Rabu, April 06, 2011

Tattoo

Nadia.

Nama itu tertoreh di kulit lenganku dengan tinta permanen. Semua orang yang melihat tatoku akan merasa heran. Aku memang bukan tipe orang yang terkesan akan mempunyai tato. Wajahku bersih tanpa tindikan, berkacamata, selalu mengenakan kemeja dan celana bahan yang rapi, sering terlihat melakukan percakapan serius dan jauh dari kesan 'normal' seorang yang bertato. Aku sering melihat orang-orang dengan steorotype berandalan, pemabuk, preman, dan sejenisnya. Mereka semua pasti mempunyai tato. Entah sebagai tanda kekuasaan geng mereka, sebagai reminisi dari kesan 'macho berotot, banyak bacot gw bacok' atau mungkin hanya iseng saja sebagai pelengkap style punk mereka dengan berbagai tindikan mulai dari tindikan anting yang melubangi telinga sebesar mur sampai tindikan di lidah.

Komentar-komentar orang beragam tentang tatoku.

"Nadia itu pacarmu, ya?"

"Astaghfirullah! Dulu lo preman ya?"

"Preman tobat, lo?"

"Nadia siapa? Cewek lo?"

"Tatonya ada lagi ga, bang? Tato naga."

"Sakit ga tuh ditato?"

Semua kujawab dengan senyuman acuh.

Aku tidak peduli dengan semua komentar orang dan tatapan sinis yang kuterima dari orang-orang jika tak sengaja lengan kemejaku tersingkap, memperlihatkan nama itu ke semua orang. Aku mencoba sebaik mungkin untuk menyembunyikan tato itu dari pandangan publik meskipun tak ayal kadang tato itu tertangkap oleh pandangan mata orang dan sejuta tanya langsung tersirat dari mereka.

Aku mengelus lengan dimana tatoku berada. Ada yang bertanya, kenapa tatoku itu tidak kuhapus saja? Toh, ada banyak tempat yang menawarkan penghapusan tato permanen menggunakan sinar laser. Agak mahal tapi cukup aman. Lagipula bukannya aku tidak sanggup membayar jasa kosmetik itu. Bukan soal itu. Ini bukan soal itu. Aku menggeleng sambil tersenyum acuh seperti biasa. Orang-orang akan memandangku dengan pandangan bertanya-tanya. Geregetan, mungkin.

Karena tidak pernah mendengar jawaban yang jelas dari mulutku, gosip pun merebak. Kebetulan aku kuliah dimana nama Nadia adalah sebuah nama yang cukup umum. Salah satu dari gadis-gadis yang bernama Nadia itu adalah seorang primadona kampus. Banyak rumor berkembang tentang aku yang sengaja mentato tanganku dengan namanya karena terobsesi dan jatuh cinta setengah mati padanya. Bahkan rumor itu berkembang seakan-akan aku adalah stalker (penguntit.red) Nadia. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa jadi aku hanya bisa menggelengkan kepalaku heran. Berita tentang tatoku tersebar pesat. Semua orang menatapku dengan tatapan aneh. Mereka sengaja melirik ke arah lenganku dan berusaha mengintip menembus kain pakaianku untuk melihat tato bertuliskan 'Nadia' disitu.

Suatu hari gadis bernama Nadia itu tiba-tiba muncul didepanku. Aku tergagap. Dia cantik, sangat cantik. Pantas menjadi primadona kampus. Aku terpana melihatnya. Gadis itu memandangiku dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan heran. Mungkin ia merasa heran kenapa cowok culun sepertiku berani-beraninya jatuh cinta padanya dan mempunyai tato bertuliskan namanya. Ia berjalan mendekatiku.

"Kamu yang namanya Farid?"

"Iya,"

"Mana tatonya? Ada nama gw kan disitu?"

"Eh? Lebih baik ga usah dilihat,"

"Lo mau gw tuntut dengan tuduhan stalker, he?"

Aku diam, menggelengkan kepala lalu melangkah pergi. Nadia meraih tanganku, mencegahku untuk berjalan menghindar. Ia terlihat penasaran. Tangannya meraba lengan kemejaku, berusaha mengungkap tato misteri itu. Aku bergerak maju. Tatapanku mendadak terlihat tegas dan galak. Tanganku yang mencegah tangan Nadia untuk menguak lengan kemejaku pasti terasa kuat dan kasar bagi gadis kurus itu. Aku menyentak tangannya sambil tetap menatapnya. Ia terlihat kaget. Aku geram. Tanpa melihat ke belakang aku pun melangkah pergi. Nadia sepertinya terlalu kaget untuk mencoba mencegahku untuk melangkah pergi tapi aku tidak peduli.

Beberapa hari berlalu tanpa insiden berarti. Orang-orang sudah tidak terlalu penasaran dengan tatoku dan mereka hanya mengacuhkanku seperti biasa. Aku menjalani hari-hariku tanpa beban... seperti biasa. Sampai suatu hari yang tampaknya akan mulai dengan biasa, tapi ternyata menjadi diluar kebiasaan, seorang Nadia berdiri di depan pintu kostku. Ia mengangguk dan tersenyum ramah. Aku agak terkejut tapi membalasnya dengan kesantunan yang sama. Ia mengajakku untuk berjalan bersama ke kampus dan aku menyetujui dengan agak canggung. Orang-orang memperhatikan kami yang jalan beriringan. Beberapa memberikan pandangan sinis, terutama para penggemar Nadia yang diam-diam maupun yang terang-terangan. Nadia terlihat tidak keberatan berjalan berdampingan denganku dan kami membahas tentang beberapa dosen dan mata kuliah yang kebetulan sama. Ternyata Nadia seorang perempuan biasa saja (meskipun menurutku kecantikannya cukup luar biasa). Aku merasa nyaman ketika selesai kuliah Nadia mengajakku untuk pulang bersama.

Rutinitas kami berlangsung selama beberapa hari. Nadia beberapa kali menanyakan tentang tatoku secara selewat tapi aku tidak pernah menjawabnya. Aku tahu Nadia berusaha mendekatiku karena dia penasaran dengan tato yang ada di tanganku tapi aku tidak pernah menjawab pertanyaan itu dan sepertinya ia malah tidak pernah lepas dari sisiku karena semakin penasaran dengan tatoku. Aku membiarkan saja Nadia berada disisiku, menjalani rutinitas yang sama setiap hari. Hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan dan bulan menjadi tahun. Nadia tetap berada disisiku. Meskipun ia sempat berpacaran dengan laki-laki lain tapi dia selalu kembali kesisiku.

Diam-diam, gantian aku yang menjadi penasaran. Kenapa Nadia tetap berada disisiku? Selama tahun-tahun kami bersama, tidak mungkin tidak kami menumbuhkan sebuah perasaan tertentu. Tapi anehnya, meskipun kami sudah lama bersama, Nadia tetap bertanya tentang tatoku. Ia masih penasaran. Aku pun penasaran.

Apakah Nadia tetap bersamaku karena dia masih belum mendengar cerita tentang tatoku, tentang satu-satunya bagian dari hidupku yang belum diketahui gadis yang kini menjadi sahabat tak terpisahkanku itu? Atau karena dia merasa nyaman bersamaku? Aku penasaran, apakah setelah ia tahu rahasia dibalik tatoku itu ia akan pergi meninggalkanku karena merasa bahwa ia sudah mengenalku luar dalam dan tidak lagi merasa ada misteri yang perlu dikuak? Aku penasaran karena dia masih penasaran.

Suatu hari yang sejuk, aku dan Nadia sedang duduk bersama di salah satu kafe langganan kami. Salah satu rutinitas kami di hari minggu, menghabiskan sore hari di kafe itu, saling mengobrol dan bertukar cerita.

"Nad, kamu masih penasaran dengan tatoku?"

"Masih,"

"Kenapa?"

"Karena kamu tidak pernah memberitahu apa arti tatomu itu,"

"Kalau aku tidak pernah cerita?"

"Ya, aku masih akan terus penasaran,"

"Kalau aku cerita?"

Dia terdiam lama.

"Aku belum pernah memikirkan hal itu. Ya, mungkin hidup akan berjalan seperti biasa,"

Gantian aku yang terdiam lama.

Aku tersenyum lalu mengganti topik pembicaraan.

Waktu berlalu. Kami tumbuh bersama dan menjadi tak terpisahkan. Nadia menjadi istriku. Jika aku melihat ke belakang, aku merasa bahwa semua ini cukup lucu. Bagaimana mungkin seorang yang culun seperti aku dulu bisa mempunyai seorang sahabat, kekasih dan kini istri seperti seorang Nadia? Seperti mimpi. Semua ini jalinan takdir. Takdir yang terurai dari sebuah tato bertuliskan sebuah nama. Tato itu terus menempel di lenganku sampai aku menjadi tua dan keriput. Nadia tentu saja sempat bertanya-tanya pada semua relasi dan keluarga terdekatku tentang asal muasal tatoku tapi mereka semua menjawab hal yang sama; mereka tidak tahu. Aku tahu Nadia masih penasaran, kadang aku merasa dia agak cemburu karena takut nama Nadia itu adalah mantan pacarku yang mempunyai nama yang sama seperti dirinya. Aku hanya tersenyum acuh. Seperti biasa.

Kini aku telah tiada, meninggalkan seorang istri yang cantik, anak-anak yang menawan dan cucu-cucu yang luar biasa. Ketika aku merasa waktuku sudah dekat, aku meninggalkan sepucuk surat untuk istriku. Aku memberitahunya, dengan nafas berat terakhirku, bahwa dalam surat itu aku menjelaskan darimana asal usul tatoku. Nadia menangis. Aku pun ikut menangis. Kami berdua menangis ketika jiwaku meninggalkan ragaku. Aku bisa merasakan bahwa Nadia mencintaiku selama tahun-tahun kami bersama, tulus tanpa beban. Tapi aku penasaran. Aku penasaran apakah dia masih penasaran. Aku masih bisa melihat, mendengar dan merasa sebelum jiwaku melanjutkan perjalanannya ke arah yang semestinya. Aku melihat Nadia mengelus surat yang kuberikan kepadanya. Aku bisa mendengar dia menangisi surat terakhir yang kuberikan kepadanya. Aku merasakan getaran kebimbangan pada surat yang kutinggalkan untuknya.

Surat itu ikut dikubur denganku. Masih tersegel. Belum pernah dibuka meskipun dengan jejak-jejak airmata di permukaannya yang putih mulus. Rahasia itu ikut terkubur bersamaku. Rahasia sebuah tato bernama Nadia. Ternyata Nadia sudah tidak lagi penasaran. Aku lega karena aku pun tidak lagi penasaran. Nadia mencintaiku karena aku, bukan karena dia penasaran.

Tidak ada komentar: