat secara samar-samar. Aku mencoba mengingat jam berapa aku tidur, menghitung berapa jam aku tertidur dan menyesali betapa sedikitnya waktu yang kupakai untuk mengistirahatkan mata yang perih serta badan yang letih.

Lupa.

Kenapa aku lupa?

Masih dalam posisi terlentang dan memejamkan mata, aku mengerutkan kening. Aku berusaha mengingat-ingat semua yang terlupa. Aku berusaha mengenang kenangan terakhirku. Kenangan terakhirku adalah saat aku sarapan di rumah, bertengkar dengan ibuku yang cerewet tentang sepatu apa yang akan kupakai, melengos ketika ayahku menyuruhku untuk berhati-hati di jalan dan mereject telepon dari adikku yang menyebalkan. Aku terlalu sibuk dengan tugas kuliah. Semua isi pikiranku hanya berkutat seputar tugas yang diberikan dosen statistik super galak bernama Bu Ratna. Si ibu itu selalu saja memberikan tugas-tugas yang nyaris mustahil bagiku untuk diselesaikan sendirian. Memikirkannya lagi saja sudah membuatku berkeringat dingin.

Aku mengingat-ingat teman-temanku. Aku bisa melihat mereka tapi anehnya hanya badannya saja lengkap dengan pakaian khas anak kuliah dan tas ransel butut, tapi wajahnya tak terlihat. Kepala mereka dimana wajah dan rambut mereka seharusnya terlihat jelas, di bayanganku wajahnya hanya terlihat buram dan tidak jelas. Seperti ada yang menghapus wajah mereka dengan kuas blur di photoshop. Sekali lagi aku mengerutkan kening, berusaha mengingat wajah mereka. Gagal. Aku masih memejamkan mata. Untukku jauh lebih gampang jika aku mencoba mengingat sambil memejamkan mata daripada sebaliknya. Jika matanya terbuka, aku biasanya jadi gampang terdistraksi. Jika aku membuka mataku sekarang dan malah melihat jam, aku akan teringat dengan tugas-tugas kuliahku yang belum dikerjakan karena selalu kutunda-tunda. Jika aku membuka mataku dan melihat isi lemari, aku akan teringat bahwa aku harus berbelanja karena baju-bajuku sudah sangat ketinggalan jaman dan aku harus membeli sepatu lucu merk Gosh yang kulihat di mall kemarin. Jika aku membuka mataku dan melihat wajah ibuku, aku jadi ada keinginan untuk berteriak dan berontak, menentang setiap kata yang keluar dari mulut ibu lalu menghabiskan waktu dengan bertengkar. Kalau itu semua terjadi, bagaimana aku bisa fokus mengingat-ingat wajah teman-temanku?

Oh! Aku teringat sesuatu... Aku dan teman-temanku kan suka saling berfoto-foto di hpku. Seperti teman-temanku yang lain aku juga suka main facebook. Rasanya tidak lengkap kalau tidak minimal sehari aku dan teman-temanku saling mengambil foto kami yang sedang iseng dan diupload ke situs pertemanan itu. Aku malah punya beberapa teman yang lebih dekat ketika kami chat di facebook daripada ketika bertemu langsung. Ah, betapa bodohnya diriku. Hal yang se-simple ini saja sampai harus diributkan segala (meskipun hanya dalam kepalaku saja, sih).

Tanganku bergerak. Meraih-raih ke tempat aku biasa menaruh hp. Di samping bantal. Agar aku bisa mendengar siapapun yang sms dan telpon. Aku harus selalu terhubung dengan dunia. Paling tidak begitu pikirku, dan diamini oleh teman-temanku. Indera perasaku di ujung-ujung jari menemukan keanehan. Kasurku tidak terasa. Bantalku tidak terasa. Apalagi hpku. Anehnya punggungku tidak terasa pegal meskipun berdasarkan indera perasaku, aku merasa seperti sedang tidur di permukaan yang datar dan rata. Aku berpikir (masih dengan mata yang terpejam) bahwa mungkin aku sedang tertidur di lantai saking capeknya. Lantainya tidak terasa dingin, badannya tidak terasa kaku. Aku merasa aneh.

Aku berpikir, berpikir dan terus berpikir. Ini hari apa? Senin? Aku sudah tertidur selama berapa lama? Ini sudah jam berapa? Aku harus buru-buru. Telat ke kampus nanti. Banyak yang harus kukerjakan hari ini. Perlahan, aku membuka mata. Aku memerjapkan mata beberapa kali. Kok masih gelap? Ini masih malam? Aku sebenarnya kapan tidurnya? Selama berapa lama?

Akhirnya aku menggerakkan tubuhku. Aku berusaha bangun. Masih gelap. Aku berusaha meraba-raba. Mencari-cari saklar lampu. Aku berjalan dengan langkah bayi, berusaha mencari saklar lampu tanpa tersandung meja atau terhantam kasur. Kamarku sempit. Lama-lama aku terheran-heran. Aku sudah berjalan dan berjalan tapi masih belum menemukan saklar lampu. Aku ini sedang berada di kamar atau di tempat lain? Kalau ini benar kamarku, harusnya aku sudah menghantam tembok dari sejak 5 menit yang lalu.

Aku mulai panik. Ini terlalu gelap, terlalu kosong, terlalu sunyi. Aku hanya bisa mendengar suara nafasku sendiri yang lama-lama mulai memburu. Aku berusaha menenangkan diri. Mungkin aku diculik dan dikurung di suatu gudang. Pikiranku penuh dengan teori konspirasi mulai dari yang paling memungkinkan sampai yang paling absurd. Aku menghabiskan waktu entah berapa lama hanya untuk memikirkan teori-teori labil itu. Perlahan, air mata mulai mengalir. Aku mulai terisak-isak. Aku kangen iPodku. Disini terlalu sunyi. Aku kangen TV dan DVD playerku. Disini terlalu kosong. Aku kangen komputerku dan internetku. Disini aku sendirian. Aku kangen lampu kamarku. Disini terlalu gelap.

Isakanku mengeras. Aku terus menerus menangis sampai mataku terasa perih dan badanku lemas. Aku takut. Sumpah, aku takut. Aku ingin berbicara. Aku harus berbicara. Rasanya aku mau jadi gila!

"Ge-gelap... Aku ingin terang,"

Seketika itu juga aku melihat cahaya berpendar dari ujung sana. Satu persatu lampu neon ukuran besar berwarna putih menyala di langit-langit yang tinggi, menerangi ruangan dimana aku disekap. Aku terheran-heran melihat apa yang sedang kulihat saat ini. Ini begitu absurd! Jutaan lampu neon menyala, menerangi sebuah ruangan tak berujung berwarna putih. Putih. Putih yang begitu sempurna. Seperti film Matrix! Bukan broken white, bukan krem, bukan putih kusam, tapi warna putih yang benar-benar putih. Menyilaukan.

Penerangan itu menjawab kenapa aku tidak menabrak tembok sedari tadi. Memang tidak ada tembok. Tidak ada pembatas, yang ada hanyalah lantai berwarna putih dan langit-langit yang terang benderang dengan neon, tanpa tembok, tanpa pembatas. Tuhan. Apa-apaan ini?! Dan yang paling aneh, aku baru saja menyebut kata 'Tuhan'. Sudah lama aku lupa dengan kata itu. Aku sudah lupa kenapa aku sampai lupa dengan Tuhan. Saking lamanya! Tapi saat melihat keabsurd-an yang paling absurd dari semua keabsurd-an yang pernah kulihat, tanpa sadar aku memikirkan 'Tuhan'. Tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan apa yang sedang dilihatnya selain kata 'Tuhan'....

Aku berseru. Memanggil ibu, ayah, adikku, pamanku, bibiku, pembantuku, tetangga sebelah, semua satu persatu nama teman-temanku, siapapun yang bisa teringat olehku. Aku hanya bisa mendengar suaraku sendiri. Suaraku bahkan tidak bergema. Berarti ruangan ini memang tidak ada batasnya. Aku berusaha berfikir rasional. Kalau aku berjalan cukup jauh, berarti aku pasti bisa menemukan ujungnya. Aku bisa mencari cara untuk kabur asal aku bisa menemukan sebuah dinding. Baiklah, aku pasti bisa.

Lalu aku mulai berjalan mencari dinding. Aku berjalan selama entah berapa lama, tapi yang jelas aku berjalan sampai kakiku terasa pegal. Mataku nanar menatap warna putih tak berujung. Tak sepotongpun warna lain selain warna kulitku. Bahkan pakaianku pun berwarna putih. Sebuah kaus dan celana kain berwarna putih. Nyaman tapi freaky. Aku yakin aku tidak punya kaos dan celana panjang kain berwarna putih ini. Aku beristirahat setiap kali aku merasa lelah. Tak sekalipun aku merasa haus dan lapar tapi aku belum merasa aneh. Aku tertidur tanpa sadar setiap kali aku merasa terlalu letih dan setiap kali aku membuka mata, aku berdoa agar aku terbangun di kamarku, mendengar suara ibuku yang akan terdengar seperti nyanyian surga saat ini, sentuhan kehangatan matahari yang akan terlihat seperti cahaya surga setelah beberapa waktu di tempat ini. Aku tidak lagi kangen TV, DVD, komputer, hp, iPod dan semua barang elektronik itu. Aku kangen warna. Aku kangen warna hijau tanaman, aku kangen warna orange matahari, aku kangen warna coklat kayu, aku kangen warna biru dinding kamarku. Aku kangen suara. Aku kangen suara ibuku yang cempreng dan tak ada habisnya, suara ayah yang jarang terdengar tapi sangat berat dan berwibawa, suara adikku yang bagaikan duplikat suara ibuku. Aku bahkan kangen suara kokokan ayam jantan di ujung jalan serta suara gonggongan anjing yang membuatnya tak bisa tidur setiap malam. Aku kangen suara adzan di mesjid setiap beberapa jam. Aku kangen....

Aku menangis. Menangis dan menangis...

Tuhan.

Aku telah mati? Aku mati? Tapi kenapa aku dibiarkan sendirian seperti ini? Apakah aku sangat berdosa? Aku kangen keluargaku, Tuhan. Aku kangen hidup! Tuhan, seandainya pun aku telah mati, jangan kau hiraukan aku seperti ini. Hukum aku, lihatlah aku. Aku tidak ingin sendiri.

Tuhan, jangan kau palingkan dirimu dariku. Maafkan aku telah memalingkan diri darimu dan semua orang disekitarku. Maaf ibu, maaf ayah, maaf adek, maaf.... Tuhan.

"Dek. Adek! Bangun! Kamu kenapa? Mimpi buruk ya? Nangisnya kenceng banget... Udah, gak apa-apa," Suara ibu terdengar menenangkan. Nyaman. Aku bermimpi? Mataku masih terpejam. Air mata masih mengalir di pipiku dan dari sela-sela mataku, tapi aku sudah tidak lagi terisak-isak. Suara ibu terdengar bagaikan denting surga.

Aku membuka mata. Aku melihat wajah ibu. Aku menangis lagi.

Aku pulang.

Tidak ada komentar: